Maggot Menyulap Sampah Jadi Cuan

kompas.id
1 jam lalu
Cover Berita

Rombongan murid SD Negeri 06 Jatinegara berhenti di depan stan peserta Jakarta Eco Future Festival 2026 di Balai Kota, Jakarta, Jumat (3/7/2026). Mata mereka menatap lekat rak berisi maggot. Sejumlah tanya pun terlontar soal jenis dan kegunaannya.

Sesekali jemari bocah-bocah itu coba menyentuh larva dari lalat Black Soldier Fly (BSF) itu. Namun, rasa geli seketika mengadang mereka.

Bagi anak-anak maupun awam, maggot mungkin hanya sekumpulan koloni larva. Namun, bagi Ega dan rekan-rekannya dari Maggot Indonesia Lestari, maggot adalah pengubah sampah organik menjadi berkah.

Siang itu, Ega dengan bangga menunjukkan isi stannya. Tak ada aroma sampah yang menyengat.

Sebagai gantinya, di atas meja terpampang produk cairan maggot, tepung jagung, jagung pipil, kasgot (kotoran dan sisa media tumbuh maggot, dan sekeranjang telur ayam. Ada juga setandan pisang, bawang, hingga rangkaian bunga segar dan sekandang ayam petelur.

"Ini semua hasil dari mengolah sampah organik," kata Ega sambil tersenyum.

Ia mengaitkan kerja-kerja yang berjalan sejak tahun 2014 itu dengan konsep ekonomi sirkular. Nilai produk suatu material digunakan, dipulihkan kembali, dan diperbarui. Ini untuk mengatasi masalah limbah yang semakin menumpuk, kelangkaan bahan baku, dan kurangnya kesadaran konsumen untuk lebih bertanggung jawab.

Maggot Indonesia Lestari setiap harinya memanfaatkan sampah organik dari hotel, restoran, kafe. Sampah yang tadinya berakhir membusuk di TPST Bantargebang dan menghasilkan gas metana beralih sebagai santapan lezat bagi maggot.

Sampah yang tadinya bau, diubah jadi wangi karena menyuburkan tanaman dan bernilai jual.

Larva ini terus makan dan mengonsumsi bahan organik, seperti sampah sisa makanan setelah menetas. Kemudian, masuk fase prepupa, pupa (kepompong), hingga menjadi lalat.

Setelah maggot tumbuh besar, ia menjadi pakan ayam petelur. Sementara kasgot diolah untuk pupuk organik penyubur tanaman.

"Sampah yang tadinya bau, diubah jadi wangi karena menyuburkan tanaman dan bernilai jual," tutur Ega.

Baca JugaDari Instruksi Jadi Contoh, Balai Kota Jakarta Hidupkan Bank Sampah dan EWS Polusi
Baca JugaPilah Sampah di Jakarta Sia-sia Tanpa Aksi Nyata, Ini Solusinya
Pilah sampah

Saat ini, Ega dan kawan-kawan mampu mengolah 10 ton sampah organik per hari. Namun, jumlah tersebut jauh dari potensi maksimal hingga 50 ton karena pilah sampah dari sumber belum jadi kebiasaan.

Untuk itu mereka berpartisipasi dalam festival lingkungan. Tujuannya mengenalkan potensi maggot sekaligus kampanye gaya hidup ramah lingkungan.

"Kami ingin orang tahu kalau sampah organik tidak harus berakhir di tempat sampah. Kalau mau mengelola sampah sendiri, hasilnya bermanfaat," ucap Ega.

Timbulan sampah di Jakarta saat ini mencapai 9.000 ton per hari. Sementara menurut Dinas Lingkungan Hidup Jakarta tingkat pemilahan dari sumber masih rendah dan belum merata.

Kumpul-pilah-olah didorong untuk meningkatkan persentase sampah terpilah sebelum masuk ke tempat pengolahan sampah (TPS), RDF Plant, dan TPST Bantargebang. Langkah ini penting agar beban pengangkutan dan pembuangan akhir dapat ditekan secara bertahap.

Gubernur Jakarta Pramono Anang selepas membuka Jakarta Eco Future Festival 2026 menyatakan bahwa Jakarta sebagai ibu kota, pusat perekonomian nasional, dan menuju kota global bertanggung jawab pada dirinya sendiri. Salah satunya perbaikan dalam pengelolaan sampah.

"Kalau sudah bisa dipilah maka residu yang diangkut ke tempat sampah di bawah 25 persen," ujar Pramono.

Khusus pemilahan, Dinas Lingkungan Hidup Jakarta fokus melengkapi sarana dan prasarana untuk kumpul-pilah-olah secara bertahap. Ada armada pengangkut, seperti gerobak motor dan mobil pikap, wadah pilah, hingga pengaturan ritase pengangkutan berbasis wilayah agar sampah terpilah tidak tercampur kembali saat proses pengangkutan.

Jakarta juga mengoptimalkan dua RDF Plant, di Bantargebang dan Rorotan. Kapasitas RDF Plant Bantargebang sebesar 2.000 ton sampah per hari. Jumlah tersebut sudah termasuk 1.000 ton sampah lama dari zona tidak aktif TPST Bantargebang.

Sementara RDF Plant Rorotan menerima 400–700 ton sampah per hari. Kapasitasnya akan ditingkatkan secara bertahap hingga 1.000 ton sampah per hari sampai akhir 2026 menyesuaikan dengan kesiapan akses jalan, armada truk kompaktor terbaru, dan masukan dari masyarakat sekitar, serta hanya akan mengolah sampah anorganik terpilah.

Selain itu, telah terjalin nota kesepahaman antara Dinas Lingkungan Hidup Jakarta dan PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera), subholding investasi Danantara yang berfokus pada sektor waste to energy.

Hingga kini kedua pihak masih menyusun aspek teknis dan legal untuk memastikan pelaksanaan proyek PSEL berjalan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dua PSEL akan dibangun di Tanjung dan Bantargebang.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Inilah Alasan JPU Tolak Eksepsi yang Dilayangkan Richard Lee
• 3 jam lalucumicumi.com
thumb
Pihak Sarwendah Siap Hadapi Gugatan Hak Asuh Anak, Bakal Buka Fakta Baru
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Manajemen Persib Ungkap Proses Dapatkan Luka Menalo dan Sandy Walsh, Ternyata Ada Peran Pemain Diaspora
• 22 jam lalubola.com
thumb
Hasil Babak Pertama Swiss vs Aljazair: Gol Cepat Embolo Bawa La Nati Unggul
• 6 jam lalumedcom.id
thumb
Bank Mandiri Sesuaikan Tarif Tarik Uang Tanpa Kartu dan Top Up Gopay
• 7 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.