Bisnis.com, JAKARTA — Dewan Direksi Bank Dunia memutuskan menghapus target alokasi 45% investasi untuk mendukung mitigasi dan adaptasi iklim, menyusul tekanan dari pemerintahan Amerika Serikat (AS) selaku pemegang saham terbesar.
Keputusan yang diumumkan Senin (29/6/2026) itu sekaligus memperpanjang Climate Change Action Plan (CCAP) yang dijadwalkan berakhir pada Juni 2026, disertai kesepakatan untuk melakukan tinjauan terhadap rencana tersebut. Bank Dunia juga akan menghapus target terkait sebesar 35% yang tercantum dalam CCAP.
Penghapusan target pembiayaan iklim ini terjadi meski mendapat perlawanan dari koalisi besar negara-negara berkembang dan pemegang saham lainnya yang terdiri dari hampir 100 negara. Blok ini menyerukan agar komitmen pembiayaan iklim dipertahankan.
Dalam pernyataannya, Bank Dunia menyebut kerangka CCAP selama ini telah berfungsi dengan baik dan akan dilanjutkan. Bank Dunia juga menyatakan akan terus memantau dan melaporkan dua indikator utama: emisi gas rumah kaca bersih dan jumlah penerima manfaat yang memiliki ketahanan lebih baik terhadap risiko iklim.
"Kemajuan lebih lanjut dalam hal hasil akan terus didorong oleh ambisi negara klien dan dimungkinkan oleh kerja Knowledge Bank, konsisten dengan komitmen internasional negara-negara tersebut," demikian pernyataan Bank Dunia, dikutip Kamis (2/7/2026).
Global Director for Climate, Economics and Finance WRI Melanie Robinson menyayangkan keputusan tersebut dan menilai penghapusan target melemahkan kerangka pembiayaan iklim yang selama ini sudah berjalan.
Baca Juga
- APBN Cuma Menanggung 3%, Siapa Biayai Transisi Hijau Indonesia?
- Anggaran Mitigasi Perubahan Iklim Hanya 3% APBN, Kemenkeu Dorong Peran Swasta
- Perusahaan RI Berlomba Terapkan ESG, Kadin Ungkap Ragam Inovasinya
"Negara-negara berkembang makin banyak mencari investasi yang sekaligus mengurangi kemiskinan dan memanfaatkan peluang pertumbuhan yang lebih tangguh dan hijau. Sejak Rencana Aksi Perubahan Iklim dan targetnya ditetapkan, negara-negara telah menginvestasikan sumber daya Bank Dunia untuk meningkatkan akses energi bersih dan terjangkau serta air, membangun sistem pangan dan kota yang lebih tangguh, dan menciptakan peluang kerja hijau," katanya.
"Sangat disayangkan bahwa sejumlah kecil pemegang saham berhasil melemahkan kerangka ini dengan menghapus targetnya. Penting agar tinjauan yang direncanakan terhadap Rencana Aksi Perubahan Iklim memperkuat, bukan makin mengurangi, kesempatan bagi negara-negara untuk berpartisipasi dalam salah satu transisi ekonomi terpenting di zaman kita," tambahnya.
Bank Dunia menyatakan akan terus mengeksplorasi cara yang lebih baik untuk menstrukturkan keterlibatannya dalam isu adaptasi, alam, dan polusi, serta terus melaporkan perkembangan kepada dewan direksi secara kuartalan dan tahunan melalui saluran yang sudah ada.





