JAKARTA, KOMPAS.com - Sejumlah pria duduk dan berdiri di area dermaga Pelabuhan Muara Angke pada Selasa (30/6/2026) siang.
Di antaranya adalah Timan (40) dan Tagor (26) yang sudah bekerja sebagai porter atau kuli panggul selama belasan tahun.
Tak lama kemudian, sebuah kapal datang. Penumpang dan wisatawan mulai turun membawa barang bawaan masing-masing.
Baca juga: Kisah Kuli Panggul Kayu di Tenda Pengungsian saat Ramadan: Tak Sebahagia Tahun Lalu
Namun, satu per satu mereka berjalan melewati deretan porter tanpa menggunakan jasa angkut.
Menurut Timan, kejadian seperti itu bukan lagi hal baru.
Pria yang telah menjadi porter di Muara Angke hampir 15 tahun itu menyebut pendapatan para porter mulai kurang menentu belakangan ini.
"(Pendapatan) enggak mesti sih. Kadang-kadang Rp 50.000, kadang enggak dapet, kadang-kadang ya lebih," kata dia saat ditemui Kompas.com, Selasa (30/6/2026).
Baca juga: Kisah Kuli Panggul Sering Ditolak Pelanggan karena Sudah Tua, Sukardi: Saya Masih Kuat...
Bagi dia, penghasilan yang diperoleh digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga di kampung.
Ketika pekerjaan sedang ramai, ia masih bisa mengirim uang kepada istri dan anak.
Namun apabila sedang sepi, ia terpaksa menunda mengirim uang.
"Enaknya ya kalau lagi ada barang banyak tuh, ya lumayan lah buat makan-makan, buat ngirimin anak istri di kampung bisa ngirimin, gitu. Kalau lagi enggak dapat ya udah, nahan-nahan dulu ngirim (uang) buat anak istri tuh," ujarnya.
Baca juga: Bantuan Tak Kunjung Tiba, Pemkab Bener Meriah Datangkan BBM Pakai Kuli Panggul dari Aceh Utara
Timan mengaku kondisi belakangan semakin sepi. Wisatawan yang menggunakan jasa porter tidak sebanyak dulu.
Meski begitu, ia tetap datang setiap hari dan menunggu jika ada barang yang harus dibongkar atau diangkut ke kapal.
Selama bekerja sebagai porter, Timan mengaku tak jarang harus mengangkat barang-barang berat, mulai dari dus hingga mesin kapal bersama rekan-rekannya. Ia bahkan pernah terjatuh ke laut saat bekerja.
"Pernah, dulu itu lama. Kadang-kadang pakai gerobak, jatuh dari gerobak. Sering saya kayak gitu mah. Kadang-kadang ya kalau nyebur barang yang berharga gitu, kalau orangnya enggak baik mah minta ganti gitu, kalau yang baik mah 'enggak apa-apa dah, namanya musibah' gitu," tutur dia.