Gobel Group, Buah Kerja Keras Sang Maestro Bisnis dari Gorontalo untuk Indonesia  

jpnn.com
3 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com - Gobel Group memasuki usia 70 tahun perjalanan dalam dunia bisnis Indonesia dan global. Tetap kokoh berdiri dan berkembang pesat untuk mencapai usia itu bukanlah perjalanan mudah.

Semua itu berkat kegigihan sang maestro, pendirinya, Thayeb Mohammad Gobel yang berkomitmen tinggi dan pantang menyerah untuk bangkitkan perekonomian Indonesia di berbagai sektor.

BACA JUGA: Menaker Yassierli Lepas Mudik 1.431 Pekerja PT Panasonic Gobel, Begini Harapannya

Gobel kecil lahir di Desa Tapo, Gorontalo, Sulawesi Utara pada 12 September 1930. Kisah hidupnya semasa muda tak melulu manis layaknya cerita-cerita konglomerat. Namun, Gobel beruntung memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan apalagi di era itu.

Gobel tak menyia-nyiakan kesempatan itu giat belajar demi meraih cita-citanya. Dilansir dari buku ‘Seratus Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sejarah Indonesia di Abad 20’, Thayeb Gobel mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat, kemudian dia pindah ke Makassar, Sulawesi Selatan dan menumpang hidup di rumah keluarga pamannya.

BACA JUGA: PT Panasonic Gobel Indonesia Raih IMRC Award 2024

Gobel kemudian melanjutkan pendidikan SMP dan SMA milik perguruan Sawerigading. Semua pengalaman dan semangat juang Gobel tak luntur. Semua pekerjaan dilakoninya setelah menyelesaikan pendidikan menengah. Gobel bahkan sempat menjadi guru SMP.

Gobel muda tak patah arang, dengan tekad kuat dia pun mendirikan perusahaan sendiri. Pada 1954 silam, Gobel memulai usahanya pembuatan radio transistor dengan merek dagang ‘Tjawang’. Perusahaannya diberi nama PT Transito Radio Mfg. Co yang didanai dari kredit Bank Industri Nasional sebesar Rp 5 juta.

BACA JUGA: Atasi Polusi Karbon Udara di Jakarta, Gobel Group Gencar Tanam Pohon

Ide Gobel untuk memulai bisnis elektronik terbersit saat mendengar pidato Presiden RI Soekarno yang berharap petani dan masyarakat Indonesia lainnya bisa menggunakan barang mewah kala itu yaitu radio dan lemari es. Saat itu, pria yang dijuluki Bapak Industri Elektronik Indonesia itu berhasil memasarkan seluruh produk dari perusahaannya ke seluruh pelosok tanah air.  

Televisi Hitam Putih dan Penghargaan Bergengi dari Kaisar Jepang 

Langkah Gobel sang, pelopor industri elektonik di Indonesia tak berhenti sampai di situ. Titik balik perjalanan bisnis Gobel dimulai ketika dia menerima beasiswa Colombo Plan pada 1957. Kisah gemilang dicatatnya saat bertemu Konosuke Matsushita, pendiri Matsushita Electric Industrial co.Ltd yang sekarang bernama Panasonic Corporation. Pertemuan itu membuahkan hasil kolaborasi antara perusahaan Gobel dan Matshushita.

Perusahaan Gobel sempat mengalami jatuh bangun pada masa Gerakan 30 September era 1960an.

Namun, Gobel berhasil mempertahankannya hingga lolos dari ancaman kebangkrutan. Kegagalan sebentar tak membuat Gobel gentar. Setelah kerja sama dengan Matshushita, perusahaan Gobel berhasil memproduksi televisi hitam putih pertama di Indonesia pada 1962.

Ini bukan hanya jadi kebanggaan Gobel semata tetapi seluruh masyarakat Indonesia yang bisa menyaksikan pesta olahraga Asian Games 1962 di Jakarta lewat televisi hitam putih yang diproduksi perusahaannya.

Produk televisi pertama itu juga diberikan Gobel untuk Ibu Negara Republik Indonesia, Fatmawati Soekarno. Kiprah Gobel di dunia elektronik ini juga mengiringnya mendapat anugerah pengharagaan Bintang “Third Class Order of tha Scared Heritage (Kun Santo Zuiskoscho) dari Kaisar Jepang pada 1981.

Penghargaan itu diberikan pada Gobel atas jasanya mempererat hubungan kerja sama pemerintah Indonesia dan Jepang. Setelah kerja samanya dengan perusahaan Matsushita Electric Industri Vo. Ltd dari Jepang pada 1970, perusahaan pengusaha asal Gorontalo itu berganti nama menjadi National Gobel.

