Pemerintah Indonesia mulai mematangkan rencana ekspor listrik hijau ke Singapura melalui proyek pembangkit energi terbarukan yang akan dikembangkan di Batam, Bintan, dan Karimun (BBK). Dalam proyek ini, Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara menggandeng sejumlah perusahaan energi asal Singapura sebagai pembeli (off-taker) listrik yang diproduksi.
Kerja sama tersebut menjadi salah satu dari 26 Memorandum of Understanding (MoU) yang diteken dalam pertemuan Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong pada Leaders’ Retreat Indonesia-Singapura di Istana Jakarta, Senin (6/7).
Salah satu kesepakatan yang ditandatangani adalah MoU antara Danantara dengan Keppel Electric, Sembcorp Industries, dan Singapore Energy Interconnections. Kesepakatan ini menjadi landasan awal untuk melanjutkan negosiasi sekaligus menyusun peta jalan pengembangan proyek interkoneksi listrik lintas batas antara Indonesia dan Singapura.
Lawrence mengatakan proyek tersebut diyakini akan memberikan manfaat bagi kedua negara sekaligus menjadi fondasi bagi pengembangan ASEAN Power Grid atau jaringan listrik kawasan ASEAN.
Menurut Lawrence, kerja sama energi semakin penting di tengah meningkatnya ketidakpastian global, termasuk situasi di Timur Tengah yang mendorong setiap negara memperkuat ketahanan dan diversifikasi sumber energi. Ia juga menilai Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang besar dan Singapura ingin menjadi mitra dalam pengembangannya.
Selain ekspor listrik, kedua negara juga tengah mengembangkan proyek pembangkit tenaga surya berskala besar di Morowali, Sulawesi Tengah, yang nantinya akan memasok listrik bersih bagi kawasan industri.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Danantara, Rosan Roeslani, mengatakan Keppel Electric dan Sembcorp Industries akan menjadi pembeli listrik hijau yang diproduksi dari Indonesia.
“Ya, dengan Keppel, Sembcorp, MOU kita untuk membangun untuk ekspor listrik, ya, dengan Danantara dan ini adalah proyek jangka panjang dan akan dipastikan ini juga memberikan dampak yang win-win lah terhadap kedua negara,” ungkap Rosan kepada wartawan di kompleks Istana Kepresidenan.
Menurut Rosan, rencana ekspor listrik hijau ke Singapura sebenarnya sudah bergulir sekitar empat tahun lalu. Namun, proyek tersebut kini kembali dipercepat melalui Danantara atas arahan Presiden Prabowo Subianto.
Pembangkit listrik hijau akan dibangun secara bertahap di Batam, Bintan, dan Karimun dengan total kapasitas mencapai 3,4 gigawatt (GW). Pada tahap awal, kapasitas yang akan dibangun berkisar 600 megawatt (MW) hingga 1,2 GW.
“Ya, nanti salah satu lokasinya kita lihat dari situ, ya, akan pengembangan juga untuk BBK, ya, tadi, Batam, Bintan, Karimun. Totalnya sih nantinya tuh selama berapa tahun tuh 3,4 gigawatt,” ungkap Rosan.
Ia menjelaskan listrik yang dihasilkan nantinya akan dibeli oleh Keppel dan Sembcorp. Untuk mendukung ekspor tersebut, Indonesia juga akan membangun jaringan transmisi listrik yang terhubung ke Singapura.
Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan kerja sama tersebut merupakan kelanjutan dari nota kesepahaman yang telah diteken pada tahun lalu. Saat ini, pembahasan masih difokuskan pada negosiasi harga jual listrik dan aspek regulasi.
“Proses tahapannya berjalan, tapi, kan, kita masih menegosiasi tentang harga dan regulasi kita, kan, memang harga itu ada di pemerintah. Kita pengen ada win-win, saling menguntungkan, tinggal di titik itu saja. Tapi saya pikir sebentar lagi akan ada titik temu kok,” ungkapnya.
Bahlil mengakui hingga kini pemerintah belum menetapkan harga jual listrik karena masih menginginkan skema yang lebih menguntungkan bagi Indonesia. Proyek tersebut juga mencakup pembangunan panel surya dan jaringan transmisi listrik di wilayah Kepulauan Riau.
Dalam pertemuan yang sama, Prabowo menegaskan kemitraan Indonesia dan Singapura tidak hanya mencakup perdagangan listrik, tetapi juga pengembangan ekosistem digital, keamanan siber, ketahanan pangan, hingga kerja sama pertahanan.
“Kita juga kolaborasi di bidang pangan, rantai pasok, bidang keamanan pertahanan dan implementasi di bidang itu. Kemitraan kuat dibangun atas dasar kepercayaan bukan hanya pemerintah tapi rakyat kedua negara,” ujar Prabowo.





