Quarter-Life Crisis: Ketika Usia 20-an Dipenuhi Rasa Cemas akan Masa Depan

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Quarter-life crisis menjadi fenomena yang semakin sering dibicarakan oleh anak muda. Memasuki usia 20-an sering kali kita merasa seperti memasuki babak baru dalam kehidupan. Pada fase ini, banyak anak muda mulai dihadapkan pada berbagai tuntutan, seperti menyelesaikan pendidikan, mencari pekerjaan, membangun karier, hingga mencapai kemandirian finansial. Di saat yang sama, media sosial dipenuhi dengan unggahan tentang pencapaian orang lain, mulai dari diterima bekerja di perusahaan impian, melanjutkan studi keluar negri, hingga membeli rumah atau menikah di usia muda. Tanpa disadari, hal tersebut membuat banyak orang mulai membandingkan dirinya dengan oran lain dan merasa tertinggal.

Apa Itu Quarter-Life Crisis?

Quarter-Life Crisis merupakan fase ketika seseorang mengalami kebingungan, kecemasan, dan keraguan terhadap masa depan. Fase ini umumnya dialami oleh individu yang berada pada rentang usia 20 hingga awal 30 tahun, yaitu masa transisi dari dunia remaja menuju kehidupan dewasa yang penuh dengan tanggung jawab. meski sering dianggap sebagai masalah pribadi, sebenarnya kondisi ini merupakan pengalaman yang cukup umum dialami oleh banyak anak muda.

Sebuah penelitian yang melibatkan 200 responden berusia 18–30 tahun di Indonesia menunjukkan bahwa quarter-life crisis dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti ketidakpastian karier, hubungan sosial, dan tujuan hidup. Penelitian tersebut juga menjelaskan bahwa masa transisi menuju kedewasaan sering kali menimbulkan tekanan psikologis yang berdampak pada kesejahteraan mental seseorang.

Penyebab Quarter-Life Crisis pada Anak Muda.

Salah satu penyebab quarter-life crisis yang paling sering dirasakan adalah tekanan sosial. Saat melihat orang lain tampak lebih sukses, seseorang cenderung mulai mempertanyakan dirinya sendiri. Muncul pertanyaan seperti, "Mengapa teman seusiaku sudah memiliki pekerjaan tetap?", "Kenapa aku belum tahu ingin menjadi apa?", atau "Apakah aku tertinggal dibandingkan orang lain?" Padahal, setiap individu memiliki latar belakang, kesempatan, dan perjalanan hidup yang berbeda.

Selain tekanan sosial, ketidakpastian dalam menentukan karier juga menjadi pemicu utama. Banyak fresh graduate merasa bingung memilih pekerjaan yang sesuai dengan minat dan kemampuan mereka. Tidak sedikit pula yang telah bekerja, tetapi merasa pekerjaannya tidak sesuai dengan harapan. Kondisi ini membuat seseorang terus-menerus meragukan keputusan yang telah diambil dan khawatir akan masa depannya.

Di era digital, media sosial juga memiliki peran besar dalam memperkuat perasaan tersebut. Sebagian besar orang hanya membagikan momen terbaik dalam hidupnya, sementara perjuangan dan kegagalan jarang diperlihatkan. Akibatnya, banyak orang merasa hidupnya tertinggal hanya karena membandingkan kenyataan yang mereka jalani dengan potongan kehidupan orang lain yang tampak sempurna.

Dampak Quarter-Life Crisis Terhadap Kesehatan Mental.

Jika berlangsung terus-menerus, quarter-life crisis dapat berdampak pada kesehatan mental. Seseorang dapat mengalami stres, kehilangan motivasi, menurunnya rasa percaya diri, hingga merasa gagal meskipun sebenarnya masih berada dalam proses berkembang. Penelitian lain di Indonesia juga menunjukkan bahwa quarter-life crisis merupakan fenomena yang umum terjadi pada masa emerging adulthood, yaitu periode ketika seseorang sedang membangun identitas dan arah hidupnya.

Cara Mengahadapi Quarter-Life Crisis.

Meskipun demikian, quarter-life crisis bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menghadapinya, seperti berhenti membandingkan diri dengan orang lain, membatasi penggunaan media sosial apabila mulai memberikan dampak negatif, menetapkan tujuan yang realistis, serta terus mengembangkan kemampuan diri. Dukungan dari keluarga, teman, maupun lingkungan sekitar juga memiliki peran penting dalam membantu seseorang melewati fase ini.

Pada akhirnya, hidup bukanlah perlombaan untuk menentukan siapa yang paling cepat mencapai kesuksesan. Setiap orang memiliki garis waktunya masing-masing. Quarter-life crisis mungkin terasa melelahkan, tetapi fase ini juga dapat menjadi kesempatan untuk mengenal diri sendiri, menyusun kembali tujuan hidup, dan belajar menerima bahwa proses bertumbuh tidak selalu berjalan sesuai rencana. Sebab, keberhasilan bukan hanya tentang siapa yang tiba lebih dulu, melainkan tentang bagaimana seseorang terus melangkah dan berkembang menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jembatan CBL Rusak Parah Lebih dari 10 Tahun, Warga Khawatir Ambles Saat Macet
• 3 jam lalukompas.com
thumb
80% PWNU Ingin Adanya Perubahan Total dalam PBNU, Ini Alasannya
• 14 menit laluviva.co.id
thumb
Mau Dikenakan Pajak Rp144 T, Taipan Ini Kasih Respons Tak Terduga
• 23 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Vlogger di Puncak Coba Suap Polisi saat Akan Ditilang, Awalnya Ngaku Kena Pungli
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Suasana Duka Pemakaman Briptu Nopandri, Gugur saat Diserang Bandar Narkoba
• 1 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.