Ketika Moral Injury Menjangkiti WNI

kompas.com
2 jam lalu
Cover Berita

DI BEBERAPA media sosial sering muncul perbincangan yang menggambarkan kemalangan menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) akibat kebijakan pemerintah yang dinilai ugal-ugalan dan di luar akal sehat.

Perbincangan itu seakan menggambarkan, sebagian masyarakat di Indonesia sedang mengalami sindrom moral injury alias luka moral.

Moral injury adalah istilah psikologi yang menggambarkan penderitaan batin ketika seseorang terpaksa melakukan, menyaksikan, atau gagal mencegah tindakan yang melanggar nilai-nilai kemanusiaan terdalamnya. 

Gejala moral injury masyarakat Indonesia itu tampaknya di awali pada 2024, ketika Mahkamah Konstitusi (MK) meloloskan aturan yang memungkinkan Gibran Rakabuming Raka sebagai calon wakil presiden.

Gibran adalah anak Joko Widodo (Jokowi) yang saat itu menjadi Presiden Indonesia.  

Putusan yang meloloskan Gibran itu berujung pada vonis pelanggaran etika kepada sembilan hakim konstitusi oleh Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi (MKMK) Masyarakat menyaksikan pelanggaran etika politik dan hukum di depan matanya, tapi tak berdaya melakukan perubahan.

Moral injury semakin menguat setelah Prabowo Subianto dan Gibran dilantik menjadi Presiden dan wakil presiden di akhir 2024, tepatnya saat Prabowonomics, gagasan pembangunan ala Prabowo Subianto, diimplementasikan dalam sebuah kebijakan.

Di bawah payung Prabowonomics itu model pembangunan ekstraktif dan militerisme seperti mendapatkan pembenaran.

Baca juga: Koperasi Belum Berjalan, Korban Sudah Berjatuhan

Model pembangunan ekstraktif (mengeruk sumber daya alam secara masif) ini membawa konsekuensi terhadap ancaman kerusakan alam dan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).

Model pembangunan yang beresiko pada keselamatan dan keamanan manusia dan alam itu dilakukan dengan menggunakan dua pilar.

Pilar pertama, militerisme. Pemerintahan Prabowo Subianto menggunakan logika militerisme dalam pengelolaan sumber daya alam.

Logika militerisme ini bukan hanya menormalisasi keterlibatan militer di dalam pengelolaan sumber daya alam dan wilayah sipil lainnya, tapi juga menggunakan pendekatan top-down yang merupakan karakter militer dalam bekerja.

Pilar kedua, membangun kesadaran palsu. Kesadaran palsu ini perlu dibangun untuk menyembunyikan daya rusak model pembangunan ekstraktif terhadap alam dan kehidupan sosial.

Kesadaran palsu ini membuat masyarakat menilai, tidak ada yang salah terkait model pembangunan ekonomi ekstraktif.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Penilaian positif terhadap model pembangunan ekstraktif itu penting sehingga masyarakat tidak melawan proyek-proyek ekstraktif.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jokowi Bertemu Warga Lampung: Masih Orang Kampung, Orang Desa
• 10 jam lalukompas.tv
thumb
Polres Jeneponto Amankan Tiga Terduga Penyalahguna Sabu di Arungkeke
• 21 jam lalueranasional.com
thumb
Tanda Decision Fatigue yang Sering Tidak Disadari
• 6 jam lalubeautynesia.id
thumb
Lapas Cipinang Ungkap Kondisi Kesehatan Razman Arif Nasution: Berat Badan 120 Kg-Gejala Stroke Ringan dan Anxiety
• 19 jam laluviva.co.id
thumb
BEI Ungkap 8 Calon Emiten Siap Melantai di Bursa, Ini Daftarnya
• 1 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.