Harga Minyak Mentah Anjlok di Bawah USD 70/Barel Usai Selat Hormuz Dibuka

kumparan.com
11 jam lalu
Cover Berita

Harga minyak mentah anjlok pada Jumat (26/5), menghapus hampir semua keuntungan yang diperoleh selama perang AS dan Iran, karena lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz terus meningkat dan investor memperkirakan pasar akan kelebihan pasokan seiring dengan pulihnya ekspor dari Teluk Persia.

Dikutip dari Bloomberg, minyak mentah Brent turun 4,3 persen menjadi USD 71,99 per barel, dan West Texas Intermediate (WTI) turun 3,7 persen dan ditutup pada harga USD 69,23 per barel. Harga minyak berjangka turun lebih dari 10 persen pekan ini.

Pasar minyak global menunjukkan tanda-tanda kelebihan pasokan dalam waktu dekat karena sebagian besar pasokan dari Timur Tengah yang terputus selama perang kembali ke pasar. Contango pada harga berjangka Brent, sebuah sinyal kelebihan pasokan, melebar pada Jumat ke level terbesar sejak tahun 2023.

Kapal-kapal telah secara terbuka melintasi Selat Hormuz menyusul kemajuan awal menuju kesepakatan permanen untuk mengakhiri perang AS-Iran, yang menambah jutaan barel ke pasar global.

Selain itu, Arab Saudi kembali memuat kapal tanker di terminal Ras Tanura yang menjadi andalannya di Teluk Persia, sebuah pertanda peningkatan produksi yang berkelanjutan di kawasan tersebut karena ekspor secara keseluruhan kini mencapai sekitar 75 persen dari tingkat sebelum perang, menurut perhitungan Bloomberg.

Faktor penawaran yang bearish membantu menghapus reli Kamis yang membuat harga naik lebih dari 2 persen setelah kapal kontainer Ever Lovely dihantam oleh proyektil tak dikenal saat berlayar di tenggara Oman. Harga tetap lebih rendah bahkan setelah Presiden AS Donald Trump menuduh Iran melanggar gencatan senjata dengan menembakkan drone ke kapal-kapal di Hormuz.

Harga sedikit pulih setelah penutupan perdagangan karena militer AS mengkonfirmasi telah melakukan serangan terhadap Iran pada Jumat sebagai balasan atas serangan terhadap kapal kargo komersial di Selat Hormuz. Sementara itu, Organisasi Maritim Internasional mengatakan sedang mempertimbangkan untuk memulai kembali program evakuasi kapal dari Teluk Persia.

“Harga minyak mentah tetap berada di bawah tekanan signifikan karena narasi bearish terus berpusat pada peningkatan arus melalui Selat Hormuz. Meskipun angka transit tampak agak lebih rendah setelah serangan terhadap sebuah kapal kemarin, lalu lintas belum berhenti sepenuhnya," kata trader energi senior CIBC Private Wealth Group, Rebecca Babin.

Serangan pada Kamis mengancam kepercayaan yang rapuh dari pemilik kapal dan awak kapal, tetapi kapal-kapal terus melintas melalui selat sempit tersebut pada Jumat. Dua jalur keluar utama melalui Selat Hormuz telah muncul karena jalur normal di tengahnya diduga telah dipasangi ranjau.

Salah satunya berada di dekat Iran, sementara yang lainnya mengikuti garis pantai Oman dan dilindungi oleh AS. Otoritas Selat Teluk Persia Iran mengatakan pada hari Kamis bahwa setiap transit yang terjadi di jalur di luar kerangka kerjanya tidak akan dilindungi oleh jaminan jalur aman.

Ada kemungkinan bahwa kendala lain akan tetap ada di sekitar Selat Hormuz. Oman telah memberi tahu pejabat Eropa bahwa kapal yang melintas melalui Hormuz mungkin akan dikenakan biaya tertentu, kata orang-orang yang mengetahui masalah ini.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Indef usulkan masa transisi penerapan pungutan pajak lewat marketplace
• 5 jam laluantaranews.com
thumb
Pabrik Jepang Batal Angkat Kaki dari RI, PHK Massal Berhasil Diredam hingga 2030
• 12 menit laluwartaekonomi.co.id
thumb
Bagaimana Mempromosikan Jamu Menjadi Pariwisata Baru?
• 13 jam lalukompas.id
thumb
Mengulas Sejarah Masjid Qiblatain, Tempat Berpindahnya Arah Kiblat Umat Islam  
• 37 menit lalurepublika.co.id
thumb
Konflik Panjang di Tubuh PBNU, Warga Nahdliyin Ingatkan Harmonisasi
• 19 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.