REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia para dai.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui peluncuran Beasiswa Magister Pendidikan Agama Islam. Program ini ditujukan bagi para dai yang tengah mengemban amanah dakwah di berbagai wilayah Indonesia, termasuk daerah-daerah tertinggal, terdepan dan terluar (3T).
Baca Juga
Haaland Sebut Gol-golnya ke Gawang Brasil Sebagai Anugerah Tuhan
China Diperkirakan Punya Lebih 500 Jet Siluman J-20, Lampaui Armada F-35A AS
PT Pindad Bangun Pabrik Amunisi 85 Juta Butir per Tahun di Batulicin
Peluncuran program beasiswa ditandai dengan serah terima secara simbolis pada Kamis (25/6/2026), bertepatan dengan acara Dialog Nasional dan Peluncuran Buku Bergerak untuk Mencerahkan di Perpustakaan Nasional RI, Jakarta.
Secara simbolis, beasiswa diserahkan Bendahara Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Hilman Latief, kepada Ketua LDK PP Muhammadiyah, Muchamad Arifin. Turut hadir, Ketua PP Muhammadiyah Kiai Saad Ibrahim serta Syamsul Anwar.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Program beasiswa ini merupakan hasil kerja sama antara LDK PP Muhammadiyah dengan Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas intelektual sekaligus kompetensi dakwah para dai Muhammadiyah yang bertugas di daerah-daerah dengan akses pendidikan yang masih terbatas.
Ketua LDK PP Muhammadiyah, Muchamad Arifin, mengatakan bahwa pengabdian para dai di wilayah 3T merupakan perjuangan yang membutuhkan dukungan nyata, termasuk kesempatan untuk meningkatkan jenjang pendidikan.
“Selama ini banyak dai yang memilih mengabdikan diri di daerah terpencil sehingga kesempatan melanjutkan studi menjadi sangat terbatas. Melalui program beasiswa ini kami ingin memastikan bahwa mereka tetap memiliki peluang untuk menempuh pendidikan Magister, tanpa harus meninggalkan semangat pengabdiannya kepada masyarakat,” ujar Arifin melalui keterangan tertulis, Ahad (5/7/2026).
Menurutnya, peningkatan kapasitas akademik para dai akan berdampak langsung terhadap kualitas pelayanan dakwah, pembinaan umat, pemberdayaan masyarakat, serta penguatan ketahanan sosial di wilayah-wilayah binaan Muhammadiyah.
“Dakwah hari ini memerlukan dai yang tidak hanya memiliki keikhlasan dan semangat pengabdian, tetapi juga kapasitas keilmuan yang terus berkembang agar mampu menjawab berbagai persoalan umat secara bijaksana dan solutif,” tambahnya.
View this post on Instagram
A post shared by Republika Online (@republikaonline)