Perusahaan tersebut menguasai sekitar 22 persen pangsa pasar elektronik di Indonesia pada 1988. National Gobel bahkan mengekspor produknya ke 57 negara. Sebuah pencapaian spektakuler dan membanggakan untuk Indonesia di masa itu.

Inovasi Gobel untuk Membangun Negeri

Buah karya perusahaan Thayeb Mohammad Gobel untuk Indonesia tak berhenti sampai di televisi hitam putih. Pabrik Tjawang yang didirikannya itu juga merakit kendaraan roda tiga ‘bemo’ untuk pelengkap angkutan umum bagi masyarakat.

Selain itu, Tjawang memproduksi traktor untuk membantu mekanisasi pertanian di Indonesia. Tahun berganti Gobel memperkuat perusahaannya dengan mengembangkan bisnis di berbagai sektor tak hanya elektronik.

Di antaranya di bidang manufaktur, logistik, perdagangan, makanan, transportasi, kimia, properti, dan periklanan. Perusahaan Gobel Group juga menaruh perhatian khusus terhadap dunia pendidikan anak Indonesia.

Pada 1979, dibentuk Yayasan Pendidikan Matsushita Gobel untuk meningkatkan kecerdasan dan membantu anak-anak Indonesia. Pendidikan untuk anak karyawan perusahaan Gobel Group juga diperhatikan.

Salah satunya dengan pemberian beasiswa untuk ratusan anak dari Federasi Serikat Pekerja Panasonic Gobel mulai dari tingkat SD sampai dengan perguruan tinggi.

Gobel juga memasuki panggung politik di tengah kesibukannya sebagai pengusaha sukses tanah air. Dia masuk panggung politik pada 1966. Gobel pernah menjadi Ketua DPR/MPR dari Partai Serikat Islam Indonesia (PSII). Gobel juga menjadi Ketua Dewan Pimpinan Pusat PPP.

a

Seorang tokoh besar seperti Thayeb Mohammad Gobel juga memegang teguh filosofi dalam hidupnya dan karya bisnisnya. Gobel menanamkan filosofi ‘pohon pisang’ dalam menjalankan kehidupan dan roda bisnis perusahaannya.

Layaknya pohon pisang yang setiap bagiannya bisa dimanfaatkan untuk manusia dan kehidupan, Gobel ingin perusahaannya juga mengambil peran dan manfaat untuk masyarakat Indonesia. Filosofi ‘pohon pisang’ itu sebagai simbol kebersamaan, semangat melayani manusia, dan rela berkorban.

Pohon pisang pun mudah tumbuh tunas baru, hal itu diharapkan Gobel, mempersiapkan generasi penerusnya yang memberi manfaat untuk membangun Indonesia.

Filosofi tersebut menekankan bukan hanya laba yang menjadi tujuan semata tetapi seberapa baik perusahaan tersebut memenuhi kewajiban melalui produk dan layanan yang berguna bagi masyarakat. Dalam filosofi tersebut dia menanamkan tujuh nilai penting untuk Gobel Group yaitu dedikasi, kejujuran dan keadilan, kerja sama harmoni, perbaikan yang berkesinambungan, kesopanan dan kerendahan hati, kemampuan beradaptasi, serta bersyukur dan berterima kasih.

Semua nilai-nilai kehidupan itu juga yang diwariskan Gobel pada keluarga dan keturunannya serta karyawannya sebelum dia mengembuskan napas terakhir pada 21 Juli 1984.

Kini putranya, Rachmat Gobel menjadi penerus langkah Gobel untuk membangun negeri dengan menerapkan nilai-nilai hidup dan filosofi pohon pisang tersebut. Rachmat Gobel telah belajar dari ayahnya tentang bagaimana berkorban, jujur dan disiplin, melawan ego, berbakti untuk negeri melalui dunia industri dan menjadi pemimpin amanah.  (flo/jpnn)


Redaktur & Reporter : Natalia


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ledakan di Apartemen Monako Lukai Miliarder Ukraina Beserta Keluarganya
• 5 jam lalumetrotvnews.com
thumb
JHT Dipotong Pajak 5 Persen, Adilkah Bagi Pekerja?
• 2 jam lalukompas.com
thumb
DPR Tunggu Draf Resmi RUU Pidana LGBT dari MUI
• 3 jam laludisway.id
thumb
Perpres RANHAM Masih Berproses di Istana, Pemerintah Siapkan RANHAM Generasi Keenam dengan Sembilan Pilar Utama
• 21 jam lalupantau.com
thumb
Degradasi Ekologi-Lingkungan Diawali dari Krisis Paradigmatik
• 8 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.