Suatu hari nanti, mungkin saja salah satu senjata melawan Alzheimer bukan berasal dari laboratorium farmasi yang rumit, melainkan dari ladang serealia yang selama ini kurang mendapatkan perhatian.
Sorgum, tanaman pangan yang telah dibudidayakan ribuan tahun dan dikenal tahan kekeringan, kini menarik perhatian para ilmuwan. Bukan karena kandungan karbohidratnya, melainkan karena senyawa polifenol yang tersimpan di dalam bijinya.
Dalam penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal Nutrients pada Selasa (30/6/2026), tim peneliti menunjukkan bahwa ekstrak polifenol sorgum mampu menghambat pembentukan protein amiloid-beta (amyloid-β), salah satu ciri biologis utama penyakit Alzheimer. Pada uji laboratorium, ekstrak tersebut mengurangi penggumpalan protein hingga 67–76 persen, sekaligus melindungi sel-sel saraf dari kerusakan.
Temuan ini memang masih berada pada tahap kultur sel (in vitro). Namun, hasilnya cukup kuat untuk menambah daftar panjang senyawa alami yang kini sedang dipelajari sebagai kandidat terapi pendamping penyakit neurodegeneratif.
”Kami menemukan bahwa polifenol yang berasal dari sorgum mampu menargetkan beberapa mekanisme utama yang berkontribusi terhadap perkembangan penyakit Alzheimer,” tulis Rasheed A Abdulraheem, peneliti dari School of Medical and Health Sciences, Edith Cowan University, dan Alzheimer’s Research Australia, penulis pertama laporan ini.
Laporan ini ditulis bersama Binosha Fernando dari Department of Nutrition and Food Science, Western Sydney University, dan sejumlah peneliti lain dari kampus di Australia dan King Saud University.
Alzheimer merupakan penyebab tersering demensia, penyakit yang secara perlahan menggerus daya ingat, kemampuan berpikir, hingga kemandirian seseorang. Seiring meningkatnya angka harapan hidup, jumlah penderita demensia juga terus bertambah. Indonesia tidak terkecuali.
Kajian terbaru mengenai riset demensia di Indonesia menunjukkan beban penyakit ini semakin besar, sementara diagnosis dini dan layanan kesehatan masih sangat terbatas. Sebagian besar penelitian juga masih terkonsentrasi di Pulau Jawa sehingga gambaran kondisi nasional belum sepenuhnya terpetakan.
Tanaman ini membutuhkan air lebih sedikit, tetap produktif pada suhu tinggi, serta dapat tumbuh di lahan marginal.
Bahkan studi STRiDE (Strengthening Responses to Dementia in Developing Countries) memperkirakan lebih dari 4 juta penduduk Indonesia hidup dengan demensia, tetapi kurang dari 1 persen pernah memperoleh diagnosis formal.
Di tengah tantangan tersebut, upaya mencari strategi pencegahan menjadi semakin penting. Selain pengendalian tekanan darah, diabetes, aktivitas fisik, pendidikan, dan pola hidup sehat, perhatian kini juga mengarah pada komponen pangan yang berpotensi melindungi otak.
Sorgum (Sorghum bicolor) sebenarnya bukan tanaman asing bagi Indonesia sekalipun ini bukan tanaman endemik. Tanaman ini berasal dari Afrika, yang telah dibudidaya dan dikonsumsi di daerah, seperti Nusa Tenggara, Jawa, hingga Sulawesi, sejak era prakolonial.
Belakangan, sorgum kembali dipromosikan karena lebih tahan terhadap perubahan iklim dibandingkan padi ataupun jagung. Tanaman ini membutuhkan air lebih sedikit, tetap produktif pada suhu tinggi, serta dapat tumbuh di lahan marginal.
Kini, muncul alasan baru untuk meliriknya. Biji sorgum mengandung berbagai senyawa polifenol, yaitu antioksidan alami yang selama beberapa tahun terakhir diketahui memiliki aktivitas antiinflamasi dan neuroprotektif.
Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan mengekstraksi polifenol dari beberapa varietas sorgum, hitam, merah, dan merah kecokelatan, kemudian mengujinya terhadap protein amiloid-beta. Hasil paling kuat ditemukan pada sorgum hitam.
Protein amiloid-beta yang biasanya menggumpal menjadi plak berhasil ditekan secara signifikan. Gumpalan protein inilah yang selama puluhan tahun diyakini menjadi salah satu penyebab kerusakan sel saraf pada penderita Alzheimer.
Peneliti kemudian melangkah lebih jauh. Mereka menggunakan sel saraf yang direkayasa untuk menghasilkan amiloid-beta dalam jumlah tinggi sehingga menyerupai kondisi yang terjadi pada otak penderita Alzheimer.
Biasanya, sel-sel tersebut cepat mengalami kerusakan. Namun, setelah diberi ekstrak polifenol sorgum, gambaran yang muncul berubah drastis.
Kelangsungan hidup sel meningkat lebih dari 70 persen. Produksi ATP, sumber energi bagi setiap sel, naik sekitar 80 persen. Mitokondria, organel yang berfungsi sebagai pembangkit tenaga sel, kembali bekerja lebih baik.
Pada saat bersamaan, kadar radikal bebas yang memicu stres oksidatif turun secara signifikan. Analisis genetik menunjukkan bahwa ekstrak sorgum ikut menekan gen-gen yang berhubungan dengan peradangan serta ferroptosis, yaitu bentuk kematian sel yang dipicu akumulasi zat besi.
Dengan kata lain, polifenol sorgum tidak bekerja hanya melalui satu jalur, tetapi menyerang beberapa mekanisme yang diketahui berperan dalam perkembangan Alzheimer sekaligus. Pendekatan multitarget seperti ini mulai banyak mendapat perhatian dalam riset penyakit neurodegeneratif karena Alzheimer sendiri merupakan penyakit yang sangat kompleks.
Meski hasil penelitian tampak mengesankan, para penulis justru memberikan peringatan yang sangat jelas. Temuan ini, ”belum membuktikan bahwa mengonsumsi sorgum dapat mencegah ataupun mengobati Alzheimer,” sebut Fernando.
Itu karena seluruh percobaan dilakukan di laboratorium menggunakan kultur sel. Di dalam tubuh manusia, perjalanan senyawa aktif jauh lebih rumit. Senyawa harus mampu bertahan dari proses pencernaan, diserap usus, masuk ke aliran darah, kemudian menembus sawar darah-otak (blood-brain barrier) sebelum akhirnya mencapai jaringan saraf.
Belum diketahui apakah polifenol sorgum mampu melakukan semua proses tersebut dalam jumlah yang cukup untuk menghasilkan efek biologis. Karena itu, para peneliti menegaskan bahwa hasil penelitian mereka baru merupakan ”langkah awal yang penting”.
”Data kami mendukung evaluasi lebih lanjut terhadap polifenol yang berasal dari sorgum sebagai kandidat terapi komplementer penyakit Alzheimer, dengan studi in vivo yang masih diperlukan untuk menetapkan kemanjurannya,” tulis mereka.
Artinya, penelitian berikutnya harus dilakukan pada hewan percobaan, dilanjutkan uji klinis pada manusia sebelum manfaatnya benar-benar dapat dipastikan. Namun, temuan ini setidaknya menunjukkan bahwa sorgum memiliki potensi manfaat yang jauh lebih besar dibandingkan hanya sebagai sumber kabohidrat untuk mengurangi ketergantungan pada beras.
Bagi Indonesia, temuan ini memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar riset biomedis. Selama ini, sorgum lebih sering dibahas sebagai tanaman adaptif menghadapi perubahan iklim dan alternatif diversifikasi pangan.
Jika suatu hari manfaat neuroprotektifnya terbukti melalui uji klinis, sorgum dapat berkembang menjadi pangan fungsional bernilai tinggi sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional. Pengembangan varietas dengan kandungan polifenol tinggi, teknologi pengolahan yang mempertahankan senyawa bioaktif, hingga industri pangan berbasis sorgum dapat menjadi bidang riset baru.





