Harga Beras Masih Merangkak Naik, Bawang Putih Terimbas Pelemahan Rupiah

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS – Harga beras masih merangkak naik kendati cadangan beras pemerintah terus digulirkan. Bersamaan dengan itu, harga bawang putih melonjak akibat dampak pelemahan rupiah, sehingga importir cenderung menunggu dan dan mencermati harganya.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada pekan pertama Juli 2026, harga rerata nasional beras medium senilai Rp 14.461 per kilogram (kg) atau naik 0,31 persen dibandingkan dengan Juni 2026. Dalam periode perbandingan yang sama harga rerata nasional beras premium naik 0,34 persen menjadi Rp 16.300 per kg.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono, Senin (6/7/2026), mengatakan, harga rerata nasional beras masih di atas harga eceran tertinggi (HET). Kendati demikian, jumlah kabupaten/kota yang mengalami kenaikan harga beras telah turun dari 139 daerah menjadi 113 daerah dalam sepekan.

“Tiga daerah yang mengalami kenaikan IPH (Indeks Perkembangan Harga) terbesar adalah Kabupaten Langsa (6,71 persen), Sami (5,54 persen), dan Aceh Barat Daya (4,85 persen),”ujarnya dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang digelar Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) secara hibrida di Jakarta.

Harga rerata nasional beras masih di atas harga eceran tertinggi

Saat ini, HET beras medium yang diberlakukan pemerintah Rp 13.500-Rp 15.500 per kg bergantung zonasi. Sementara HET beras premium dipatok senilai Rp 14.900 per kg-Rp 15.800 per kg bergantung zonasi.

Sebelumnya, BPS mencatat, beras mengalami inflasi selama enam bulan beruntun, yakni pada Januari-Juni 2026. Tingkat inflasi tahunan beras pada Januari, Februari, Maret, April, Mei, dan Juni 2026 masing-masing sebesar 3,44 persen, 3,61 persen, 3,71 persen, 4,36 persen, 4,55 persen, dan 3,98 persen.

Baca JugaBeras Alami Inflasi Enam Bulan Beruntun Kala CBP Berlimpah

Perum Bulog mengeklaim telah mengoptimalkan penyaluran cadangan beras pemerintah (CPB). CBP tersebut didistribusikan melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), Bantuan Pangan berupa beras, dan Gerakan Pangan Murah.

Kepala Divisi Perencanaan Operasi dan Analisis Perum Bulog Wawan Hidayanto mencontohkan, beras SPHP yang telah disalurkan pada Maret 2026 hingga 5 Juli 2026 sebanyak 627.035 ton. Dengan kata lain, realisasinya mencapai 51,3 persen dari total target 828.000 ton hingga akhir 2026.

“Selama tiga bulan terakhir, realisasi penyaluran beras SPHP telah melampui target bulanan. Realiasi penyaluran pada April, Mei, dan Juni 2026 masing-masing sebesar 132 persen, 115 persen, dan 127 persen,” kata Wawan.

Bulog juga mencatat, realisasi penyaluran bantuan pangan beras pada Maret-5 Juli 2026 telah sebanyak 663.819,76 ton beras dari target 664.888,16 ton. Pada Juli-Agustus 2026, Bulog akan menambah penyaluran bantuan itu kepada 33,24 juta keluarga penerima manfaat (KPM). Setiap KPM akan menerima 10 kg beras.

Kepala Pusat Data dan Informasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) Kelik Budiana mengingatkan, beras premium di zona II dan III berstatus perlu segera diintervensi. Per 5 Juli 2026, harga rerata beras premium di Zona II dan III sudah melampui HET masing-masing sebesar 6,28 persen dan 14,65 persen.

Serial Artikel

Beras Premium Sulit Didapat, Beras Fortifikasi Menjamur Pesat

Peralihan dari memproduksi beras premium ke beras fortifikasi merupakan strategi produsen beras untuk menutup kenaikan biaya produksi beras premium.

Baca Artikel
Dampak depresiasi rupiah

Dalam rapat itu juga terungkap, harga rerata nasional bawang putih terus merangkak naik akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Hal itu membuat importir bawang putih cenderung melihat dan mencermati perkembangan harga bawang putih di pasar internasional.

