Liputan6.com, Jakarta - Setiap tanggal 1 Juli, Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) memperingati Hari Bhayangkara, sebuah nama yang tidak hanya menjadi identitas institusi, tetapi juga menyimpan jejak sejarah panjang dari era Kerajaan Majapahit. Penamaan ini bukan sekadar simbol tanpa makna, melainkan cerminan dari semangat dan fungsi pasukan elite yang dahulu dipimpin oleh Mahapatih Gajah Mada, figur sentral dalam sejarah Nusantara.
Secara etimologis, istilah Bhayangkara berasal dari bahasa Sansekerta yang bermakna 'penjaga', 'pengawal', 'pengaman', atau 'pelindung keselamatan negara dan bangsa'. Interpretasi lain dari bahasa Jawa Kuno menguraikan Bhayangkara dari gabungan kata 'bhaya' yang berarti 'bahaya' atau 'menakutkan', serta 'ahangkara' yang berarti 'aku' atau 'kami'.
Advertisement
Gabungan ini dimaknai sebagai 'kami yang menakutkan' atau 'kami pembawa bahaya bagi musuh', menggambarkan wibawa dan tugas pasukan tersebut sebagai pelindung raja.
Menariknya, sejarah nama Bhayangkara telah dikenal jauh sebelum Majapahit mencapai puncak kejayaannya. Istilah ini bahkan sudah tercatat dalam Kitab Negarakertagama, merujuk pada masa Kerajaan Singasari di bawah pemerintahan Raja Kertanegara yang berkuasa antara tahun 1254 hingga 1292 Masehi.
Ini menunjukkan bahwa Pasukan Bhayangkara merupakan warisan dari tatanan negara sebelumnya, bukan murni kreasi Majapahit.




