Surabaya/Jakarta – Kementerian Perdagangan (Kemendag) semakin mematangkan penyelenggaraan Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 Tahun 2026 yang akan berlangsung pada 14–18 Oktober 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang, Banten. Mengusung tema “The Ultimate Hub for Global Sourcing”, pameran dagang terbesar dan satu-satunya pameran multiproduk milik Pemerintah Indonesia ini menargetkan peningkatan transaksi ekspor lebih dari 10 persen dibandingkan capaian tahun sebelumnya.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kementerian Perdagangan, TEI 2025 berhasil mencatatkan total transaksi sebesar USD 22,8 miliar, melampaui target yang ditetapkan sekitar USD 16 miliar. Selain itu, pameran tersebut diikuti 1.650 peserta pameran dan dikunjungi 34.550 pengunjung, termasuk 8.045 buyer internasional.
Direktur Pengembangan Ekspor Produk Primer Kemendag, Miftah Farid, menegaskan bahwa Trade Expo Indonesia merupakan instrumen strategis pemerintah untuk memperluas akses pasar ekspor sekaligus mempertemukan pelaku usaha Indonesia dengan buyer dari berbagai negara.
“Melalui Trade Expo Indonesia, pelaku usaha tidak hanya memperoleh kesempatan mempromosikan produknya kepada pasar internasional, tetapi juga membangun jejaring bisnis, mengikuti business matching, serta membuka peluang kerja sama perdagangan yang berkelanjutan,” ujar Miftah saat Sosialisasi Penjaringan Calon Peserta TEI ke-41 Tahun 2026 di Surabaya, Kamis (2/7).
Buyer Dikurasi KetatDirektur Utama PT Debindomulti Adhiswasti, Vibiadhi Swasti Pradana, mengungkapkan bahwa penyelenggaraan TEI 2026 menghadirkan sejumlah inovasi untuk meningkatkan kualitas transaksi bisnis.
Salah satu program unggulan adalah hosted buyer program, di mana penyelenggara menyediakan sekitar 250 kamar hotel bintang empat dan lima bagi buyer internasional terpilih yang akan menghadiri pameran.
Menurut Vibiadhi, buyer yang diundang tidak hanya melalui proses registrasi biasa, tetapi juga harus melalui tahapan kurasi yang ketat. Mereka diwajibkan menunjukkan kebutuhan produk yang spesifik dan mengikuti agenda business matching sesuai sektor yang dicari.
“Kalau buyer mencari produk kopi, misalnya, mereka akan diarahkan untuk melakukan pertemuan bisnis dengan sejumlah perusahaan kopi yang berpartisipasi dalam pameran. Jadi pertemuan yang terjadi lebih terarah dan berpotensi menghasilkan transaksi,” katanya.
Selain itu, penyelenggara memperluas kegiatan promosi dan penjaringan peserta melalui berbagai daerah di Indonesia serta melakukan roadshow ke lebih banyak negara. PT Debindo juga menggandeng sejumlah penyelenggara pameran internasional untuk menjaring buyer potensial dari pasar global.
Target Transaksi dan Buyer MeningkatOptimisme penyelenggara terhadap TEI 2026 tidak lepas dari capaian tahun sebelumnya yang melampaui target. Karena itu, target transaksi tahun ini dinaikkan lebih dari 10 persen dibanding target sebelumnya, sehingga berpotensi menembus angka USD 25 miliar.
Dari sisi partisipasi, penyelenggara membidik lebih dari 1.500 buyer internasional dengan fokus pada peningkatan kualitas dan relevansi kebutuhan buyer terhadap produk-produk yang dipamerkan.
TEI 2026 akan menampilkan enam zona utama, yaitu:
- Food, Beverage & Agriculture Products;
- Manufactured Products;
- Industrial Estate;
- Fashion & Craft;
- Furniture & Home Decor;
- Trade and Services.
Selain pameran, kegiatan juga akan diramaikan dengan business matching, business counseling, forum bisnis, penandatanganan nota kesepahaman (MoU), hingga pemberian penghargaan Primaniyarta dan Primaduta.
Jawa Timur Jadi Salah Satu Motor EksporDalam kegiatan sosialisasi di Surabaya, Kemendag mendorong pelaku usaha Jawa Timur untuk meningkatkan partisipasi dalam TEI 2026. Jawa Timur dinilai sebagai salah satu kontributor utama ekspor nasional, terutama untuk produk primer dan manufaktur bernilai tambah.
Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan Luar Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur, Erivina Lucky Kristian, mengatakan sinergi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pelaku usaha menjadi faktor penting dalam memperkuat kontribusi ekspor daerah terhadap kinerja ekspor nasional.
“Melalui berbagai program pembinaan dan fasilitasi, pelaku usaha diharapkan semakin siap memasuki pasar global,” ujarnya.
Pameran Dagang Strategis di Tengah Tantangan GlobalVibiadhi menilai TEI memiliki posisi unik karena merupakan satu-satunya pameran dagang multiproduk berskala nasional yang dimiliki pemerintah. Berbeda dengan pameran sektoral yang hanya berfokus pada industri tertentu, TEI mempertemukan berbagai sektor dalam satu platform perdagangan internasional.
Menariknya, penyelenggaraan TEI tidak menggunakan dana APBN, melainkan dikelola secara mandiri dengan dukungan berbagai pemangku kepentingan. Dana yang diperoleh dari penyelenggaraan pameran kembali digunakan untuk memperluas promosi produk Indonesia dan menjaring buyer internasional.
Di tengah tantangan perdagangan global yang dipengaruhi kebijakan tarif, ketidakpastian geopolitik, dan meningkatnya biaya logistik, TEI 2026 diharapkan menjadi sarana strategis bagi eksportir nasional untuk memperluas pasar, memperkuat jejaring bisnis, dan menciptakan kemitraan jangka panjang.
Dengan berbagai inovasi yang disiapkan, Trade Expo Indonesia ke-41 diharapkan semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat pengadaan produk global sekaligus mendorong pertumbuhan ekspor nonmigas nasional.





