Grid.ID – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi panggil Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein alias Om Zein terkait lagu ‘Lalaki Langit, Lalanang Bejad’ ciptaannya yang kini menuai kontroversi. Apa yang dibahas?
Lagu Lalaki Langit, Lalanang Bejad menjadi polemik karena liriknya dinilai menyinggung perempuan. Lagu ini bahkan ramai dikecam oleh pegiat isu perempuan, budayawan, hingga anggota DPR.
Imbasnya, Saepul Bahri Binzein diperiksa Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) pada Jumat (3/7/2026). Tidak hanya itu, setelahnya Dedi Mulyadi panggil Bupati Purwakarta itu untuk menyampaikan klarifikasi.
Momen Dedi Mulyadi panggil Bupati Purwakarta ini terekam dalam unggahan Instagram pribadinya @dedimulyadi71 pada Minggu (5/7/2026).
Dedi menyebut Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat tidak memiliki kewenangan untuk memberikan sanksi kepada kepala daerah. Pasalnya, kewenangan tersebut berada di tangan Kemendagri.
Akan tetapi, ia lantas menambahkan bahwa Pemprov Jawa Barat bertugas melakukan pembinaan dan pengawasan, termasuk soal lagu kontroversial ciptaan Bupati Purwakarta yang meresahkan masyarakat.
“Jadi Pak Bupati sengaja kita mengundang bapak pada hari ini tidak untuk melakukan hukuman. karena tidak punya otorisasi untuk melakukan hukuman kepada kepala daerah otonom,” kata Dedi Mulyadi.
“Tetapi kita ini diberikan tugas untuk melakukan pembinaan, pengawasan terhadap kinerja pemerintah daerah dan sanksi itu sebenarnya ada di Kemendagri,” ujarnya kemudian.
Pada kesempatan yang sama, Gubernur Jawa Barat tersebut meminta penjelasan Saepul Bahri Binzein tentang latar belakang lagu Lalaki Langit, Lalanang Bejad.
Ternyata lagu itu diciptakan Om Zein ketika ia belum menjabat sebagai Bupati Purwakarta, tepatnya pada tahun 2020.
“Bapak kan juga sudah diperiksa di Inspektorat Jenderal Kementerian Dalam Negeri, hari ini ingin cepat kita selesaikan mengenai apa yang berkembang hari ini yaitu tentang beredarnya sebuah lagu Lelaki Langit, Lalanang Bejad. Kita ingin yang pertama untuk meminta penjelasan Pak Bupati apa yang menjadi latar belakang dibuatnya lagu tersebut?” tanya Dedi Mulyadi.
“Itu kan berawal dari suasana kebatinan. Jadi kan perjalanan spiritual setiap orang itu berbeda-beda. Kisah hidup seseorang selalu berbeda-beda, cerita cinta, cerita asmara, termasuk cerita cinta dan asmara dan keluarga saya saat itu. Dan saya tulis dalam bentuk puisi di tahun 2020,” jawab Saepul Bahri Binzein.
Unggahan Dedi Mulyadi panggil Bupati Purwakarta ini sontak mengundang reaksi dari para netizen. Mereka mewanti-wanti kasus ini sebagai pelajaran bagi pejabat lain agar lebih hati-hati bersikap.
“Anda itu pejabat publik, yang seharusnya bisa memberi contoh. Hargai ibu yang melahirkanmu, muliakan ibu dan anak perempuanmu, karena hakikatnya laki-laki menanggung dan melindunginya dari kecil sampai kamu menghadap Sang Maha,” kata akun@papap***.
“Intinya kalo jadi pejabat jangan banyak gaya,” kata akun @derrick***.
“Puisi/lagu dibuat tahun 2020 sebelum jadi bupati. Terekspos setelah jadi bupati. Jejak digital memang kejam Pak Bupati,” kata akun @ronny***. (*)
Artikel Asli



