250 Tahun AS: Dulu "Cuma" Negara Petani, Kini Jadi Bos Pangan Dunia

cnbcindonesia.com
2 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, CNBC Indonesia- Amerika Serikat (AS) pernah dikenal sebagai negara para petani.

Pada akhir abad ke-18, sekitar 90% tenaga kerjanya menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Ladang menjadi pusat aktivitas ekonomi, sementara hampir setiap keluarga mengelola lahan untuk memenuhi kebutuhan pangan maupun menghasilkan komoditas perdagangan.

Dua abad kemudian, peta tersebut berubah total. Pada 2025, pekerja di sektor pertanian hanya sekitar 1,52% dari total tenaga kerja menurut World Bank. Penurunan itu bukan berarti pertanian Amerika melemah, melainkan berubah menjadi salah satu sektor dengan produktivitas tertinggi di dunia.

Baca: Jelang HUT ke-250 AS: Ribuan Warga Amerika Mulai Menyerah Cari Kerja

 

Fondasi pertanian Amerika dibangun sejak masa kolonial pada abad ke-17. Para pendatang dari Eropa membawa sapi, kuda, gandum, dan berbagai tanaman pangan, sementara masyarakat adat memperkenalkan jagung, labu, kacang-kacangan, hingga tembakau.

Setelah kemerdekaan pada 1776, pemerintah membuka wilayah-wilayah baru di bagian barat sehingga lahan pertanian berkembang sangat cepat. Pembelian Louisiana pada 1803 memperluas wilayah budidaya, kemudian pembangunan Erie Canal pada 1825 memangkas biaya distribusi hasil panen ke kota-kota besar dan pelabuhan ekspor.

Perubahan terbesar datang melalui mekanisasi. Pada 1793, Eli Whitney menciptakan cotton gin yang mempercepat pemisahan serat kapas dari bijinya.

Beberapa dekade kemudian, Cyrus McCormick memperkenalkan mesin pemanen mekanis pada 1834, disusul John Deere dengan bajak baja pada 1837 yang mampu membuka lahan padang rumput keras di Midwest.

Baca: 250 Tahun Amerika Serikat: Masih Superpower, tapi Tak Sehebat Dulu

Produktivitas meningkat tajam karena pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan banyak pekerja dapat diselesaikan oleh jauh lebih sedikit orang. Kereta api transkontinental yang selesai pada 1869 kemudian menghubungkan sentra produksi dengan pasar nasional sehingga hasil panen dapat dipasarkan dalam skala jauh lebih besar.

Pemerintah ikut mempercepat transformasi tersebut. Homestead Act 1862 memberikan lahan kepada masyarakat yang bersedia mengolahnya.

Pada tahun yang sama, Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) dibentuk sebagai pusat pengembangan teknologi dan riset pertanian. Hatch Act pada 1887 memperkuat penelitian pertanian, sedangkan Morrill Act memperluas pendidikan tinggi berbasis pertanian melalui jaringan land grant university. Kombinasi kebijakan itu membuat inovasi lebih cepat diterapkan langsung di tingkat petani.

Memasuki abad ke-20, fokus bergeser dari perluasan lahan menuju peningkatan hasil panen. George Washington Carver memperkenalkan sistem rotasi tanaman untuk menjaga kesuburan tanah. Henry A. Wallace mendorong penggunaan benih jagung hibrida yang kemudian mengangkat produktivitas jagung Amerika.

Baca: 17 Bulan Menjabat, Trump Jadi Presiden Terkaya AS-Harta Tembus Rp117 T

Setelah Perang Dunia II, traktor menggantikan kuda sebagai tenaga utama di lahan pertanian, diikuti penggunaan pupuk sintetis, pestisida, irigasi modern, dan mesin panen yang semakin efisien. Pada dekade 1970-an, Norman Borlaug membawa Revolusi Hijau melalui varietas gandum berproduksi tinggi yang kemudian diadopsi banyak negara.

Gelombang inovasi berlanjut hingga era digital. Sejak 1990-an, teknologi GPS mulai digunakan untuk mengatur pemupukan dan penanaman secara presisi. Perkembangan sensor, citra satelit, drone, kecerdasan buatan, serta benih hasil rekayasa genetika memperkecil pemborosan pupuk, air, dan pestisida.

