Di tengah harga pangan, minyak goreng, dan energi yang terus merangkak naik, jutaan keluarga mengandalkan berbagai cara untuk bertahan. Dari antrean bantuan pangan, pasar murah, hingga penghematan di dapur dan lapak usaha kecil, warga menunjukkan bahwa menjaga daya beli bukan sekadar soal angka inflasi, melainkan perjuangan sehari-hari agar kebutuhan keluarga tetap terpenuhi.
Pagi belum terlalu tinggi ketika Khotimah tiba di Balai Desa Pabean, Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Kamis (11/6/2026). Bersama ratusan warga lain, perempuan berusia 49 tahun itu ikut mengantre bantuan pangan. Ada yang datang sejak pukul 06.00 WIB. Mereka rela menunggu lebih dari dua jam demi membawa pulang beras dan minyak goreng.
Bagi Khotimah, bantuan itu bukan sekadar paket pangan. Dua puluh kilogram beras dan empat liter minyak goreng Minyakita yang diterimanya hari itu adalah napas tambahan bagi dapur rumah tangganya. Di tengah harga kebutuhan pokok yang terus naik, setiap kilogram beras dan setiap liter minyak menjadi sangat berarti.
”Alhamdulillah dapat beras dan minyak. Rasanya senang sekali karena harga-harga kebutuhan sekarang sudah sangat tinggi,” ujar Khotimah, warga Desa Pabean, Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, saat ditemui Kamis (11/6/2026).
Sebagai asisten rumah tangga, penghasilan Khotimah tidak besar. Karena itu, kenaikan harga beras, minyak goreng, cabai, gula, hingga tepung terigu langsung terasa di meja makan. Menurut dia, harga beras medium sudah di atas Rp 14.000 per kilogram, sementara beras premium mencapai Rp 15.000 per kilogram. Minyak goreng kemasan premium ukuran dua liter bahkan telah menembus Rp 50.000.
Dalam situasi seperti itu, banyak keluarga tidak punya banyak pilihan. Belanja harus dihitung lebih cermat. Menu harian disesuaikan. Bantuan pangan, pasar murah, dan penghematan kecil-kecilan menjadi siasat agar dapur tetap mengepul. Namun, bagi sebagian warga, bertahan tidak cukup hanya dengan menunggu bantuan. Di lapak-lapak kecil, siasat lain dijalankan dengan senyap.
Purnamadani (42), pedagang gorengan di Jawa Timur, misalnya, harus mengubah cara berjualan. Harga bahan pokok yang naik membuat biaya produksi terus bertambah. Ia tidak bisa begitu saja menaikkan harga gorengan karena khawatir pelanggan berpindah ke pedagang lain.
Maka, bahan isian pun diatur ulang. Wortel, kubis, taoge, dan daun bawang yang biasa menjadi isian ote-ote dan tahu isi dikurangi. Sebagian diganti dengan bihun. Minyak goreng dan gas digunakan sehemat mungkin. Jumlah produksi pun dikurangi agar tidak banyak dagangan tersisa.
”Untuk bahan baku tahu dan tempe sudah tidak bisa dikurangi ukurannya karena dari pabrik memang sudah diperkecil. Kalau diiris lebih tipis lagi malah hancur,” ujar Purnamadani.
Keuntungan yang tersisa semakin tipis. Namun, bagi pedagang kecil seperti Purnamadani, bertahan berjualan lebih penting daripada berhenti. Selama masih ada pembeli dan dapur keluarga bisa berjalan, usaha kecil itu tetap dipertahankan.
Siasat serupa juga muncul di rumah-rumah warga Jakarta dan sekitarnya setelah harga elpiji nonsubsidi naik pada April 2026. Kenaikan harga elpiji kemasan 5,5 kilogram dan 12 kilogram membuat pengeluaran rumah tangga ikut berubah.
Herlina (36), warga Jakarta Pusat, mulai menghitung penggunaan gas di rumahnya. Setelah harga elpiji 5,5 kilogram naik menjadi Rp 107.000 per tabung, ia berusaha membuat satu tabung gas cukup untuk sebulan. Sebelumnya, ia bisa membeli gas dua kali dalam sebulan.
”Pas gas 5,5 kg saya habis, belinya (waktu mau beli lagi harganya) sudah naik. Sekarang jadi lebih dihitung. Biasanya sebulan bisa dua kali beli gas, sekarang diusahakan cukup sekali,” ujar Herlina.
Untuk menghemat, Herlina mulai mengurangi penggunaan kompor gas. Ia lebih sering memakai air fryer untuk memasak gorengan dan mulai mempertimbangkan penggunaan kompor induksi. Menu yang membutuhkan waktu memasak lama dikurangi. Sebagai gantinya, ia memilih masakan sederhana yang lebih cepat matang.
Di Tangerang Selatan, Banten, Lidya (33) memilih siasat yang lebih rinci. Ia mengatur ukuran panci agar sesuai dengan besar api, menutup panci saat memasak, dan menghindari penggunaan api besar yang tidak perlu. Menurut dia, kebiasaan kecil itu bisa membantu menghemat gas.
“Kalau ditutup, suhu lebih stabil dan makanan lebih cepat matang,” ujar Lidya, warga Tangerang Selatan, saat diwawancarai, Senin (20/4/2026).
Lidya juga mulai lebih disiplin dalam berbelanja. Ia membuat rencana belanja mingguan dan menyiapkan bahan makanan lebih teratur agar tidak tergoda membeli barang yang tidak perlu. Ketika harga daging naik, ia beralih ke telur, tahu, tempe, atau ikan lokal yang lebih terjangkau. Bahan pangan yang sedang musim juga lebih sering dipilih karena biasanya lebih murah.
Namun, persoalan tidak hanya datang dari harga. Di tingkat distribusi, ketersediaan barang juga mulai dikeluhkan. Ramdan (50), pedagang gas di Tangerang Selatan, mengatakan, pasokan elpiji 5,5 kilogram dan 12 kilogram sempat kosong. Padahal, harga di tingkat pengecer sudah bergerak naik.
Kenaikan harga membuat warga belajar semakin teliti. Semua dilakukan agar pengeluaran tidak semakin membengkak.
”Di sini, sejak beberapa hari lalu, gas kemasan 5,5 kg sudah dijual Rp 110.000 dan gas 12 kg Rp 225.000. Mulai hari ini, kata agen gas, ada kenaikan harga lagi, tapi masalahnya sekarang barangnya justru sedang kosong,” ujar Ramdan.
Kenaikan harga membuat warga belajar semakin teliti. Ada yang mengandalkan beras bantuan, ada yang mengganti isian gorengan, ada yang mengubah cara memasak, ada pula yang menyusun ulang daftar belanja. Semua dilakukan agar pengeluaran tidak semakin membengkak.
Siasat-siasat kecil itu tidak serta-merta menyelesaikan persoalan besar mahalnya biaya hidup. Namun, dari antrean bantuan pangan, lapak gorengan, hingga dapur rumah tangga, warga menunjukkan cara bertahan yang paling mungkin mereka lakukan: menyesuaikan diri, menghemat, dan terus menjaga agar dapur tetap menyala.





