Grup Barito mulai bergeliat melancarkan berbagai aksi korporasi. Sejumlah emiten milik konglomerat Prajogo Pangestu itu kompak mengumumkan aktivitas perseroan di paruh kedua 2026, setelah di semester pertama harga saham-sahamnya keok.
Sederet perusahaan Prajogo yang mengumumkan aksi korporasi pekan pertama semester kedua ini adalah PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA), dan PT Petrosea Tbk (PTRO).
Berdasarkan kinerjanya, saham-saham Grup Barito mengalami penurunan lebih dari 50% pada paruh pertama 2026. Penurunan harga saham itu menyusul keluarnya sejumlah emiten Prajogo, yaitu BREN, TPIA, hingga CUAN dari indeks global MSCI.
Berikut kinerja saham Grup Barito milik Prajogo secara tahun berjalan (ytd):
(Sumber: Bursa Efek Indonesia, data diolah penulis)
Mengawali semester kedua, perusahaan-perusahaan Grup Barito mulai gencar melakukan aksi-aksi korporasi. Dalam aksi terbarunya, CDIA mencaplok perusahaan armada senilai Rp 1,6 triliun. Selain itu, PTRO menandatangani perjanjian sewa gardu listrik dengan PT Chandra Investa Prima dengan harga sewa Rp 1,85 miliar per bulan.
CDIA Caplok Armada Maritim dari CUANAksi korporasi terbaru datang dari CDIA. Lewat anak usahanya yaitu PT Chandra Shipping International (CSI), perseroan akan mengakuisisi 40% saham PT Armada Maritim Persada (AMP) senilai US$ 90 juta atau setara Rp 1,6 triliun.
Perjanjian bersyarat tersebut ditandatangani CSI bersama PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) dan PT Armada Maritim Persada pada 30 Juni 2026. Manajemen CDIA menyatakan, investasi tersebut dilakukan untuk mendukung ekspansi bisnis AMP sekaligus meningkatkan nilai investasi dan potensi penerimaan dividen bagi perseroan.
Transaksi ini merupakan transaksi afiliasi karena CSI dan AMP sama-sama berada dalam kelompok usaha yang dikendalikan Prajogo Pangestu. Saat ini AMP dimiliki 99,99% oleh CUAN dan 0,01% oleh PT Mareta Persada.
Adapun AMP bergerak di bidang jasa angkutan laut dan layanan penunjang kegiatan pertambangan.
TPIA Ubah Skema Pinjaman Bisa Dikonversi SahamSementara itu, TPIA mengumumkan perubahan perjanjian pinjaman antara CDIA dengan Aster Port and Terminal Pte Ltd (APT) serta Aster Power Pte Ltd (APPL).
Melalui amendemen yang ditandatangani pada 30 Juni 2026, kedua fasilitas pinjaman tersebut saat ini dilengkapi hak konversi sehingga sebagian atau seluruh pinjaman dapat dikonversi menjadi saham penerima pinjaman.
Sebelumnya, pada November 2025, CDIA memberikan fasilitas pinjaman hingga US$ 80 juta kepada APT untuk mendukung bisnis pelabuhan dan terminal. Selain itu, ada pula pinjaman hingga US$ 60 juta kepada APPL guna mendukung pengembangan bisnis kelistrikan dan energi terbarukan.
Penambahan hak konversi dinilai memberikan fleksibilitas bagi Grup Barito dalam mengelola struktur pendanaan sekaligus membuka peluang peningkatan kepemilikan saham di masa mendatang.
Sinergi PTRO-CDIADi sisi lain, PTRO memperkuat sinergi internal grup melalui penandatanganan perjanjian sewa gardu listrik (substation) untuk pengisian kendaraan listrik dengan PT Chandra Investa Prima, anak usaha CDIA.
Infrastruktur tersebut akan digunakan untuk mendukung operasional proyek pertambangan milik PT Multi Tambangjaya Utama di Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah.
Presiden Direktur Petrosea, Michael mengatakan, pembangunan infrastruktur kendaraan listrik merupakan bagian dari strategi perusahaan meningkatkan efisiensi operasional sekaligus mengurangi intensitas emisi karbon.
"Inisiatif ini sejalan dengan strategi Petrosea dalam mendorong praktik usaha berkelanjutan, termasuk upaya dekarbonisasi operasional melalui peningkatan efisiensi energi serta pengurangan emisi gas rumah kaca," ujar Michael dalam keterangannya, dikutip pada Jumat (3/7).
Menurut Michael, penggunaan infrastruktur kendaraan listrik juga mendukung pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik yang menjadi salah satu proyek strategis nasional.
Perseroan berharap langkah tersebut dapat menciptakan operasional pertambangan yang lebih efisien, rendah emisi, dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan.