Pertanian berubah menjadi industri berbasis data dengan keputusan yang semakin banyak ditentukan oleh perangkat digital. Teknologi tersebut dikembangkan oleh banyak ilmuwan, termasuk Pierre Robert yang dikenal sebagai pelopor precision agriculture dan Robert Fraley yang berperan dalam pengembangan benih GMO modern.

Perjalanan panjang tersebut tercermin pada perubahan struktur tenaga kerja.

Baca: Kado Pahit Buat HUT Amerika: Ringgit-Rupiah Pimpin Asia Tendang Dolar

Pada 1840 terdapat sekitar 9 juta penduduk yang bekerja sebagai petani, setara 69% tenaga kerja nasional. Jumlah itu terus bertambah hingga lebih dari 30 juta orang pada 1930 seiring bertambahnya populasi Amerika.

Setelah mekanisasi meluas, arah perubahannya berbalik. Populasi petani turun menjadi sekitar 25 juta pada 1950, menyusut lagi menjadi 15,6 juta pada 1960, sekitar 9,7 juta pada 1970, kemudian tinggal 6 juta pada 1980 dan sekitar 4,6 juta pada 1990. Sementara itu, porsi tenaga kerja pertanian terus turun dari 12,2% pada 1950 menjadi 8,3% pada 1960, 4,6% pada 1970, 3,4% pada 1980, 2,6% pada 1990, hingga mencapai sekitar 1,52% pada 2025 berdasarkan estimasi World Bank.

Turunnya jumlah petani tidak diikuti penurunan produksi pangan. Amerika tetap menjadi salah satu eksportir utama jagung, kedelai, gandum, kapas, dan daging dunia. Perubahan tersebut ditopang oleh transformasi besar dalam cara bertani.

Traktor dan mesin panen menggantikan sebagian besar pekerjaan manual, sementara benih hibrida dan varietas unggul meningkatkan hasil panen.

Penggunaan pupuk sintetis, pestisida, serta sistem irigasi modern membuat produktivitas lahan terus meningkat sejak pertengahan abad ke-20. Memasuki era digital, pertanian Amerika memanfaatkan teknologi GPS, sensor tanah, citra satelit, drone, kecerdasan buatan (AI), hingga precision agriculture untuk menentukan waktu tanam, kebutuhan pupuk, irigasi, dan pengendalian hama secara lebih akurat.

Di sektor peternakan, penggunaan robot pemerah susu, sensor kesehatan ternak, serta sistem pemberian pakan otomatis semakin mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja manusia.

Baca: 15 Sesar Maut Membelah Amerika, Gempa Dahsyat Bisa Terjadi Kapan Saja

 

Menurut USDA, pendekatan tersebut memungkinkan petani menghemat penggunaan air, pupuk, dan pestisida sekaligus meningkatkan hasil panen serta efisiensi biaya produksi.

Sementara itu, National Institute of Food and Agriculture (NIFA) menyebut teknologi digital, robotika, sensor, dan sistem berbasis data telah menjadi fondasi utama pertanian modern Amerika karena mampu meningkatkan produktivitas, keamanan pangan, dan keberlanjutan lingkungan.

Kombinasi inovasi inilah yang membuat sektor pertanian Amerika tetap menjadi salah satu yang paling produktif di dunia meski hanya menyerap sekitar 1,5% tenaga kerja nasional.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb) Add as a preferred
source on Google

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bupati Langkat jadi Sorotan Usai Ikut Diamankan KPK
• 7 jam laluliputan6.com
thumb
Pusat Finansial Internasional RI Bakal Punya Pengadilan hingga Pajak Khusus
• 18 jam lalubisnis.com
thumb
Richard Lee Ngamuk di Persidangan, Sebut Kasusnya Tak Patut Dibawa ke Meja Hijau
• 15 jam lalutvonenews.com
thumb
Partai, Rakyat, dan Mesin Kekuasaan
• 6 jam lalukompas.com
thumb
Genjot PAD, Pemprov Banten Aktifkan Payment Point Pajak Kendaraan
• 39 menit lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.