Jakarta (ANTARA) - Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI menjajaki kolaborasi riset filantropi Islam, studi komparatif pengelolaan zakat, serta strategi pengentasan kemiskinan berbasis pemberdayaan ekonomi bersama Universitas Islam Sultan Sharif Ali (UNISSA) Brunei Darussalam.
Pimpinan Bidang Riset, Pengembangan, Perencanaan, dan Inovasi Baznas RI Syarifuddin dalam keterangan di Jakarta, Kamis, menilai hasil penelitian ke depan harus bisa menemukan terobosan baru dan memperlihatkan perbedaan keunikan zakat pada masing-masing negara agar bisa menjadi solusi bagi kemajuan umat.
"Salah satu tantangan riset kita itu adalah kita ingin menjawab research gap, sehingga hal-hal yang baru dari riset teman-teman diharapkan dapat menjawab kebutuhan dan tantangan yang tentu berbeda antara Indonesia dan Brunei," katanya.
Baca juga: Kemdiktisaintek-Baznas kolaborasi perkuat akses pendidikan tinggi
Syarifuddin mengatakan Baznas sebagai lembaga amil yang memiliki otoritas dari pemerintah, sedang berfokus menyelaraskan model pengelolaan dengan kebijakan prioritas negara melalui program integrasi data mustahik demi menjamin penyaluran zakat yang adil dan merata.
Sebagai wujud nyata penyelarasan tersebut, Baznas RI menggandeng Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) untuk meninjau langsung tiga titik program unggulan di daerah guna mencari role model penanggulangan kemiskinan ekstrem.
"Kami bersama Bappenas sedang kunjungan lapangan ke tiga titik program kami, yaitu microfinance desa di Bukittinggi, Zmart di Polewali Mandar, serta lumbung pangan di Kalimantan Selatan untuk melihat kontribusinya pada pengurangan kemiskinan," ujar Syarifuddin.
Baca juga: Baznas RI dorong riset jadikan penguat ekosistem zakat berdampak
Sementara itu Dosen Fakultas Syariah UNISSA Dr Cecep Soleh Kurniawan didampingi oleh tim menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat pihak Baznas RI dalam memfasilitasi agenda silaturahmi, sekaligus penelitian filantropi Islam antarnegara ini.
Dalam pemaparannya, tim peneliti UNISSA mengibaratkan kompleksitas permasalahan pengelolaan zakat di Indonesia seperti kondisi historis di Irak yang selalu berhasil memantik lahirnya berbagai ide kreatif dan inovatif.
"Kalau di Madinah kan permasalahan itu landai, sehingga muncullah madrasah (mazhab) ahlul hadis (mengedepankan sunah) ketika itu, sedangkan di Irak ahlul ra'yi (mengedepankan akal) karena permasalahan ketika itu sangat luar biasa sehingga memantik ide-ide yang cukup kreatif," ujar Cecep.
Baca juga: Baznas gandeng BRIN perkuat SDM iptek RI lewat Beasiswa Riset 2025
Pimpinan Bidang Riset, Pengembangan, Perencanaan, dan Inovasi Baznas RI Syarifuddin dalam keterangan di Jakarta, Kamis, menilai hasil penelitian ke depan harus bisa menemukan terobosan baru dan memperlihatkan perbedaan keunikan zakat pada masing-masing negara agar bisa menjadi solusi bagi kemajuan umat.
"Salah satu tantangan riset kita itu adalah kita ingin menjawab research gap, sehingga hal-hal yang baru dari riset teman-teman diharapkan dapat menjawab kebutuhan dan tantangan yang tentu berbeda antara Indonesia dan Brunei," katanya.
Baca juga: Kemdiktisaintek-Baznas kolaborasi perkuat akses pendidikan tinggi
Syarifuddin mengatakan Baznas sebagai lembaga amil yang memiliki otoritas dari pemerintah, sedang berfokus menyelaraskan model pengelolaan dengan kebijakan prioritas negara melalui program integrasi data mustahik demi menjamin penyaluran zakat yang adil dan merata.
Sebagai wujud nyata penyelarasan tersebut, Baznas RI menggandeng Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) untuk meninjau langsung tiga titik program unggulan di daerah guna mencari role model penanggulangan kemiskinan ekstrem.
"Kami bersama Bappenas sedang kunjungan lapangan ke tiga titik program kami, yaitu microfinance desa di Bukittinggi, Zmart di Polewali Mandar, serta lumbung pangan di Kalimantan Selatan untuk melihat kontribusinya pada pengurangan kemiskinan," ujar Syarifuddin.
Baca juga: Baznas RI dorong riset jadikan penguat ekosistem zakat berdampak
Sementara itu Dosen Fakultas Syariah UNISSA Dr Cecep Soleh Kurniawan didampingi oleh tim menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat pihak Baznas RI dalam memfasilitasi agenda silaturahmi, sekaligus penelitian filantropi Islam antarnegara ini.
Dalam pemaparannya, tim peneliti UNISSA mengibaratkan kompleksitas permasalahan pengelolaan zakat di Indonesia seperti kondisi historis di Irak yang selalu berhasil memantik lahirnya berbagai ide kreatif dan inovatif.
"Kalau di Madinah kan permasalahan itu landai, sehingga muncullah madrasah (mazhab) ahlul hadis (mengedepankan sunah) ketika itu, sedangkan di Irak ahlul ra'yi (mengedepankan akal) karena permasalahan ketika itu sangat luar biasa sehingga memantik ide-ide yang cukup kreatif," ujar Cecep.
Baca juga: Baznas gandeng BRIN perkuat SDM iptek RI lewat Beasiswa Riset 2025





