Air Baku dari Saguling-Cirata, Akses PDAM Bandung Ditargetkan Tembus 40%

bisnis.com
7 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, BANDUNG – Pemerintah Kota Bandung tengah mengakselerasi peningkatan cakupan layanan air bersih melalui rencana investasi pembangunan jaringan pipa air baku dari Waduk Saguling dan Cirata. Langkah ini diproyeksikan mampu mendongkrak akses layanan perpipaan guna mengejar target 40%.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengungkapkan bahwa proyek infrastruktur tersebut dirancang untuk menyuplai air baku dengan kapasitas mencapai 3.500 liter per detik. Namun, hingga saat ini realisasi investasi tersebut masih menghadapi tantangan pada proses persetujuan administratif.

"Kita sedang melanjutkan pembicaraan investasi pembangunan pipa dari Saguling dan Cirata sebanyak 3.500 liter per detik ke Kota Bandung. Semua sudah siap, tapi sampai hari ini kami belum mendapatkan persetujuan dari Indonesia Power," ujar Farhan di Pendopo Kota Bandung, Senin (29/6/2026).

Baca Juga : Pemkot Bandung Matangkan Model Bisnis Angkot Pintar

Farhan menjelaskan proses tersebut masih menghadapi sejumlah kendala teknis, terutama terkait jaminan ketersediaan air saat musim kemarau. Menurutnya, fluktuasi debit air di kawasan pembangkit listrik menjadi faktor krusial yang harus dipertimbangkan.

"Dalam keadaan musim kemarau, kalau air di Indonesia Power (Saguling) kurang, ya kita tidak bisa dapat air. Maka itu masih jadi pembicaraan secara teknis yang tidak mudah sama sekali," katanya.

Guna menyiasati keterbatasan pasokan, Pemkot Bandung juga tengah menggulirkan inovasi melalui teknologi penyulingan atau filterisasi air Sungai Cikapundung. Air hasil olahan tersebut direncanakan untuk memenuhi kebutuhan domestik di luar konsumsi minum.

"Air Sungai Cikapundung akan digunakan sebagai air bersih untuk kepentingan non-konsumsi, seperti untuk bersih-bersih, mandi, dan lain-lain," jelas Farhan.

Mengenai target layanan, Farhan menuturkan pemerintah saat ini fokus meningkatkan cakupan secara bertahap dari 38% menuju 40%. Peningkatan secara moderat ini diambil sebagai pilihan yang paling realistis di tengah keterbatasan sumber air baku di wilayah Kota Bandung.

"Kalau sekarang kita masih mengejar 40% dulu, dari 38% ke 40%. Kenapa tidak bisa langsung ke 100%? Karena sumber air baku di Kota Bandung sudah tidak ada. Kita membeli semuanya dari provinsi dan kabupaten," ungkapnya.

Di sisi lain, Pemkot Bandung terus berupaya menekan tingkat kehilangan air atau non-revenue water (NRW) pada jaringan distribusi. Farhan menyebut, tingkat kebocoran yang sebelumnya mencapai 40% kini telah berhasil ditekan menjadi 37% berkat kerja sama intensif dengan sejumlah mitra strategis serta dukungan teknis dari Pemerintah Jepang.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bukan Sulap! 6 Makanan Ini Bantu Hilangkan Perut Buncit
• 14 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Seminar Nasional Ungkap Matano sebagai Jejak Peradaban Awal Metalurgi di Nusantara
• 18 jam laluharianfajar
thumb
Ramalan Keuangan Zodiak 1 Juli 2026: Libra Paling Untung, Pisces Harus Sabar
• 23 jam lalutvonenews.com
thumb
Waka DPR Pastikan Tampung Aspirasi MUI soal RUU Pidana LGBT
• 8 jam laludetik.com
thumb
Polisi Gelar Pra Rekonstruksi 2 Kali di 4 TKP Kasus Penyekapan Wanita di Bandung
• 14 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.