JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah Provinsi DKI diminta tidak hanya fokus mempercantik area pusat kota atau segitiga emas, tetapi juga memperhatikan pembangunan infrastruktur di kawasan pinggiran dan perbatasan Jakarta.
Sorotan ini datang setelah Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung menyampaikan wacana pembangunan "Jembatan Cinta" di kawasan Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan.
Anggota Komisi A DPRD DKI Jakarta, Kevin Wu, menyebut semua warga seharusnya memiliki hak akan pembangunan di Jakarta.
Baca juga: Pramono Ingin Bikin Jembatan Cinta di Rasuna Said Jaksel, Warga Bisa Pasang Gembok Pasangan
"Warga di Jakarta Barat, Jakarta Timur, Jakarta Utara, maupun wilayah lainnya juga berhak merasakan pembangunan yang merata. Jangan sampai muncul kesan bahwa proyek-proyek yang bersifat ikonik lebih diprioritaskan dibanding kebutuhan dasar masyarakat," kata Kevin saat dihubungi Kompas.com melalui pesan singkat, Rabu (1/7/2026).
Menurutnya, masih banyak kebutuhan infrastruktur dasar di berbagai wilayah Jakarta yang kondisinya memprihatinkan dan lebih mendesak untuk dibenahi.
Misalnya, perbaikan kondisi jembatan penyeberangan orang (JPO) yang kurang layak, trotoar yang belum ramah bagi penyandang disabilitas, pembuatan taman, hingga penataan kawasan permukiman.
"Pembangunan Jakarta harus dimulai dari menjawab kebutuhan warga, bukan sekadar menghadirkan proyek yang menarik secara visual," ucapnya.
Penyakit lama Pemprov DKIKritik senada disampaikan Pengamat Kebijakan Publik Universitas Trisakti, Trubus Rahadiansyah.
Ia menilai kebiasaan memprioritaskan kawasan pusat kota dibandingkan wilayah perbatasan adalah masalah klasik pemerintah yang terus berulang.
"Ini penyakitnya, selalu yang dipercantik, yang instagrammable daerah Thamrin-Sudirman dan sekitarnya doang. Ujung-ujungnya kemanfaatan publiknya enggak ada. Semata-mata pencitraan saya menilainya," ucap Trubus.
Baca juga: Tangan-tangan yang Menjaga Kebersihan dan Kenyamanan di Jakarta Fair...
Trubus bahkan menyebut proyek Jembatan Cinta di Rasuna Said tak lebih dari sekadar gimik karena hanya mengacu pada estetika.
"Bisa jadi dikatakan seperti gimik pencitraan. Karena memang posisinya daerah bukan untuk pejalan kaki. Jadi jembatan cinta apalagi itu, enggak ada (kemanfaatan publiknya)," kata dia.
Trubus pun meminta agar Pemprov DKI untuk mengalihkan fokus pada pembangunan infrastruktur penunjang keselamatan di pinggiran Jakarta, seperti perlintasan sebidang rel kereta api yang kerap menelan korban jiwa.
"Misalnya di Kali Anyar, dekat Roxy itu. Terus di jalan pinggir BKT (Banjir Kanal Timur), di daerah Pejompongan yang menuju Lembaga Administrasi Negara itu kan rel kereta api masih utuh. Dibangun saja itu jembatan," jelas Trubus.
"Masa enggak belajar dari pengalaman kemarin di Bekasi yang taksi online ketabrak kereta, harusnya kan dibikin jembatan penyeberangan," sambungnya.