Berdasarkan Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok Kementerian Perdagangan (Kemendag), per 3 Juli 2026, harga rerata nasional bawang putih Honan di tingkat konsumen senilai Rp 39.484 per kg atau naik 14,31 persen secara bulanan. Harga tersebut juga di atas harga acauan penjualan bawang putih di tingkat konsumen yang dipatok Rp 38.000 per kg.

Direktur Barang Kebutuhan Pokok dan Barang Penting Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag, Bambang Wisnubroto, mengatakan, sama seperti kedelai, harga bawang putih impor juga terdampak pelemahan rupiah. Selain itu, harga bawang putih di China juga naik lantaran baru memasuki musim panen.

“Ini membuat harga bawang putih di tingkat importir tembus Rp 29.000 per kg, sehingga memengaruhi pembentukan harga ecerannya di dalam dalam negeri,” katanya.

Bedasarkan data Bank Indonesia, pada Januari-Juni 2026, tren nilai tukar rupiah melemah sekitar 11,6 persen. Nilai tukar rupiah sempat menyentuh rekor terendah di atas Rp 18.000 per dolar AS pada awal Juni 2026 sebelum akhirnya pulih ke kisaran Rp 17.900 per dolar AS di akhir Juni 2026. Per 3 Juli 2026, nilai tukarnya berada di Rp 17.960 per dolar AS.

Sementara dalam materi paparan Kemendag disebutkan, sekitar 90 persen kebutuhan bawang putih nasional dipenuhi dari impor. Selain itu, tingginya harga bawang putih di pasar internasional membuat importir bawang putih di Indonesia memilih menunggu dan mencermati perkembangan harga.

Kami telah meminta para importir untuk mengakselerasi realisasi sisa PI yang telah diterbitkan dan akan terus memonitor perkembangannya.

Untuk mengatasi hal itu, Bambang mengatakan, Kemendag telah menyurati para importir bawang putih agar segera merealisasikan impor bawang putih berdasarkan persetujuan impor (PI) yang telah dimiliki. Pada 2026, pemerintah telah menetapkan kuota impor bawang putih sebanyak 601.065 ton.

Dari jumlah itu, Kemendag  telah menerbitkan izin impor 384.605 ton (59 PI) atau sekitar 63,99 persen. Per 3 Juli 2026, realisasi impornya mencapai 225.195 ton atau sebesar 58,55 persen dari total PI yang telah diterbitkan.

“Kami telah meminta para importir untuk mengakselerasi realisasi sisa PI yang telah diterbitkan dan akan terus memonitor perkembangannya. Kami juga akan segera menerbitkan PI dari alokasi impor bawang putih yang tersisa,” katanya.

Baca JugaSwasembada Bawang Putih Ditargetkan Tercapai pada 2029

Berdasarkan Basis Data Ekspor-Impor Komoditi Pertanian Kementan, dalam lima tahun terakhir, yakni 2021-2025, ketergantungan Indonesia terhadap bawang putih impor (HS 07032090) masih cukup besar kendati mulai volume impornya mulai turun. Pada 2021, volume impor komoditas itu sebanyak 602.745 ton.

Pada 2022 dan 2023 volume impornya turun masing-masing menjadi 566.175 ton dan 564.027 ton. Kemudian, pada 2024 dan Januari-November 2025 volume impor bawang putih kembali menyusut masing-masing menjadi 555.886 ton dan 450.338 ton.

Sepanjang 2021-2025, negara asal impor bawang putih Indonesia didominasi China. Dari total impor kumulatif selama lima tahun terakhir, yakni sekitar 2,74 juta ton, sebanyak 2,739 juta ton berasal dari China.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Komnas HAM terima 3.003 aduan dugaan pelanggaran HAM sepanjang 2025
• 26 menit laluantaranews.com
thumb
PBPI Meluncurkan Jersei FIP Bronze-Promises Jakarta 2026 untuk Perkuat Promosi Sport Tourism
• 2 jam lalupantau.com
thumb
Nadiem Laporkan 4 Hakim Kasus Chromebook ke KY
• 4 jam lalurctiplus.com
thumb
Empat Hakim Perkara Nadiem Makarim Dilaporkan ke KY, Ini Alasannya
• 31 menit lalueranasional.com
thumb
Pengasuh Jadi Tersangka Pemerkosaan Santri, Ponpes Salafiyah Futuhiyah Disebut Kemenag tak Berizin
• 19 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.