Nilai tukar rupiah kembali dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (2/7/2026), sehingga semakin mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka di level Rp17.984 per dolar AS. Posisi tersebut melemah 32 poin atau 0,18 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah pergerakan mata uang Asia yang cenderung bervariasi terhadap dolar AS. Mata uang Garuda menjadi salah satu mata uang di kawasan yang masih berada di zona merah.
Selain rupiah, ringgit Malaysia juga tercatat melemah terhadap greenback dengan koreksi sebesar 0,21 persen.
Di sisi lain, sejumlah mata uang Asia berhasil menguat terhadap dolar AS. Rupee India memimpin penguatan dengan kenaikan 0,61 persen, diikuti won Korea Selatan yang menguat 0,25 persen.
Baca Juga: Dampak Pelemahan Rupiah, BPS Catat Kenaikan Harga Ponsel dan Laptop di Juni 2026
Baca Juga: Pesan Purbaya ke Pejabat Eselon I Baru: Setiap Rupiah Harus Bermanfaat bagi Rakyat
Selanjutnya, dolar Taiwan menguat 0,08 persen, sementara yuan China dan baht Thailand masing-masing menguat 0,07 persen terhadap dolar AS.
Adapun dolar Singapura dan peso Filipina juga mencatat penguatan tipis masing-masing sebesar 0,04 persen.
Pergerakan beragam mata uang Asia tersebut mencerminkan sentimen pasar yang masih berhati-hati terhadap prospek ekonomi global dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat, yang terus memengaruhi pergerakan mata uang di kawasan.





