Psikolog Bagikan Kiat Mencegah Victim Blaming di Media Sosial

republika.co.id
7 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Masih ingat kasus penyekapan perempuan bernama Yuvita di Bandung? Tidak sedikit orang yang menuding Yuvita pantas menjadi korban akibat dia mau disekap selama tiga tahun.

Psikolog klinis Gisella Tani Pratiwi, M.Psi, Psikolog menekankan perlunya mengedepankan empati saat menyikapi kasus kekerasan apa pun jenisnya. Terutama kekerasan dalam relasi yang ramai diperbincangkan di media sosial, lantaran tidak mengetahui seperti apa kondisi yang terjadi sesungguhnya yang dialami korban.

Baca Juga
  • Kejagung: Restitusi Korban Kekerasan Seksual Belum Maksimal Pulihkan Trauma
  • Polda Jabar Dalami Korban Lain dalam Kasus Taufik Hidayat, Buka Posko Pengaduan
  • Menteri PPPA Imbau Publik Tak Hakimi Korban Penyekapan Bandung

Ia membagikan sejumlah kiat yang bisa dilakukan dalam mencegah victim blaming atau perilaku menyalahkan korban tindak kekerasan terutama di media sosial. “Tindakan baik, seperti berkomentar atau apa pun, minimal tidak memperparah kondisi korban. Pikirkan ulang ketika ingin mengetikkan sesuatu, baca kembali sebelum kita komen, mudah-mudahan akan mengurangi bagaimana kita bisa victim blaming terutama di media sosial,” kata Gisella, ketika dihubungi, Rabu (2/7/2026).

Gisella menyampaikan hal yang bisa dilakukan sebelum menanggapi atau berkomentar di media sosial saat melihat kasus kekerasan terutama kekerasan dalam relasi yakni membaca kembali kalimat yang telah diketik untuk memastikan isinya pantas disampaikan. Kemudian, mencoba bayangkan ketika berada di pihak korban dan mempertimbangkan apakah komentar tersebut benar-benar dapat membantu.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Masyarakat juga perlu mengevaluasi perasaan pribadi yang muncul saat membaca suatu kasus baik di media sosial maupun di artikel berita agar lebih memahami respons yang akan diberikan. “Apa yang saya merasa terkoneksi, misalnya dalam level ‘oh saya pernah tahu teman saya punya kondisi demikian, atau saya sendiri pernah berada dalam kondisi yang mirip’, sehingga kita lebih sadar diri ketika melakukan sesuatu termasuk berkomentar bisa lebih berempati, memberikan sesuatu yang tidak menambah kesengsaraannya si korban,” tuturnya.

Psikolog yang berpraktik di Jakarta itu juga menyoroti victim blaming kerap ditemukan di masyarakat. Bahkan pada kasus yang sangat ekstrem di mana korbannya sudah jelas-jelas menderita, baik secara fisik maupun secara psikologis.

Victim blaming ini dipicu salah satunya karena tidak memahami dinamika yang dialami korban, terutama pada orang yang tidak pernah mengalami hubungan yang penuh kekerasan. "Merasa bahwa 'kan logikanya kalau disakiti ya menjauh'. Tapi mereka kurang paham bahwa dalam konteks relasi yang berkekerasan, terdapat manipulasi psikologis, relasi yang dimonopoli ataupun dikuasai, didominasi oleh si pelaku dengan beragam motifnya bisa ekonomi, emosional, seksual, macam-macam. Itu yang mungkin kurang dipahami, kemudian banyak yang masih victim blaming,” kata dia.

 

.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;}
sumber : Antara
@font-face { font-family: "LPMQ"; src: url("https://static.republika.co.id/files/alquran/LPMQ-IsepMisbah.ttf") format("truetype"); font-weight: normal; font-style: normal } .arabic-text { font-family: "LPMQ"; font-weight: normal !important; direction: rtl; text-align: right; font-size: 2.5em !important; line-height: 49px !important; }
Advertisement

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Desa Sejahtera Astra Kemiren Andalkan Budaya Osing untuk Dongkrak Pendapatan Warga
• 2 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Terungkap Open BO Pria di Balik Pembunuhan Pria di Bekasi
• 14 jam laludetik.com
thumb
Viral Parodi Koperasi Desa, Menkop Ferry Sebut Tak Hanya Jual Sembako Tapi Lawan Rentenir dan Pinjol
• 16 jam lalukompas.tv
thumb
Modus Tipu-tipu Pengajuan Kredit Rp 992 M ke LPEI Terungkap di Sidang
• 23 jam laludetik.com
thumb
MenPANRB Rini Bertemu Mendagri dan Opung Luhut, Ini yang Dibahas
• 11 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.