Dedi Mulyadi Nasihati Om Zein: Pejabat Publik Harus Bertanggung Jawab atas Setiap Ucapan

bisnis.com
12 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, BANDUNG - Gubernur Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi menasihati Bupati Purwakarta Saiful Bahri Binzein atau Om Zein agar lebih berhati-hati dalam menyampaikan pengalaman pribadi kepada publik.

Menurut Dedi, setiap ucapan dan tindakan seorang kepala daerah tidak lagi dipandang sebagai urusan pribadi, melainkan akan dinilai dan dipertanggungjawabkan di hadapan masyarakat.

Nasihat tersebut disampaikan Dedi saat berdialog langsung dengan Om Zein menyusul polemik lagu Lalaki Langit, Lalanang Bejat yang menuai kritik dari publik.

Dalam perbincangan yang diunggah melalui kanal YouTube Kang Dedi Mulyadi, Dedi mengajak Om Zein menjelaskan latar belakang lagu tersebut sekaligus memberikan pandangan mengenai etika seorang pejabat publik.

Dalam dialog itu, Dedi terlebih dahulu menanyakan apakah lagu yang menjadi kontroversi tersebut memang menggambarkan perjalanan hidup Om Zein ketika masih muda.

Menjawab pertanyaan itu, Om Zein mengakui lagu tersebut merupakan refleksi pengalaman pribadinya sebelum terjun ke dunia politik dan pemerintahan.

Baca Juga

  • Pelabuhan Cirebon Kehilangan Muatan
  • Mayoritas Harga Pangan Cirebon Turun Hari ini 6 Juli, Ini Daftarnya
  • Guru Besar Unpad Usul Perda Wajibkan Nama Sunda untuk Perumahan dan Tempat Wisata

"Jadi cerita tentang diri saya, waktu mudanya nakal sebelum jadi bupati itu nakal," ujar Om Zein dikutip Senin (6/7/2026).

Menurut Om Zein, lagu tersebut dibuat untuk menceritakan fase kehidupannya di masa lalu. Ia mengaku pernah menjalani kehidupan yang jauh berbeda dibandingkan sekarang ketika mengemban amanah sebagai kepala daerah.

Mendengar pengakuan itu, Dedi kemudian mengajak Om Zein melihat persoalan dari sudut pandang yang lebih luas. Menurut Dedi, perilaku yang sama akan memiliki konsekuensi sosial yang berbeda apabila dialami perempuan.

Dedi menilai masyarakat sering kali memberikan penilaian yang jauh lebih berat terhadap perempuan dibandingkan laki-laki dalam kasus serupa.

Karena itu, narasi yang disampaikan seorang pejabat publik harus mempertimbangkan dampak sosial yang dapat muncul di tengah masyarakat.

Menanggapi pandangan tersebut, Om Zein mengaku bersyukur dilahirkan sebagai laki-laki. Ia bahkan berandai-andai apabila dirinya perempuan dengan sifat yang sama ketika muda, kemungkinan hidupnya akan berakhir tragis sejak usia sekolah.

"Mungkin SMP kelas 3 sudah ke kuburan karena nakal," ucapnya.

Ia juga mengatakan apabila dirinya seorang perempuan, mungkin akan lebih sibuk mempercantik diri untuk menarik perhatian orang lain. Menurutnya, kondisi tersebut bisa membuatnya semakin terjerumus apabila memperoleh keuntungan materi dari perilaku tersebut.

Meski mengapresiasi keterbukaan Om Zein dalam mengakui masa lalunya, Dedi menegaskan bahwa tidak semua pengalaman pribadi layak disampaikan secara terbuka kepada publik, terutama oleh seorang pejabat negara.

Menurut Dedi, persoalan bukan terletak pada pengakuan mengenai masa lalu, melainkan pada kemungkinan masyarakat menafsirkan cerita tersebut sebagai bentuk pembenaran atau bahkan penghinaan terhadap martabat perempuan.

"Bapak hari ini adalah bupati, maka setiap ucapan dan tindakan seorang bupati akan selalu dipertanggungjawabkan kepada publik," tegas Dedi.

Ia mengingatkan bahwa kepala daerah memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga kepercayaan masyarakat. Karena itu, setiap pernyataan yang disampaikan harus mampu memberikan teladan dan tidak menimbulkan polemik yang dapat melukai kelompok tertentu.

Usai menerima masukan tersebut, Om Zein menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas kegaduhan yang ditimbulkan.

"Saya mohon maaf sebesar-besarnya atas itu. Karena saat itu saya tidak menyadarinya. Ketika ini menjadi kontroversi, saya salah dalam pemilihan kata," katanya.

Sebagai bentuk tanggung jawab, Om Zein juga mengaku telah menghapus lagu Lalaki Langit, Lalanang Bejat dari seluruh platform media sosial.

Tak hanya itu, ia menyatakan siap menjalankan arahan Dedi Mulyadi sebagai bentuk sanksi moral. Om Zein berkomitmen merenovasi 10 rumah janda muda di Purwakarta menggunakan dana pribadi sekaligus membantu menjamin pendidikan anak-anak mereka.

Menurut Om Zein, langkah tersebut merupakan bentuk kesungguhan dirinya memperbaiki kekeliruan dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat. "Saya sanggup menjalankan sanksi sosial dari gubernur," pungkasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
PT Bukit Asam Bakal Bangun Flyover Simpang Belimbing dan Ujan Mas di Muara Enim
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Tradisi Seru Perang di Purbalingga, Ribuan Tomat Beterbangan Menyasar ke Segala Arah
• 10 jam lalurctiplus.com
thumb
PT HD Arjuna Buka Suara soal Sengketa Lahan, Bantah Lakukan Teror dan Intimidasi
• 6 jam lalucumicumi.com
thumb
Roy Suryo Menang Praperadilan, Hakim Nyatakan Penangkapan dan Penahanan Tidak Sah
• 5 jam laludisway.id
thumb
Sosok Nadira Az-Zahra di Mata Keluarga, Mahasiswi Telkom University yang Sempat Hilang saat Berangkat ke Kampus
• 7 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.