Prosesi penyematan gelar adat "Baginda Pemuka Bangsa" kepada Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) berlangsung khidmat di Kedatun Keagungan Lampung, Sabtu (27/6). Dalam salah satu rangkaian prosesi, Jokowi duduk di kursi adat Panca Haji sambil menginjak kepala kerbau sebagai simbol pengukuhan gelar adat.
Jokowi tiba di Kedatun Keagungan Lampung dengan disambut payung adat berwarna kuning, merah, dan putih serta iringan para tokoh adat dan masyarakat yang telah menunggu kedatangannya.
Selanjutnya, Jokowi mengikuti seluruh tahapan prosesi adat, mulai dari penyambutan, pembacaan titah adat, hingga penyematan gelar. Pada kesempatan itu, ia mengenakan pakaian adat Lampung berwarna kuning keemasan yang dipadukan dengan kain tapis serta penutup kepala khas Lampung.
Dalam prosesi pengukuhan, Jokowi dipersilakan duduk di kursi adat Panca Haji. Sebagai bagian dari simbolisasi pengangkatan gelar, ia menginjak kepala kerbau yang telah disiapkan oleh penyelenggara adat sebelum prosesi dilanjutkan ke tahapan berikutnya.
Usai penyematan gelar, Jokowi bersama para tokoh adat Lampung mengikuti Tari Ngigel sebagai bagian dari rangkaian upacara adat. Setelah itu, rombongan melanjutkan kegiatan dengan mengunjungi Museum Kedatun Keagungan Lampung.
Prosesi berlangsung sakral dan disaksikan puluhan perwakilan keluarga besar dari berbagai buwai di Provinsi Lampung.
Makna Prosesi AdatSultan Seghayo Dipuncak Nur, Mawardi Harirama, mengatakan gelar "Baginda Pemuka Bangsa" merupakan bentuk penghormatan masyarakat adat Lampung kepada Jokowi atas pengabdiannya sebagai Presiden RI ke-7.
“Baginda Pemuka Bangsa itu tanda penghormatan kepada beliau sebagai Presiden RI ke-7,” kata Mawardi.
Ia menjelaskan, setiap pemberian gelar adat di Keraton Kagungan Lampung selalu disertai doa-doa adat yang mengandung makna filosofis. Menurutnya, prosesi tersebut juga mencerminkan nilai Piil Pesenggiri, khususnya Nemui Nyimah yang menekankan penghormatan kepada tamu sekaligus mempererat tali silaturahmi.
“Ini merupakan prosesi budaya untuk mempererat persatuan dan kesatuan bangsa sekaligus memajukan budaya Lampung,” ujarnya.
Mawardi menambahkan, tradisi pemberian gelar adat yang dahulu dilaksanakan secara sederhana kini dikembangkan menjadi prosesi budaya sebagai bagian dari upaya pelestarian adat Lampung. Dari sudut pandang budaya, ia menilai Jokowi layak menerima penghormatan tersebut setelah mengabdi selama dua periode sebagai presiden.
“Penilaian kami secara budaya tentu baik,” ungkapnya.
Prosesi pengangkatan saudara dan penyematan gelar adat tersebut menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya Lampung sekaligus memperkuat nilai persatuan di tengah masyarakat adat.




