Belanja untuk Tangani Perubahan Iklim hanya 3 Persen dari APBN, Kemenkeu Ajak Partisipasi Swasta

idxchannel.com
6 jam lalu
Cover Berita

Indonesia setidaknya membutuhkan pembiayaan antara Rp794 triliun hingga Rp800 triliun setiap tahun untuk mewujudkan target Net Zero Emission (NZE) pada 2060.

Belanja untuk Tangani Perubahan Iklim hanya 3 Persen dari APBN, Kemenkeu Ajak Partisipasi Swasta. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat sepanjang periode 2018 hingga 2024, rata-rata anggaran pemerintah untuk penanggulangan dampak perubahan iklim di dalam negeri menembus Rp73,5 triliun per tahun.

Plt Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan (SPSK) Kemenkeu, Herman Saheruddin, menjelaskan porsi pendanaan ramah lingkungan tersebut setara dengan kisaran 3 persen dari postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). 

Baca Juga:
Pemulihan Aset Kejagung Perkuat APBN, Kemenkeu Terima Rp1,029 Triliun

Meski begitu, kebutuhan riil di lapangan masih sangat besar. 

“Belanja terkait iklim mencapai sekitar 3 persen dari APBN, dengan rata-rata pengeluaran tahunan lebih dari Rp70 triliun,” kata Herman dalam Maybank Indonesia Sustainable Finance Forum 2026 di Jakarta, Selasa (30/6/2026).

Baca Juga:
Harga Minyak Turun, Purbaya Pede Defisit APBN Tak Lewati 3 Persen

Berdasarkan kalkulasi data dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Indonesia setidaknya membutuhkan pembiayaan antara Rp794 triliun hingga Rp800 triliun setiap tahun untuk mewujudkan target Net Zero Emission (NZE) pada 2060.

Karena itu, pemenuhan dana dari kas negara saja tidak cukup.

Baca Juga:
Banggar Setujui Pagu Anggaran 7 Kementerian dalam RAPBN 2027, Berikut Rinciannya

Kemenkeu kini menggeser fungsi APBN sebagai instrumen pemantik (katalis) untuk memitigasi risiko investasi, memperkuat kepercayaan pasar, serta menarik modal dari korporasi swasta dalam skala yang jauh lebih masif.

“Oleh karena itu, belanja publik tidak boleh dipandang sebagai solusi akhir, melainkan sebagai katalis yang mendorong partisipasi lebih besar dari sektor swasta,” kata Herman.

Herman meyakini misi besar pembangunan berkelanjutan ini hanya akan mencapai keberhasilan apabila otoritas pengambil kebijakan dan para pelaku pasar finansial mampu bersinergi.. 

Untuk merealisasikannya, pemerintah telah merancang arsitektur pembiayaan iklim komprehensif yang mengombinasikan modal sektor publik-swasta serta mengkolaborasikan mitra domestik dengan lembaga internasional.

“Karena itu, Indonesia telah mengembangkan arsitektur pembiayaan iklim yang menggabungkan sumber daya dari sektor publik dan swasta, serta dari mitra domestik maupun internasional,” tutur Herman.

Dari sisi kas negara, pembiayaan lingkungan dipastikan terus disokong melalui APBN, pos belanja pemerintah daerah, insentif fiskal, hingga instrumen inovatif seperti Green Sukuk (sukuk hijau), SDG Bonds, Blue Bonds (obligasi biru), serta Disaster Pooling Fund (dana bersama penanggulangan bencana).

Di saat yang bersamaan, pemerintah mendorong perluasan partisipasi dari sektor perbankan konvensional, pasar modal, optimalisasi pasar karbon, dana filantropi, investasi korporasi, skema blended finance (bauran pembiayaan), hingga kerja sama internasional lewat bank pembangunan multilateral.

“Setiap sumber pembiayaan harus saling melengkapi agar aksi iklim dapat dilaksanakan pada skala kecepatan yang dibutuhkan,” kata Herman.

(NIA DEVIYANA)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Anggaran Mitigasi Perubahan Iklim Hanya 3% APBN, Kemenkeu Dorong Peran Swasta
• 9 jam lalubisnis.com
thumb
AC Milan resmi daratkan penyerang Goncalo Ramos
• 2 jam laluantaranews.com
thumb
Ternyata Taufik Hidayat Sempat Cari Dedi Mulyadi Sebelum Ditangkap Polisi
• 15 jam laludetik.com
thumb
Jaya Real Property (JRPT) Bubarkan dan Likuidasi Anak Usaha
• 15 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Melamar Kerja Masih Ditanya Suku, Anak Muda Menggugat Keberagaman yang Sesungguhnya
• 6 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.