Moskow (ANTARA) - Uji coba rudal strategis terbaru China dan latihan angkatan laut gabungan yang sedang berlangsung dengan Rusia tidak ditujukan kepada negara mana pun, kata Kremlin, Senin.
Berbicara dalam konferensi pers di Moskow, Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan China memiliki hak kedaulatan untuk melakukan uji coba rudal dan memperkuat kemampuan militernya.
Moskow menggambarkan kerja sama militer dengan Beijing itu sebagai faktor penting bagi keamanan kawasan.
“Kami meyakini bahwa itu adalah hak kedaulatan China untuk menguji rudalnya dan terlibat dalam pengembangan militer. China tidak mengancam negara mana pun di kawasan maupun di dunia, dan China adalah sekutu utama serta mitra strategis kami,” ujarnya.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah China meluncurkan uji coba rudal balistik dari kapal selam dari Laut China Selatan menuju Samudra Pasifik.
Menanggapi latihan angkatan laut Maritime Interaction-2026 (Joint Sea-2026) yang berlangsung di Laut Kuning dan wilayah udara di sekitar kota pelabuhan Qingdao, China, pada 6–13 Juli, Peskov menegaskan bahwa latihan tersebut bersifat defensif dan tidak ditujukan kepada negara ketiga mana pun.
“Latihan gabungan kami juga tidak ditujukan kepada siapa pun atau terhadap negara mana pun di kawasan, dan semua pihak seharusnya memahami hal tersebut,” katanya.
“Sebaliknya, kerja sama antara Rusia dan China di bidang yang sangat penting dan strategis ini merupakan faktor yang sangat penting dalam meningkatkan prediktabilitas dan keamanan di kawasan,” tambahnya.
Peskov juga menyinggung percakapan telepon pekan lalu antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang digambarkannya sebagai kesempatan bagi Moskow untuk menyampaikan secara langsung posisinya mengenai Ukraina kepada Washington.
“Ini merupakan kesempatan yang baik, bisa dikatakan di tingkat tertinggi, untuk menyampaikan posisi kami secara langsung kepada Presiden Amerika Serikat,” katanya.
Baca juga: China-Rusia gelar latihan Angkatan Laut dan patroli maritim gabungan
Peskov menolak mengomentari bagaimana respons Trump terhadap pernyataan Putin. Menurutnya, pertanyaan mengenai tanggapan Presiden AS tersebut sebaiknya ditujukan kepada Gedung Putih.
Menanggapi laporan media yang menyebut Putin dan Trump sepakat untuk kembali berbicara setelah pertemuan yang direncanakan antara Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dalam KTT NATO pekan ini di Ankara, Turkiye, Peskov mengatakan terdapat pemahaman bersama bahwa komunikasi antara kedua pemimpin akan terus berlanjut.
“Memang, baik Presiden Putin maupun Presiden Trump memiliki pemahaman bahwa kontak di antara mereka akan dilanjutkan dalam waktu dekat,” ujarnya.
Menurut Peskov, Trump sejauh ini mempertahankan sikap yang konsisten terkait konflik di Ukraina.
“Presiden Trump memiliki posisi yang cukup konsisten, dan semua spekulasi bahwa ia mengubah pandangannya seperti penunjuk arah angin tidak sesuai dengan kenyataan?” katanya.
Ia menambahkan bahwa, menurut pandangan Kremlin, salah satu aspek utama pendekatan Trump adalah kesediaannya untuk mendengarkan perspektif Rusia.
“Ia konsisten dan yakin dengan pemahamannya mengenai apa yang sedang terjadi. Namun yang paling penting, ia terbuka untuk mendengarkan informasi yang disampaikan Putin kepadanya,” ujar Peskov.
Sumber: Anadolu
Baca juga: China dan Rusia perkuat stabilitas maritim bersama di Laut Kuning
Berbicara dalam konferensi pers di Moskow, Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan China memiliki hak kedaulatan untuk melakukan uji coba rudal dan memperkuat kemampuan militernya.
Moskow menggambarkan kerja sama militer dengan Beijing itu sebagai faktor penting bagi keamanan kawasan.
“Kami meyakini bahwa itu adalah hak kedaulatan China untuk menguji rudalnya dan terlibat dalam pengembangan militer. China tidak mengancam negara mana pun di kawasan maupun di dunia, dan China adalah sekutu utama serta mitra strategis kami,” ujarnya.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah China meluncurkan uji coba rudal balistik dari kapal selam dari Laut China Selatan menuju Samudra Pasifik.
Menanggapi latihan angkatan laut Maritime Interaction-2026 (Joint Sea-2026) yang berlangsung di Laut Kuning dan wilayah udara di sekitar kota pelabuhan Qingdao, China, pada 6–13 Juli, Peskov menegaskan bahwa latihan tersebut bersifat defensif dan tidak ditujukan kepada negara ketiga mana pun.
“Latihan gabungan kami juga tidak ditujukan kepada siapa pun atau terhadap negara mana pun di kawasan, dan semua pihak seharusnya memahami hal tersebut,” katanya.
“Sebaliknya, kerja sama antara Rusia dan China di bidang yang sangat penting dan strategis ini merupakan faktor yang sangat penting dalam meningkatkan prediktabilitas dan keamanan di kawasan,” tambahnya.
Peskov juga menyinggung percakapan telepon pekan lalu antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang digambarkannya sebagai kesempatan bagi Moskow untuk menyampaikan secara langsung posisinya mengenai Ukraina kepada Washington.
“Ini merupakan kesempatan yang baik, bisa dikatakan di tingkat tertinggi, untuk menyampaikan posisi kami secara langsung kepada Presiden Amerika Serikat,” katanya.
Baca juga: China-Rusia gelar latihan Angkatan Laut dan patroli maritim gabungan
Peskov menolak mengomentari bagaimana respons Trump terhadap pernyataan Putin. Menurutnya, pertanyaan mengenai tanggapan Presiden AS tersebut sebaiknya ditujukan kepada Gedung Putih.
Menanggapi laporan media yang menyebut Putin dan Trump sepakat untuk kembali berbicara setelah pertemuan yang direncanakan antara Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dalam KTT NATO pekan ini di Ankara, Turkiye, Peskov mengatakan terdapat pemahaman bersama bahwa komunikasi antara kedua pemimpin akan terus berlanjut.
“Memang, baik Presiden Putin maupun Presiden Trump memiliki pemahaman bahwa kontak di antara mereka akan dilanjutkan dalam waktu dekat,” ujarnya.
Menurut Peskov, Trump sejauh ini mempertahankan sikap yang konsisten terkait konflik di Ukraina.
“Presiden Trump memiliki posisi yang cukup konsisten, dan semua spekulasi bahwa ia mengubah pandangannya seperti penunjuk arah angin tidak sesuai dengan kenyataan?” katanya.
Ia menambahkan bahwa, menurut pandangan Kremlin, salah satu aspek utama pendekatan Trump adalah kesediaannya untuk mendengarkan perspektif Rusia.
“Ia konsisten dan yakin dengan pemahamannya mengenai apa yang sedang terjadi. Namun yang paling penting, ia terbuka untuk mendengarkan informasi yang disampaikan Putin kepadanya,” ujar Peskov.
Sumber: Anadolu
Baca juga: China dan Rusia perkuat stabilitas maritim bersama di Laut Kuning





