JAKARTA, DISWAY.ID-- Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan, video yang beredar di media sosial yang menggambarkan erupsi Gunung Anak Krakatau dari atas kapal adalah informasi palsu atau hoaks, setelah dilakukan verifikasi teknis terhadap rekaman tersebut.
Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi Lana Saria menegaskan, video berdurasi kurang dari satu menit yang menampilkan dua orang merekam letusan gunung disertai kilatan cahaya dari atas kapal itu bukanlah rekaman aktivitas erupsi terkini Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.
BACA JUGA:SUGBK Batal Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Ini Dua Stadion Penggantinya!
"Masyarakat diimbau untuk tidak mempercayai maupun menyebarluaskan video yang belum terverifikasi. Seluruh informasi resmi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau hanya disampaikan melalui kanal resmi Badan Geologi, PVMBG, dan MAGMA Indonesia," kata Lana dalam keterangan resmi, Minggu 5 Juli 2026.
Berdasarkan data pemantauan tim Badan Geologi, Gunung Anak Krakatau hanya mengalami dua kali erupsi kecil dalam pekan ini, yakni pada Kamis (2/7/2026) pukul 14.05 WIB dan Jumat (3/7/2026) pukul 11.50 WIB, dengan tinggi kolom abu sekitar 200 meter di atas puncak.
BACA JUGA:TikTok Disebut akan Boyong Tokopedia ke Tiongkok, 90 Persen Karyawannya kena PHK
Selain itu, Badan Geologi juga mengklarifikasi isu perluasan jarak rekomendasi aman menjadi 5 kilometer yang dinilai tidak benar, mengingat rekomendasi resmi untuk status Level III Siaga tetap berada pada radius 3 kilometer dari pusat erupsi.
Dalam rekomendasi tersebut, masyarakat, wisatawan, pendaki, dan nelayan dilarang mendekati zona bahaya radius 3 kilometer guna menghindari ancaman lontaran batu pijar, lava, awan panas, hingga hujan abu lebat.
Badan Geologi secara khusus meminta masyarakat pesisir Banten dan Lampung untuk tetap tenang dan tidak mempercayai isu menyesatkan yang mengaitkan aktivitas Gunung Anak Krakatau dengan potensi tsunami.
BACA JUGA:Di Bawah Danantara, PNM Buka Jalan Kerja bagi Puluhan Ribu Lulusan SMA/SMK dari Keluarga Prasejahtera
"Masyarakat maupun pemerintah daerah setempat diharapkan selalu mengacu pada data dinamis yang disediakan pemerintah melalui situs web resmi PVMBG atau lewat aplikasi MAGMA Indonesia," ujar Lana.
Ia menyatakan, masyarakat dapat beraktivitas seperti biasa dengan senantiasa mengikuti arahan Badan Penanggulangan Bencana Daerah setempat.





