New York: Kontrak berjangka indeks saham Amerika Serikat (AS) menguat pada Minggu malam waktu setempat setelah muncul laporan yang menyebut Washington dan Teheran sepakat menghentikan aksi saling serang menyusul eskalasi ketegangan di sekitar Selat Hormuz.
Langkah tersebut dinilai mampu meredakan kekhawatiran investor terhadap potensi gangguan yang lebih luas pada jalur perdagangan energi global.
Mengutip Investing.com, Senin, 29 Juni 2026, kontrak berjangka indeks S&P 500 naik 0,5 persen ke level 7.435,0 poin. Sementara itu, kontrak berjangka Nasdaq 100 juga menguat 0,5 persen ke posisi 29.514,75 poin. Di sisi lain, kontrak berjangka Dow Jones naik 0,3 persen ke level 52.369,0 poin.
Baca juga: Wall Street Melemah, Nasdaq Merosot Lebih dari 4,5% Minggu Ini Kesepakatan AS-Iran redakan kekhawatiran pasar
Sentimen pasar membaik setelah laporan Axios menyebut AS dan Iran mencapai kesepakatan untuk menghentikan pertempuran di kawasan perairan strategis Selat Hormuz dan kembali melanjutkan negosiasi di Doha.
Kesepakatan itu dipandang dapat menekan risiko meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah, terutama yang berpotensi mengganggu distribusi energi global. Kedua negara dijadwalkan kembali bertemu di Qatar pada Selasa, 24 Juni 2026, untuk melanjutkan pembahasan diplomatik.
Sebelumnya, sepanjang akhir pekan, pasukan AS melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas militer dan pengawasan Iran setelah sebuah kapal tanker terkena serangan di Selat Hormuz. Insiden tersebut sempat meningkatkan tekanan terhadap pelayaran komersial di kawasan.
Presiden AS Donald Trump mengatakan Washington dapat "menyelesaikan pekerjaan itu secara militer" jika serangan terus berlanjut. Sebagai respons, Iran dilaporkan meluncurkan serangan rudal dan pesawat nirawak yang menargetkan instalasi militer AS di Bahrain dan Kuwait, serta mengancam menghentikan negosiasi jika serangan lanjutan kembali terjadi.
(Ilustrasi Wall Street. Foto: iStock)
Saham teknologi masih jadi sorotan
Meski sentimen geopolitik mereda, saham-saham teknologi masih menjadi perhatian setelah tekanan jual besar pada pekan lalu. Wall Street sebelumnya tertekan akibat pergeseran dana investor dari saham teknologi berkapitalisasi besar di tengah kekhawatiran valuasi yang dinilai terlalu tinggi, serta perlambatan momentum pada saham berbasis kecerdasan buatan (AI).
Sepanjang pekan lalu, indeks acuan S&P 500 turun dua persen. Sementara Nasdaq Composite merosot 4,6 persen, menjadi penurunan mingguan terdalam dalam lebih dari setahun.
Tekanan pasar juga meningkat setelah Apple Inc. menaikkan harga sejumlah produk MacBook dan iPad. Perusahaan itu menyebut lonjakan biaya chip memori akibat tingginya permintaan pusat data AI sebagai salah satu faktor utama.
Pelaku pasar kini menanti sejumlah agenda penting pekan ini, termasuk data pasar tenaga kerja AS dan laporan kinerja kuartal II dari sejumlah emiten besar.
Menjelang libur Hari Kemerdekaan AS, volume perdagangan diperkirakan lebih rendah dari biasanya. Namun, perkembangan geopolitik di Timur Tengah diperkirakan tetap menjadi faktor dominan yang memengaruhi sentimen risiko global




