Jakarta, CNBC Indonesia - Perang teknologi berkepanjangan antara Amerika Serikat (AS) dan China terus mengalami eskalasi. Setelah pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing pada Mei 2026, dunia sempat bernapas lega karena ada kesepakatan yang dicapai untuk meredakan konflik.
Namun, 'gencatan senjata' itu tidak berlangsung lama. Beberapa saat lalu, pemerintahan Trump kembali berulah dengan mengumumkan tambahan raksasa China yang masuk 'daftar hitam' Pentagon. Alibaba, Baidu, BYD, dan Nio, masuk daftar baru tersebut.
Setidaknya ada 80 perusahaan China dan anak-anak usahanya yang dituduh membantu militer China. Tak tinggal diam, China kemudian balas dendam dan memberlakukan kontrol ekspor ke 10 perusahaan AS. Daftar itu mencakup para produsen mineral tanah jarang asal AS, yakni MP Materials dan USA Rare Earth.
Respons China tersebut kembali ditanggapi keras oleh AS. Komisi Komunikasi Federal (FCC) pada Jumat (26/6) pekan lalu mengatakan pihaknya akan melarang impor peralatan yang lebih banyak dari manufaktur-manufaktur China.
Langkah ini memperluas larangan FCC yang diberlakukan pada 2022 silam terhadap model-model baru peralatan telekomunikasi dan pengawasan video buatan Huawei, ZTE, Hytera, Hikvision, dan Dahua dengan alasan risiko keamanan nasional AS.
FCC menyatakan bahwa larangan tersebut kini mencakup model-model lama, bukan hanya peralatan yang dirancang mulai akhir 2022. Seperti biasa, perluasan larangan ini dilakukan dengan dalih keselamatan publik, keamanan fasilitas pemerintah, pengawasan keamanan fisik infrastruktur kritis, dan tujuan keamanan nasional lainnya," dikutip dari Reuters, Senin (29/6/2026).
- Amerika Bobol, Pemasok Senjata Canggih Bongkar Bobrok Pemerintah
- Serangan Balas Dendam Iran, Diam-Diam Hancurkan Israel dari Dalam
Perluasan larangan ini dijadwalkan mulai berlaku pada awal Juli 2026. FCC menyatakan bahwa langkah tersebut diperlukan untuk melindungi keamanan nasional dengan memitigasi risiko terhadap sektor komunikasi AS.
Kedutaan Besar China di Washington serta perusahaan-perusahaan terkait tidak segera menanggapi permintaan komentar.
FCC menyatakan akan mengizinkan warga Amerika untuk tetap menggunakan peralatan yang sudah mereka miliki.
FCC telah mengambil sejumlah langkah yang menyasar sektor teknologi China, termasuk melarang impor semua model baru drone asal China pada bulan Desember. Pada Maret 2026, lembaga tersebut melarang impor model router konsumen baru buatan China. Aturan baru ini tidak melarang impor model drone dan router yang sudah ada sebelumnya.
Pada Oktober lalu, FCC memutuskan melalui pemungutan suara dengan hasil 3-0 untuk memblokir persetujuan baru bagi perangkat yang menggunakan komponen dari perusahaan-perusahaan yang tercantum dalam daftar mereka, serta mengizinkan lembaga tersebut melarang penggunaan peralatan yang sebelumnya telah disetujui dalam situasi tertentu.
Hikvision mengajukan gugatan hukum pada bulan Desember untuk menentang keputusan tersebut, dengan alasan bahwa lembaga itu telah melampaui wewenangnya dan tidak memiliki dasar yang kuat untuk mengambil langkah tersebut.
FCC juga sedang mempertimbangkan untuk melarang operator telekomunikasi AS melakukan interkoneksi dengan perusahaan telekomunikasi China. Langkah ini secara efektif akan melarang perusahaan telekomunikasi China untuk mengoperasikan data center di AS.
(fab/fab) Add as a preferred
source on Google




