Berada di tengah deretan lapak yang lengang lantai atas Pasar Johar Selatan, Yeyen (60) tekun menyapukan kuas di atas kanvas. Perlahan, kawanan ikan koi bergaya realis muncul memenuhi bidang lukisan. Pada sekelilingnya puluhan karya lain tersandar di dinding dan sudut lapak yang sekaligus menjadi galeri mini miliknya.
Suasana siang itu hampir tanpa lalu lalang pengunjung. Di seberang lapaknya, sejumlah kios masih kosong. Sebagian tertutup kain, sebagian lain dibiarkan tanpa aktivitas. Kesunyian menjadi pemandangan yang akrab sejak kawasan itu kembali ditempati setelah revitalisasi.
Hampir tiga tahun berjualan di lokasi tersebut, Yeyen mengatakan denyut Pasar Johar belum kembali seperti dulu. Beragam kegiatan telah digelar untuk menarik warga datang, tetapi belum mampu mengembalikan arus pengunjung. ”Memang sudah banyak kegiatan yang dilakukan untuk menghidupkan lantai ini. Entah kenapa tetap saja sepi,” ujarnya, Selasa (30/6/2026).
Upaya menghidupkan kembali Pasar Johar terus dilakukan Pemerintah Kota Semarang bersama sejumlah komunitas. Selain mengajak pedagang mengisi lapak-lapak kosong, mereka mencoba membangun kembali daya tarik kawasan melalui konsep New Pasar Maling (New PM).
Konsep itu meminjam memori kolektif warga Semarang terhadap ”pasar maling” yang pernah dikenal pada dekade 1970-an hingga awal 2000-an. Berdasarkan sejumlah catatan, kawasan di antara Pasar Kanjengan dan Masjid Agung Semarang dahulu menjadi pusat jual beli barang bekas yang ramai menjelang malam.
Berbagai barang diperjualbelikan, mulai dari peralatan elektronik, onderdil, hingga alas kaki, dengan asal-usul barang yang kerap menjadi bahan perbincangan. Jejak kenangan itu kini dihadirkan kembali melalui deretan pedagang barang bekas. Di salah satu lapak, Isti (53) menjajakan pakaian bekas. Di sebelahnya, etalase berisi sepatu bekas dari sejumlah merek ternama dipajang untuk menarik perhatian pengunjung.
Namun, menurut Isti, kegiatan yang digelar belum banyak berpengaruh terhadap transaksi pedagang. ”Seharusnya acara yang diadakan bisa nyambung dan berdampak langsung pada pedagang,” katanya.
Ia menilai kebangkitan kawasan tidak cukup hanya mengandalkan penyelenggaraan acara. Penataan komposisi jenis dagangan juga perlu diperhatikan agar pilihan barang lebih beragam dan memberi alasan lebih kuat bagi masyarakat untuk datang kembali ke Pasar Johar.


/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2025%2F12%2F20%2F9c56833280a8126f524f57dbd0bb9e4a-IMG_20251220_WA0172.jpg)


