JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Wamen LHK) menyebut kebakaran Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, berpotensi menimbulkan ledakan.
Sebab pada hari kelima kebakaran, meski api sudah tidak nampak lagi di permukaan, ada asap putih yang terus keluar dari sela-sela gunungan sampah di TPA Jatiwaringin.
"Di bagian atas terlihat sudah padam, tetapi di bagian bawah masih ada apinya. Karena mengandung gas metana (CH4), terdapat potensi ledakan juga," ucap Wamen LHK Diaz Faizal Malik Hendropriyono ketika meninjau TPA Jatiwaringin, Sabtu (4/7/2026).
Baca juga: Hari Kelima Kebakaran TPA Jatiwaringin, Helikopter BNPB Terus Lakukan Water Bombing
Potensi ledakan disebabkan karena bara api di kedalaman sekitar 20 hingga 30 meter gunungan sampah masih banyak yang menyala.
Bara api sulit untuk dipadamkan karena bercampur dengan gas metana dari sampah dan berpotensi semakin besar apabila terkena hembusan angin.
Oleh karena itu, alat berat seperti ekskavator juga dikerahkan di tengah-tengah area gunungan sampah yang masih mengeluarkan asap.
Baca juga: 5 Hari Kebakaran TPA Jatiwaringin Tak Kunjung Padam, 30 Ahli Kebakaran Gambut Didatangkan
Ekskavator itu menggali gunungan sampah yang masih mengeluarkan asap putih, sehingga bisa diketahui titik bara api yang masih menyala agar dapat segera dipadamkan.
Sementara ini, total luas TPA yang terbakar sekitar 15 hektare dari total keseluruhan 33 hektare.
Diaz bilang, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) sudah memberikan peringatan bahwa fenomena El Nino akan lebih parah mulai bulan Juli hingga September.
Baca juga: Api Mulai Padam, Udara di Sekitar TPA Jatiwaringin Justru Makin Berbahaya
"Artinya, kita harus antisipasi potensi kebakaran di ratusan TPA lain di seluruh Indonesia," ucap Diaz.
Oleh karena itu, Kementerian LHK sudah menyebarkan surat edaran ke para kepala daerah di Indonesia untuk memerhatikan kondisi TPA yang ada di wilayahnya agar tidak terjadi kebakaran serupa.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang