REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kota Surabaya mengembangkan teknologi pirolisis untuk mengolah sampah plastik yang mencemari kawasan mangrove menjadi bahan bakar. Inovasi tersebut diharapkan tidak hanya membantu mengurangi pencemaran pesisir, tetapi juga memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat, khususnya nelayan.
Teknologi pirolisis bekerja dengan memanaskan sampah plastik tanpa oksigen sehingga menghasilkan minyak, gas, dan residu karbon yang masih dapat dimanfaatkan. Sasaran utamanya bukan botol plastik yang masih memiliki nilai jual, melainkan kantong kresek dan berbagai jenis plastik rusak yang selama ini sulit didaur ulang secara konvensional.
- Catatan Singkat dari Ujian Disertasi Menko Yusril
- Konferensi Herzliya Simpulkan Israel Berada di Ambang Kehancuran Akibat Perang
- Melihat Jejak Kopi Bersejarah yang Kembali Tumbuh di Gunung Gambar
Melalui pendekatan tersebut, BRIDA berupaya mengubah limbah plastik bernilai rendah menjadi sumber energi. Nelayan dapat mengumpulkan sampah plastik dari kawasan mangrove untuk diproses menjadi bahan bakar yang kemudian dimanfaatkan kembali bagi aktivitas melaut.
Langkah tersebut dinilai menjadi bagian dari penerapan konsep ekonomi sirkular, yakni menjadikan limbah sebagai bahan baku bagi proses produksi berikutnya sehingga tidak berakhir di tempat pembuangan akhir, sungai, maupun laut.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Persoalan sampah plastik sendiri masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan timbulan sampah nasional mencapai puluhan juta ton setiap tahun, dengan sampah plastik menjadi salah satu penyumbang terbesar. Sebagian berhasil didaur ulang, tetapi tidak sedikit yang berakhir mencemari lingkungan.
Laporan United Nations Environment Programme (UNEP) juga mencatat jutaan ton sampah plastik memasuki lautan setiap tahun. Kondisi tersebut mengancam ekosistem pesisir, merusak habitat biota laut, serta memicu munculnya mikroplastik yang berpotensi masuk ke rantai makanan manusia.
Ekosistem mangrove termasuk kawasan yang paling rentan terdampak. Struktur akar mangrove yang rapat mampu menahan sedimen, tetapi pada saat bersamaan juga menjebak berbagai jenis sampah plastik yang terbawa arus sungai maupun gelombang laut. Akumulasi sampah tersebut dapat menghambat pertumbuhan vegetasi dan menurunkan kualitas habitat berbagai jenis ikan, kepiting, burung, serta biota pesisir lainnya.
Surabaya selama ini dikenal aktif melakukan rehabilitasi kawasan mangrove sebagai bagian dari upaya perlindungan pesisir dan pengurangan emisi karbon. Namun, keberhasilan rehabilitasi dinilai akan sulit optimal apabila pencemaran sampah plastik terus berlangsung.
Meski demikian, pirolisis bukan solusi tunggal untuk mengatasi persoalan sampah plastik. Teknologi tersebut tetap memerlukan pengendalian emisi, pengelolaan residu, standar kualitas bahan bakar, serta pengawasan operasional agar tidak menimbulkan dampak lingkungan baru.




