Bisnis.com, JAKARTA – Pasar melalui semester pertama 2026 dengan berbagai tantangan, utamanya dari sentimen yang timbul dari hasil penilaian penyedia indeks global seperti MSCI dan FTSE.
Indeks harga saham gabungan (IHSG) sejak awal tahun terpangkas 31,81% ke 5.896,14 per penutupan perdagangan Jumat (26/6/2026). Bersamaan dengan koreksi dalam IHSG, pasar juga mencatat net sell asing sebesar Rp71,68 triliun.
Sementara itu, dalam semester kedua 2026 ini, pasar akan menyambut dua agenda besar yang akan memengaruhi kepercayaan dan persepsi investor asing. Pertama, pasar akan menanti MSCI Quarterly Index Review yang dijadwalkan akan diumumkan pada 12 Agustus 2026 dan berlaku efektif pada 1 September 2026.
Analis KB Valbury Sekuritas Khairunnisa N Syahfiraputri dan Anggun Rahmadani dalam risetnya yang terbit 23 Juni 2026 menyatakan bahwa tinjauan ini akan menjadi evaluasi formal pertama MSCI terhadap pasar Indonesia sejak penerapan reformasi penetapan UU P2SK yang baru. Dari hasil tersebut, akan terlihat apakah perbaikan dalam transparansi dan struktur pasar mulai mendapatkan pengakuan dari penyedia indeks global.
Berbeda dengan penyesuaian indeks yang signifikan pada Mei 2026, perubahan konstituen dalam tinjauan MSCI Agustus 2026 nanti diperkirakan relatif terbatas karena masih adanya pembatasan terhadap penambahan saham Indonesia ke indeks, serta tidak adanya perubahan besar dalam peringkat kapitalisasi pasar.
"Namun, perusahaan dengan free float yang tidak memadai, konsentrasi kepemilikan tinggi, atau masalah terkait investabilitas masih berpotensi mengalami penyesuaian, terutama melalui revisi asumsi free float dan bobot dalam indeks," ujar mereka, dikutip Minggu (28/6/2026).
Baca Juga
- IHSG Rawan Longsor Pekan Depan, Rekomendasi Saham BULL hingga CUAN
- IHSG Tinggalkan Level 6.000, Saham-Saham Ini Masih Cuan Banyak
- Daftar 10 Saham Paling Cuan Sepekan saat IHSG Melemah, Dipimpin BHAT hingga MKAP
Menilik persepsi investor yang bisa memengaruhi IHSG, analis melihat fokus utama pasar kemungkinan bukan pada jumlah saham yang masuk atau keluar indeks, melainkan apakah penilaian MSCI mulai mencerminkan kemajuan reformasi regulasi Indonesia.
Menurut mereka, indikasi peningkatan kepercayaan terhadap transparansi kepemilikan, kualitas free float, dan aksesibilitas pasar dapat dianggap sebagai sinyal awal bahwa kekhawatiran struktural yang muncul sejak akhir 2025 mulai berkurang secara bertahap.
"Meski demikian, proses normalisasi penuh kemungkinan masih membutuhkan beberapa siklus tinjauan tambahan," ujarnya.
Selain MSCI, agenda besar kedua adalah FTSE Russell Semi-Annual Review yang dijadwalkan pada 21 September 2026. Dibandingkan dengan tinjauan kuartalan MSCI pada Agustus 2026 yang lebih berfokus pada pemeliharaan indeks secara rutin, tinjauan FTSE diperkirakan memiliki arti lebih besar karena akan menentukan apakah pembekuan rebalancing yang diberlakukan sejak Februari 2026 mulai dapat dilonggarkan.
Analis memperkirakan tinjauan FTSE ini nantinya akan berfokus pada efektivitas reformasi yang diperkenalkan melalui UU P2SK, terutama terkait transparansi kepemilikan, kualitas free float, dan aksesibilitas pasar.
Titik TransisiSeptember 2026 dinilai menjadi titik kritis transisi pasar modal Indonesia yang sejak awal tahun diterpa sentimen negatif. Analis menilai, dalam Januari-September 2026 investor global sedang dalam mode wait and see melihat perkembangan pasar modal Tanah Air.
Hasil tinjauan FTSE dan MSCI yang keduanya rampung di September 2026, diperkirakan akan menjadi awal proses normalisasi bertahap bagi pasar modal Indonesia. Sementara itu, kredibilitas dan konsistensi pelaksanaan reformasi pasar modal, khususnya kemampuan OJK dalam meningkatkan transparansi kepemilikan serta kemampuan BEI dalam menegakkan standar free float yang lebih baik akan menjadi faktor penting yang akan dilihat MSCI maupun FTSE.
KB Valbury Sekuritas membuat dua skenario hasil FTSE Russell Semi-Annual Review September 2026 nanti. Pertama, skenario normalisasi penuh ketika FTSE mencabut pembekuan rebalancing dan secara bertahap mengembalikan proses penyesuaian ulang peringkat indeks, penyesuaian free float, serta evaluasi kelayakan saham Indonesia dalam indeks mereka.
"Hal ini akan menjadi sinyal meningkatnya kepercayaan terhadap reformasi pasar Indonesia dan berpotensi mendukung pemulihan sentimen investor asing, terutama terhadap saham mid-cap berkualitas dan saham dengan likuiditas tinggi," ujar analis.
Sementara dalam skenario kedua, FTSE akan mempertahankan sebagian besar pembekuan saham Indonesia sembari mengamati implementasi reformasi pasar saham. Bila ini terjadi, analis memperkirakan tekanan pasar akan tetap selektif, dengan investor tetap memilih emiten yang menunjukkan tata kelola lebih kuat, transparansi lebih baik, serta karakteristik investabilitas yang lebih menarik.
"Meskipun proses rerating saham Indonesia kemungkinan berlangsung secara bertahap, dinamika pasar diperkirakan semakin didorong oleh faktor fundamental dan pertimbangan investabilitas, bukan lagi sentimen spekulatif," tandasnya.
Sementara itu, analis BRI Danareksa Sekuritas Erindra Krisnawan dan Wilastita Muthia Sofi dalam risetnya mencatat bahwa jelang memasuki semester kedua ini, IHSG telah menunjukkan perbaikan taktikal.
Analis mencatat, aksi jual asing pada saham-saham besar yang terkena penghapusan indeks MSCI telah melambat dalam beberapa pekan terakhir. Indikator positif juga terlihat di nilai tukar rupiah yang perlahan meninggalkan level psikologisnya di Rp18.000 per dolar AS.
"Kami melihat faktor-faktor tersebut sebagai perbaikan taktikal, karena risiko fiskal, kepastian kebijakan, dan kekhawatiran terkait peringkat sovereign masih belum terselesaikan," ujar analis.





