Anggaran Mitigasi Perubahan Iklim Hanya 3% APBN, Kemenkeu Dorong Peran Swasta

bisnis.com
11 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengakui alokasi belanja negara untuk memitigasi dampak perubahan iklim masih terbatas. Untuk itu, partisipasi sektor swasta dinilai menjadi kunci untuk menutup kesenjangan kebutuhan menuju target penurunan emisi karbon pada 2060 atau lebih cepat. 

Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan Kemenkeu Herman Saheruddin menyampaikan bahwa alokasi belanja terkait iklim saat ini baru mencapai sekitar 3% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) atau rata-rata lebih dari Rp70 triliun per tahun.

“Angka tersebut menunjukkan komitmen kuat pemerintah, tetapi sekaligus mengingatkan bahwa kesenjangan pembiayaan masih sangat besar,” kata Herman dalam sambutannya pada Maybank Indonesia Sustainable Finance Forum 2026, Selasa (30/6/2026).

Herman mengungkapkan bahwa kebutuhan investasi Indonesia diproyeksikan melampaui Rp8.000 triliun pada 2026. Menurutnya, pembiayaan publik saja tidak akan mampu memenuhi kebutuhan tersebut.

Karena itu, pemerintah memposisikan APBN sebagai sumber pembiayaan utama, melainkan sebagai katalis yang mampu menurunkan risiko investasi, meningkatkan kepercayaan investor, dan mendorong partisipasi sektor swasta dalam skala yang jauh lebih besar.

Indonesia sendiri telah membangun mekanisme pembiayaan iklim yang menggabungkan sumber pendanaan dari sektor publik dan swasta, baik dari dalam maupun luar negeri.

Baca Juga

  • Indonesia Terbitkan 30 Juta Ton Kredit Karbon Sektor Kehutanan Awal Juli
  • Maybank Group Bidik Pembiayaan Berkelanjutan Sebesar Rp1.303 Triliun Pada 2030
  • RI Dihantui Kutukan Sumber Daya Alam, Ekonom Indef: Pembenahan Tata Kelola Harus jadi Prioritas

Dari sisi publik, Herman mengemukakan pembiayaan iklim didukung melalui APBN, belanja pemerintah daerah, insentif fiskal, serta berbagai instrumen pembiayaan inovatif seperti green sukuk, obligasi SDGs, blue bonds, dan dana penanggulangan bencana

Di luar APBN, pemerintah terus mendorong perbankan berkelanjutan, pasar modal, pasar karbon, filantropi, investasi korporasi, serta skema blended finance.

Selain itu, Herman memandang bahwa kerja sama internasional memiliki peran yang sangat penting, dengan dukungan dari bank pembangunan multilateral, mitra bilateral, dana iklim, dan lembaga keuangan internasional.

“Perubahan iklim terlalu kompleks untuk ditangani oleh satu institusi saja. Keberhasilannya bergantung pada kolaborasi antara pemerintah, mitra pembangunan, lembaga keuangan, organisasi filantropi, dan sektor swasta,” tegasnya. 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Belanda Tersingkir Memalukan di Piala Dunia 2026, Ronald Koeman Dihujani Kritik Usai Kalah dari Maroko
• 6 jam lalumedcom.id
thumb
Nadiem Makarim Berserah pada Tuhan Jelang Vonis: Allah Tidak akan Pernah Meninggalkan Saya
• 14 jam laludisway.id
thumb
Polisi Gelar Pra Rekonstruksi 2 Kali di 4 TKP Kasus Penyekapan Wanita di Bandung
• 10 jam lalukompas.tv
thumb
GovTech Bakal Hemat Rp1.500 Triliun Uang Negara, Ini Kata Luhut
• 4 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Literasi Masyarakat Masih Perlu Ditingkatkan, Ini yang Dilakukan Pemkab Lamongan
• 8 jam laluberitajatim.com
Berhasil disimpan.