JAKARTA, KOMPAS.com - Perbaikan jalan ambles di Jalan Cinta, kawasan Pulogadung, Jakarta Timur, masih menunggu rekomendasi teknis dari Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC).
Lurah Pulogadung Ariyanto mengatakan, berdasarkan informasi yang diterimanya dari Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Timur, rekomendasi tersebut menjadi syarat sebelum penanganan lebih lanjut dapat dilakukan.
"Hasil informasi yang saya terima terakhir dari pihak Suku Dinas SDA, mereka menunggu rekomtek dari BWSCC untuk penanganan lebih lanjut," ujar Ariyanto saat ditemui di lokasi jalan ambles, Senin (6/7/2026).
Baca juga: Penyebab Jalan di Pulogadung Jaktim Ambles: Menopang Beko Pengeruk Kali Sunter
Ariyanto menjelaskan, kewenangan penanganan jalan ambles tersebut berada di BBWSCC.
Karena itu, pihak kelurahan hanya dapat berkoordinasi dengan instansi terkait sambil menunggu tindak lanjut.
"Dilaksanakan penanganan sementara untuk pengamanan, lebih kepada pengamanan agar tidak makin meluas turap yang rubuh dan jalan yang amblas tersebut. Penanganan dari Suku Dinas SDA Jakarta Timur, karena memang kewenangannya ada di BWSCC. Nah, setelah itu kita menunggu," ungkap Ariyanto.
Baca juga: 5 Bulan Tak Diperbaiki, Jalan di Pulogadung Jaktim Amblas hingga Tersisa 1 Meter untuk Dilalui
Ia juga mengungkapkan, terdapat sejumlah rumah warga yang mengalami kerusakan dan diduga terdampak amblesnya jalan tersebut.
Sebelumnya, warga menduga amblesnya Jalan Cinta dipicu aktivitas pengerukan Kali Sunter menggunakan alat berat.
Ketua RT 11/RW 03, Warjo Prianto, mengatakan, saat proyek pengerukan berlangsung, ekskavator beroperasi di atas badan jalan yang menjadi akses warga, bukan menggunakan alat berat terapung di dalam sungai.
"Beko (ekskavator) di jalan, enggak masuk ke dalam air. Kan itu berat, tapi di jalan akses warga," kata Warjo saat ditemui di lokasi, Senin (6/7/2026).
Baca juga: Pedagang Hewan Kurban Kuasai Trotoar di Pulogadung Jaktim, Warga Terpaksa Melintas di Jalan
Menurut Warjo, sebelum kejadian, pengurus lingkungan telah mengingatkan pihak pelaksana proyek agar menggunakan ekskavator terapung untuk mengurangi risiko terhadap kondisi jalan.
"Waktu sebelum kejadian, kami pengurus sudah berkoordinasi dengan Pak RW, pihak kelurahan, pihak SDA untuk memperingati, artinya untuk pemberhentian sementara apabila proyek pengerukan kali tersebut akan dijalankan, saya mohon agar menggunakan beko apung," kata dia.
Warjo mengatakan, jalan tersebut telah mengalami kerusakan selama sekitar lima bulan dan hingga kini belum diperbaiki.
"Kemungkinan ini udah 90 derajat kemiringan jalannya," kata dia.
Akibat kerusakan tersebut, sejumlah pengendara dilaporkan sempat terjatuh saat melintasi jalan.
Saat ini, ruas jalan yang masih dapat dilalui hanya tersisa sekitar satu meter sehingga kendaraan hanya bisa melintas secara bergantian dan dengan sangat hati-hati.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




