Komunitas Bermain, Tempat Nostalgia Permainan Tradisional Sambil Cari Teman Baru

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Pernah membayangkan kembali memainkan permainan tradisional masa kecil di tengah kesibukan sekarang? Entah sepulang kerja, setelah sekolah, atau sekadar mengisi waktu luang, pengalaman itu bisa ditemukan di Komunitas Bermain, sebuah komunitas yang mewadahi orang-orang untuk bernostalgia lewat berbagai permainan tradisional.

Moy, selaku sekretaris Komunitas Bermain, bercerita bahwa komunitas tersebut lahir dari keinginan sederhana untuk menghidupkan kembali kenangan masa kecil.

“Sebetulnya kita terbentuk karena rasa yang sama. Kita mau nostalgia bareng, ngumpul-ngumpul bareng, dan main permainan tradisional yang dulu kita mainin pas masa kecil,” ujar Moy kepada kumparan saat ditemui di kawasan Gelora Bung Karno (GBK).

Berangkat dari keresahan itu, Komunitas Bermain ingin menghadirkan ruang bagi siapa saja yang ingin sejenak lepas dari rutinitas dan dunia digital.

“Kita sudah terekspos banget sama dunia digital sampai kayak ngelupain memori masa kecil, yaitu main permainan tradisional. Tujuan kita bikin komunitas ini biar jadi wadah teman-teman buat nostalgia dan mungkin bisa nambah teman,” lanjutnya.

Tak hanya menjadi tempat bernostalgia, komunitas ini juga menjadi ruang bertukar cerita mengenai beragam permainan tradisional dari berbagai daerah di Indonesia.

“Mungkin permainan ini disebutnya apa di daerah A, tapi ternyata di daerah B beda. Nah, ini jadi ajang kebersamaan juga, menyatukan berbagai daerah di Indonesia.”

Komunitas Bermain rutin mengadakan kegiatan setiap Jumat pukul 18.00 hingga 21.00 WIB di kawasan GBK. Kegiatan ini gratis dan terbuka untuk umum. Peserta hanya perlu mengisi formulir pendaftaran dengan memindai barcode yang telah disediakan panitia.

Setelah registrasi, peserta akan dibagi ke dalam beberapa kelompok. Masing-masing kelompok akan memainkan permainan tradisional yang berbeda sehingga setiap orang berkesempatan mencoba berbagai jenis permainan.

kumparan pun sempat merasakan langsung pengalaman tersebut. Ada permainan boy-boyan yang mengharuskan pemain menyusun kembali menara sambil menghindari lemparan bola lawan, permainan “game pengkhianat” yang menguji kecepatan membentuk kelompok sesuai angka yang disebut, hingga permainan nostalgia “orang kaya-orang miskin” yang dulu kerap dimainkan saat masih kecil.

Tak hanya itu, masih banyak permainan lain yang bisa dicoba, mulai dari lompat karet, kasti, tak benteng, suit monopoli, hingga ular-ularan.

Pengalaman ini ternyata bukan sekadar bermain. Meski datang tanpa mengenal peserta lain, suasana yang cair membuat setiap orang mudah berbaur. Selama permainan berlangsung, peserta saling bekerja sama, tertawa bersama, bahkan pulang dengan teman-teman baru.

Bermain permainan tradisional bersama orang-orang baru pun menjadi pengalaman yang berkesan. Selain membangkitkan nostalgia masa kecil, kegiatan ini juga menjadi cara sederhana untuk melepas penat dari rutinitas sekaligus memperluas pertemanan.

Jika tertarik mencobanya, teman kumparan bisa mengikuti informasi kegiatan melalui Instagram @komunitasbermain. Tak hanya di Jakarta, Komunitas Bermain juga hadir di berbagai kota seperti Padang, Yogyakarta, Malang, Surabaya, dan Bandung sehingga pengalaman bernostalgia ini bisa dirasakan lebih banyak orang.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Trump Ancam Iran: Bisa “Tidak ada Lagi” Jika Konflik Berlanjut
• 14 jam lalueranasional.com
thumb
Harga Bekas Honda Accord Maestro: Sedan Legendaris yang Pernah Jadi Simbol Kemapanan
• 8 jam laluviva.co.id
thumb
Puncak Gumoh Terjadi di Usia 2–5 Bulan, Ini yang Perlu Diketahui Orang Tua
• 13 jam lalukumparan.com
thumb
Sarpreet Singh, Andalan Selandia Baru di Piala Dunia 2026 yang Dirumorkan Merapat ke PSM Makassar: Pernah Jadi Anak Asuh Darije Kalezic
• 5 jam laluharianfajar
thumb
TPPO Modus Pengantin Pesanan ke China Sasar Perempuan Indramayu
• 6 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.