Bisnis.com, JAKARTA — Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan ketahanan pangan nasional tetap terjaga meski Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim kemarau tahun ini berpotensi lebih panjang akibat pengaruh fenomena iklim El Nino.
Keyakinan tersebut ditopang oleh surplus produksi beras, tingginya stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP), serta langkah mitigasi yang telah disiapkan sejak dini.
Sekretaris Utama Bapanas Sarwo Edhy mengatakan pemerintah telah memperkuat Cadangan Pangan Pemerintah (CPP), terutama stok beras yang dikelola Perum Bulog, sekaligus memperkuat Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD) untuk mengantisipasi potensi gangguan pasokan selama musim kemarau.
Menurutnya, hingga saat ini kondisi cuaca belum memberikan dampak signifikan terhadap pertanaman sehingga target peningkatan produksi pangan masih dapat dicapai. Pemerintah juga terus berkoordinasi dengan BMKG dan mendorong petani menyesuaikan pola tanam sesuai perkembangan kondisi iklim.
"Terkait dengan cuaca selama ini masih cukup normal sehingga belum berpengaruh terhadap pertanaman. Jadi peningkatan produksi tetap dapat tercapai. Kita selalu koordinasi dengan BMKG dan sudah menyosialisasikan pola tanam sesuai anjuran pemerintah," ujar Sarwo dalam keterangan resmi, dikutip Senin (29/6/2026).
Berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan Bapanas, produksi beras nasional sepanjang Januari hingga Juni 2026 diperkirakan mencapai 19,2 juta ton, lebih tinggi dibandingkan kebutuhan konsumsi sebesar 15,4 juta ton. Dengan demikian, pada semester pertama tahun ini diperkirakan terjadi surplus sekitar 3,7 juta ton.
Baca Juga
- El Nino Ancam Gambut Riau, Risiko Percepat Degradasi dan Karhutla
- OJK: Bank Waspada Efek El Nino, Kredit Macet Risiko Melonjak
- Amran Klaim Stok Beras Aman Sampai Mei 2027 Meski Ada El Nino
Surplus tersebut sebagian besar telah dikonversi menjadi Cadangan Beras Pemerintah melalui penyerapan gabah dan beras oleh Bulog. Hingga 26 Juni 2026, Bulog telah menyerap setara beras sekitar 3,2 juta ton dari petani.
Di sisi lain, realisasi penyaluran CBP melalui berbagai program pemerintah telah mencapai sekitar 1,07 juta ton. Meski demikian, stok beras yang tersimpan di gudang Bulog masih mencapai sekitar 5,17 juta ton atau menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah.
Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan pemerintah telah belajar dari pengalaman menghadapi El Niño pada 2023 sehingga berbagai langkah antisipasi telah dilakukan lebih awal, terutama melalui penguatan stok pangan nasional.
"Kami memang sudah siapkan jauh hari sebelumnya menghadapi El Nino. Dulu pengalaman kita tahun 2023, Alhamdulillah kita lolos. Stok beras kita tertinggi sepanjang sejarah. Insyaallah aman sampai Desember, bahkan sampai Mei tahun depan pun cukup," kata Amran.
Bapanas memperkirakan neraca sampai akhir 2026 masih mencatat stok beras nasional sekitar 16,24 juta ton. Angka tersebut berasal dari stok awal tahun sebesar 12,54 juta ton ditambah proyeksi produksi sepanjang tahun sebesar 34,76 juta ton, kemudian dikurangi kebutuhan konsumsi sekitar 31,1 juta ton.
Dengan proyeksi tersebut, persediaan beras nasional diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan konsumsi hingga sekitar lima bulan pada 2027 sebelum kembali diperkuat oleh panen raya yang diperkirakan berlangsung pada Maret hingga April tahun depan.
Optimisme pemerintah tersebut muncul di tengah meningkatnya kewaspadaan terhadap potensi El Nino yang diperkirakan memperpanjang musim kemarau dan meningkatkan risiko kekeringan di sejumlah wilayah.
Pemerintah menilai keberhasilan menjaga produksi, memperkuat cadangan pangan, dan memastikan distribusi tetap berjalan akan menjadi faktor utama dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan sepanjang semester II/2026.





