London (ANTARA) - Kalangan universitas secara fundamental harus memikirkan kembali cara mereka mendidik mahasiswa di dunia di mana kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) sedang mengubah dunia kerja, ungkap sebuah studi baru yang dirilis pada Jumat (3/7) oleh Universitas Manchester.
Kemunculan AI membuat pendidikan tinggi perlu memberikan penekanan yang lebih besar pada pemikiran kritis, penilaian etis, dan komunikasi, sebut studi yang ditulis oleh Kelechi Ekuma dari Institut Pembangunan Global Universitas Manchester.
Studi itu mengatakan bahwa meskipun alat AI dengan cepat mengubah cara orang belajar dan bekerja, banyak universitas terus bergantung pada model pengajaran dan penilaian yang dirancang untuk era sebelum AI. Hal ini dapat menciptakan kesenjangan antara keterampilan lulusan dan ekspektasi para pemberi kerja.
Oleh karena itu, universitas-universitas harus melangkah lebih jauh daripada sekadar mengintegrasikan AI ke dalam ruang kelas dengan memikirkan kembali tujuan pendidikan tinggi, sehingga mempersiapkan mahasiswa untuk bekerja berdampingan dengan sistem AI yang makin mumpuni, alih-alih bersaing dengannya, kata studi tersebut.
Para lulusan akan kian membutuhkan keterampilan berpikir kritis dan komunikasi yang kuat, kesadaran etis, dan kemampuan untuk memahami situasi yang kompleks, serta pemahaman tentang cara kerja AI, papar studi itu.
"AI sedang mengubah cara pengetahuan diciptakan, cara pengambilan keputusan, dan cara banyak pekerjaan dilakukan, universitas perlu mempertimbangkan secara cermat tentang bagaimana mereka mempersiapkan mahasiswa untuk masa depan tersebut," ujar Ekuma.
Studi itu menyerukan perubahan signifikan pada metode penilaian, berpendapat bahwa ujian dan tugas kuliah konvensional harus digantikan oleh bentuk evaluasi yang lebih autentik yang menguji kemampuan mahasiswa dalam memecahkan masalah kompleks, melakukan penilaian, dan menerapkan pengetahuan dalam konteks dunia nyata.
Menurut Ekuma, institusi pendidikan harus merangkul AI sebagai mitra pengajaran, bukan memperlakukannya semata-mata sebagai ancaman, sehingga dapat membantu mahasiswa mengembangkan literasi AI bersamaan dengan keahlian yang sesuai disiplin ilmunya.
Kemunculan AI membuat pendidikan tinggi perlu memberikan penekanan yang lebih besar pada pemikiran kritis, penilaian etis, dan komunikasi, sebut studi yang ditulis oleh Kelechi Ekuma dari Institut Pembangunan Global Universitas Manchester.
Studi itu mengatakan bahwa meskipun alat AI dengan cepat mengubah cara orang belajar dan bekerja, banyak universitas terus bergantung pada model pengajaran dan penilaian yang dirancang untuk era sebelum AI. Hal ini dapat menciptakan kesenjangan antara keterampilan lulusan dan ekspektasi para pemberi kerja.
Oleh karena itu, universitas-universitas harus melangkah lebih jauh daripada sekadar mengintegrasikan AI ke dalam ruang kelas dengan memikirkan kembali tujuan pendidikan tinggi, sehingga mempersiapkan mahasiswa untuk bekerja berdampingan dengan sistem AI yang makin mumpuni, alih-alih bersaing dengannya, kata studi tersebut.
Para lulusan akan kian membutuhkan keterampilan berpikir kritis dan komunikasi yang kuat, kesadaran etis, dan kemampuan untuk memahami situasi yang kompleks, serta pemahaman tentang cara kerja AI, papar studi itu.
"AI sedang mengubah cara pengetahuan diciptakan, cara pengambilan keputusan, dan cara banyak pekerjaan dilakukan, universitas perlu mempertimbangkan secara cermat tentang bagaimana mereka mempersiapkan mahasiswa untuk masa depan tersebut," ujar Ekuma.
Studi itu menyerukan perubahan signifikan pada metode penilaian, berpendapat bahwa ujian dan tugas kuliah konvensional harus digantikan oleh bentuk evaluasi yang lebih autentik yang menguji kemampuan mahasiswa dalam memecahkan masalah kompleks, melakukan penilaian, dan menerapkan pengetahuan dalam konteks dunia nyata.
Menurut Ekuma, institusi pendidikan harus merangkul AI sebagai mitra pengajaran, bukan memperlakukannya semata-mata sebagai ancaman, sehingga dapat membantu mahasiswa mengembangkan literasi AI bersamaan dengan keahlian yang sesuai disiplin ilmunya.





