Televisi pemerintah Iran menuai kritikan dan protes karena memotong siaran wawancara dengan ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, yang juga negosiator utama Teheran dalam perundingan dengan Amerika Serikat (AS).
Protes terhadap pemotongan siaran wawancara itu, seperti dilansir AFP, Rabu (1/7/2026), dilontarkan oleh pusat media parlemen Iran, yang menuduh televisi pemerintah Iran, Islamic Republic of Iran Broadcasting atau IRIB, tidak berkoordinasi dengan pihaknya.
"Pembicaraan ini telah diserahkan kepada Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB) lebih dari dua jam sebelum waktu penayangan; namun sayangnya, penayangan diskusi ini dihentikan di tengah jalan," demikian bunyi pernyataan protes dari pusat media parlemen Iran.
"Padahal, diskusi tersebut telah direkam dan langkah minimal yang seharusnya dilakukan para pejabat IRIB adalah berkoordinasi dengan pusat media parlemen, jika mereka memutuskan untuk tidak menayangkan sebagian diskusi yang bertentangan dengan prosedur," imbuh pernyataan tersebut.
IRIB, dalam pernyataannya, berdalih bahwa wawancara itu dibagi menjadi dua bagian, dengan bagian kedua akan ditayangkan pada Rabu (1/7) malam.
Pusat media parlemen Iran mencatat bahwa bagian-bagian yang dipotong mencakup topik mengenai inspeksi oleh badan pengawas nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), aset-aset Teheran yang dibekukan, dan kredit rekonstruksi senilai US$ 300 miliar.
Banyak kalangan garis keras di Iran, termasuk anggota parlemen dan tokoh media konservatif, yang mengkritik kesepakatan awal yang diteken oleh Teheran dan Washington untuk mengakhiri konflik.
Bulan lalu, seorang presenter televisi pemerintah Iran menyerukan penutupan Bandara Mehrabad di Teheran agar tim negosiasi Iran tidak dapat bepergian ke Swiss untuk melakukan pembicaraan dengan delegasi AS.
(nvc/ita)





