Tangga Lebih Dekat, Mengapa Hampir Semua Orang Tetap Memilih Eskalator?

kumparan.com
13 jam lalu
Cover Berita

Saya pernah menyaksikan sebuah pemandangan yang tampaknya biasa saja di sebuah pusat perbelanjaan. Di depan saya ada dua pilihan untuk menuju lantai berikutnya. Yang pertama adalah tangga biasa, letaknya paling dekat dan hampir tidak ada orang yang menggunakannya. Yang kedua adalah eskalator yang berada belasan meter di sebelah kanan. Untuk mencapainya, orang harus berjalan memutar terlebih dahulu.

Yang menarik, hampir semua orang memilih menuju eskalator.

Mereka rela menambah jarak tempuh, bahkan sesekali harus mengantre, padahal jika langsung menaiki tangga, kemungkinan besar mereka sudah lebih dulu sampai di lantai atas.

Pemandangan itu membuat saya bertanya-tanya.

Jika tujuan akhirnya sama, mengapa orang justru memilih rute yang lebih jauh?

Awalnya saya mengira jawabannya sederhana. Orang hanya ingin menghemat tenaga. Namun, semakin lama saya memperhatikan, penjelasan itu terasa belum cukup.

Bukankah berjalan menuju eskalator juga membutuhkan tenaga?

Artinya, orang tetap mengeluarkan energi sebelum akhirnya berdiri diam di atas anak tangga yang bergerak. Jika dihitung secara sederhana, keputusan itu bahkan tampak bertentangan. Mereka rela berjalan lebih jauh hanya untuk menghindari menaiki beberapa anak tangga.

Di situlah saya mulai menyadari bahwa mungkin yang sedang dihemat bukanlah tenaga yang dipakai saat itu, melainkan tenaga yang akan dibutuhkan setelahnya.

Saya kemudian memperhatikan orang-orang yang memilih eskalator. Ada pegawai yang baru pulang bekerja, ada ibu yang membawa beberapa kantong belanja, ada mahasiswa dengan ransel di punggungnya, bahkan ada anak muda yang hanya menggenggam telepon genggam. Latar belakang mereka berbeda, tetapi pilihan mereka hampir selalu sama.

Mereka memilih eskalator.

Yang menarik, tidak ada satu pun dari mereka yang tampak sedang menghitung berapa detik waktu yang akan dihemat. Sebaliknya, mereka seolah sedang menghitung sesuatu yang tidak terlihat, yaitu tenaga yang masih ingin mereka simpan.

Dalam ekonomi mikro, cara berpikir seperti ini dapat dijelaskan melalui konsep utility maximization. Konsep ini menjelaskan bahwa seseorang tidak selalu memilih alternatif yang paling cepat atau paling murah. Mereka cenderung memilih alternatif yang memberikan utilitas atau kepuasan paling tinggi menurut penilaian mereka sendiri.

Di sinilah banyak orang sering keliru memahami perilaku ekonomi. Kita menganggap manusia selalu mengejar efisiensi waktu. Padahal, dalam banyak situasi, yang mereka maksimalkan justru manfaat secara keseluruhan.

Bagi sebagian orang, manfaat itu berupa tubuh yang tidak terlalu lelah. Bagi yang lain, manfaatnya adalah napas yang tetap stabil setelah seharian bekerja. Ada pula yang hanya ingin menikmati beberapa detik berdiri tanpa perlu mengangkat berat tubuhnya sendiri.

Dengan kata lain, eskalator tidak hanya menawarkan perpindahan dari satu lantai ke lantai berikutnya. Ia menawarkan kenyamanan yang memiliki nilai.

Semakin saya memikirkannya, semakin terasa bahwa orang sebenarnya sedang melakukan sebuah pertukaran.

Mereka rela "membayar" tambahan beberapa langkah, bahkan sedikit waktu untuk mengantre, demi memperoleh sesuatu yang tidak langsung terlihat, yaitu cadangan energi.

Dalam ekonomi, pertukaran seperti ini dikenal melalui konsep opportunity cost. Setiap keputusan selalu memiliki biaya berupa alternatif yang dikorbankan. Ketika seseorang memilih eskalator, biaya yang ia keluarkan adalah tambahan waktu dan jarak tempuh. Sebagai gantinya, ia memperoleh manfaat berupa tenaga yang tetap tersimpan.

Yang menarik, tenaga tersebut bahkan belum tentu langsung digunakan.

Energi yang dihemat baru mungkin terasa berguna beberapa menit atau beberapa jam kemudian. Mungkin ketika masih harus membawa belanjaan menuju parkiran, mengejar transportasi umum, atau menyelesaikan aktivitas lain setelah meninggalkan pusat perbelanjaan.

Tanpa disadari, kita memperlakukan energi tubuh layaknya sumber daya yang terbatas. Sama seperti uang yang tidak ingin dihabiskan sekaligus, tenaga pun dialokasikan agar cukup untuk menjalani seluruh aktivitas dalam satu hari.

Fenomena ini juga menjelaskan mengapa tidak semua orang membuat pilihan yang sama. Ada orang yang justru memilih tangga karena ingin berolahraga atau memang menikmati aktivitas fisik. Bagi mereka, menaiki tangga memberikan utilitas yang lebih besar daripada berdiri di atas eskalator.

Artinya, nilai sebuah pilihan tidak ditentukan oleh bendanya, melainkan oleh bagaimana setiap individu memandang manfaat yang diperoleh dari pilihan tersebut.

Di situlah menariknya ekonomi mikro. Keputusan yang tampak sederhana ternyata dipengaruhi oleh banyak pertimbangan yang tidak selalu terlihat. Rasa lelah, kenyamanan, kondisi tubuh, hingga aktivitas yang masih menunggu setelahnya menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan.

Semakin saya memikirkan pemandangan itu, semakin saya merasa bahwa eskalator bukan sekadar alat transportasi vertikal. Ia menjadi pengingat bahwa manusia tidak hanya mengelola uang, tetapi juga mengelola energi yang dimilikinya.

Mungkin itulah alasan mengapa tangga yang lebih dekat sering kali kalah dari eskalator yang lebih jauh.

Bukan karena orang tidak mampu menaiki tangga, melainkan karena mereka sedang membuat pilihan yang menurut mereka memberikan manfaat paling besar. Dalam kehidupan sehari-hari, keputusan ekonomi tidak selalu ditentukan oleh apa yang paling cepat atau paling dekat, tetapi oleh apa yang dianggap paling bernilai.

Dan tanpa kita sadari, beberapa langkah tambahan menuju eskalator ternyata dapat menceritakan cara manusia mengambil keputusan jauh lebih baik daripada yang selama ini kita bayangkan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
PLN Akan Modifikasi PLTU Bisa Pakai Batu Bara Kalori Rendah untuk Cegah Pemadaman Bergilir
• 22 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Sidang Kasus Pejabat Bea Cukai Lanjut 14 Juli, Pemeriksaan Dipisah
• 4 jam lalukompas.com
thumb
Soal Pajak JHT di Atas Rp50 Juta, Wamenker: Masih Dikaji Kemenkeu
• 6 jam laluidxchannel.com
thumb
FULL! Harga Minyak Dunia Turun, Pakar Bahas Dampak Negosiasi AS-Iran bagi Pertamax Indonesia
• 10 jam lalukompas.tv
thumb
TNI serahkan jenazah pilot AS ke keluarga
• 8 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.