Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memamerkan keberhasilan militer negaranya dengan mengklaim telah memenangkan perang melawan dengan Iran. Hal itu dilakukannya saat jutaan warga tengah menggelar prosesi pemakaman Eks Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Trump menonjolkan kekuatan militer negaranya yang menurutnya menjadi yang paling kuat di dunia. Hal itu dilakukannya saat berpidato dalam perayaan hari kemerdekaan di Amerika Serikat.
Baca Juga: Dokter Tifa Ogah Berdamai dengan Jokowi di Kasus Ijazah: Saya Tak Akan Menerima Pengakuan Bersalah
Ia kemudian mengaitkan keberhasilan tersebut dengan konflik terbaru dengan Iran. Trump mengklaim pihaknya telah menghancurkan negara tersebut dan kini musuh sangat ingin mengakhiri konflik melalui jalur diplomasi.
"Kita menghancurkan Iran. Mereka sangat ingin berdamai. Mereka sangat ingin berdamai," ujar Trump, dikutip Minggu (5/7).
Pernyataan tersebut disampaikan sang presiden ketika adanya suasana berkabung di Iran. Teheran diketahui baru memulai rangkaian pemakaman dari Ayatollah Ali Khamenei.
Prosesi pemakaman dipusatkan di Grand Mosalla, Teheran. Pemerintah Iran menutup sejumlah ruas jalan utama dan membatasi berbagai aktivitas masyarakat untuk menghormati mantan pemimpin tertinggi yang tewas dalam serangan udara pada awal perang, 28 Februari 2026.
Media Pemerintah Iran memperkirakan jutaan warga akan memadati jalan-jalan ibu kota, menyerupai suasana pemakaman dari Ayatollah Ruhollah Khomeini di 1989.
Di berbagai sudut kota, papan reklame menampilkan foto sang tokoh berpengaruh itu, sementara ribuan pelayat membawa bendera dan spanduk serta memukul dada sebagai simbol berkabung dalam tradisi dari Syiah.
Namun Trump justru kembali menegaskan narasi bahwa pihaknya di posisi unggul dalam konflik. Ia juga mengklaim tidak ada negara yang memberikan kontribusi lebih besar terhadap kemanusiaan dibanding Amerika Serikat.
Baca Juga: Trump Bantah Perang Iran Akan Bernasib seperti Afghanistan: Hampir Semua Tuntutan Amerika Dipenuhi
Pidato tersebut menegaskan kembali pendekatan sang presiden yang kerap mengedepankan kekuatan militer sebagai simbol keberhasilan kebijakan luar negerinya. Di sisi lain, pernyataan itu muncul ketika musuhnya masih berada dalam masa berkabung nasional atas wafatnya Ayatollah Ali Khamenei.





