MALANG, KOMPAS - Kondisi ekonomi tak banyak berpengaruh terhadap kunjungan wisatawan ke Malang Raya, Jawa Timur. Hal ini setidaknya terlihat dari okupansi hotel selama libur panjang sekolah yang rata-rata mencapai 70 persen. Bahkan, pada akhir pekan, okupansinya bisa tembus 80 persen lebih.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Malang Agoes Basoeki, Selasa (30/6/2026), mengatakan, wisatawan masih mengalir ke Malang meski harga bahan bakar tertentu dan suku bunga bank naik, beberapa pekan lalu. Bahkan, beberapa hari terakhir sempat terjadi antrean biosolar di beberapa daerah di Jatim.
“Di jalanan, kendaraan wisatawan dari luar daerah terlihat ramai. Selama weekend kemarin okupansi hotel mencapai 80 persen, hampir 90 persen. Bahkan beberapa hotel ada yang penuh,” ujarnya.
Selain libur panjang sekolah, menurut Agoes, sejumlah agenda yang berlangsung selama bulan Juni berdampak terhadap kunjungan wisatawan ke kota berhawa sejuk itu. “Sejak awal sampai akhir Juni banyak event, mulai lari, kegiatan pemerintahan oleh kementerian, dan lainnya. Itu semua berpengaruh,” katanya.
Malang, ujar Agoes, masih dianggap sebagai lokasi wisata favorit oleh warga, tak hanya dari Jatim, tetapi juga daerah lain.
Salah satu wisatawan asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Mei Sari Prihatini, menuturkan, Malang menjadi pilihan mengisi libur panjang sekolah dikarenakan lokasinya tidak terlalu jauh dibandingkan ke Jakarta, Bandung, Bali, maupun luar negeri.
Lokasinya juga mudah dijangkau, hanya satu jam perjalanan dari Bandara Juanda di Sidoarjo. “Selain itu, cuaca di Malang dan Batu juga mendukung. Obyek wisatanya beragam. Banyak obyek wisata baru yang tahun kemarin belum ada, saat ini muncul,” katanya.
Bersama suami dan dua anaknya, Mei menghabiskan waktu satu pekan di Malang Raya dengan mengunjungi berbagai lokasi wisata. Dia mengaku biaya akomodasi kali ini naik sekitar 20-30 persen dari sebelumnya, namun hal itu tidak menjadi persoalan.
“Senang bisa healing ke Malang dan Batu. Tempat rekreasi dan hotelnya sepadan. Udaranya juga enak, sejuk. Jadi lebih banyak untungnya dibanding kenaikan biaya akomodasi,” tutur Mei yang sudah beberapa kali melancong ke Malang.
Sementara itu, tingginya okupansi hotel dibenarkan General Manager Hotel Santika Premiere Malang Zainuddin dan Sales Manager Suci Andriani. Menurut mereka, okupansi selama Juni masih tinggi dan ditutup hampir 89 persen.
Mereka pun optimistis okupansi pada Juli lebih tinggi lagi karena libur panjang masih berlangsung hingga 12 hari ke depan. Selain itu, libur panjang bersamaan dengan event pemerintahan dan perusahaan. “Korporasi juga jalan. Di Santika, event korporasi masih mendominasi,” ujar Zainuddin.
Wisatawan asing yang datang dan menginap, menurut Zainuddin, juga cukup banyak, seperti dari Belanda, Spanyol, dan Jerman. Mereka mulai masuk April-Mei dan puncaknya diperkirakan terjadi pada Juli-Agustus. Saat ini, Santika Malang memiliki 112 kamar dan akan bertambah menjadi 170-an kamar pada tahun depan.
Meski di tengah kondisi efisiensi, menurut Zainuddin, tingkat hunian hotel tahun ini masih ada pertumbuhan. Hanya saja dari sisi kegiatan pertemuan, insentif, konvensi, dan pameran (MICE) agak kurang karena sejauh ini kegiatan itu lebih banyak dilakukan oleh sektor pemerintahan dan pendidikan.
Hotel Santika Malang sendiri menyiapkan paket khusus yang berhubungan dengan keluarga, salah satunya menu makan malam bertema tertentu yang menarik untuk anak muda hingga orang tua. “Sekarang yang akan di-launching Sumatera, rempah Andalas dipilih. Tahun lalu Jawa sudah. Kita ingin mengangkat Nusantara karena mendekati bulan Agustus,” ujarnya.





