Ekonom Ungkap Lima Kunci Pertumbuhan Korporasi Berkualitas

bisnis.com
7 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Pertumbuhan kinerja korporasi yang berkualitas dinilai paling ditentukan oleh kemampuan perusahaan dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan pendapatan, arus kas, margin keuntungan, kualitas aset, dan disiplin biaya.

Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. (BNLI) Josua Pardede berujar perusahaan yang hanya tumbuh dari sisi penjualan belum tentu sehat jika pertumbuhannya dibayar dengan utang mahal, persediaan menumpuk, piutang memburuk, atau margin tergerus. 

Dia melihat bahwa pertumbuhan korporasi yang berkualitas pada 2025 ditentukan oleh lima hal yakni permintaan yang kuat dan berulang, margin yang terjaga, arus kas yang sehat, tata kelola yang kredibel, dan kemampuan berinovasi. 

“Adapun, sektor yang paling tangguh adalah sektor yang dekat dengan kebutuhan dasar, transaksi harian, konektivitas, kesehatan, logistik, dan jasa keuangan yang prudent,” ujarnya kepada Bisnis, dikutip pada Selasa (7/7/2026).

Dikatakan Josua, sektor yang paling menantang pada tahun kemarin adalah sektor yang sangat peka terhadap daya beli, biaya energi, nilai tukar, dan permintaan global.

“Sebab itu, dalam kondisi ekonomi yang makin selektif, pemenangnya bukan perusahaan yang tumbuh paling cepat, melainkan perusahaan yang tumbuh paling sehat, paling efisien, dan paling dipercaya pasar,” tegasnya.

Baca Juga

  • Ekspansi KEK: Antara Ledakan Investasi, Beban Fiskal, dan Agenda Pemerataan
  • BI: Cadangan Devisa RI Naik ke US$145,6 Miliar pada Juni 2026

Lebih lanjut, dia berpendapat faktor lain yang paling menentukan korporasi bisa berkualitas adalah kemampuan membaca perubahan permintaan. Pada 2025 hingga awal 2026 pasar domestik dianggap tetap menjadi penopang utama, tetapi daya beli kelas menengah mulai lebih selektif. 

Perusahaan yang menjual barang kebutuhan pokok, layanan esensial, kesehatan, jasa keuangan, telekomunikasi, logistik, dan produk yang berhubungan dengan aktivitas harian cenderung lebih tangguh. Sebaliknya, perusahaan yang bergantung pada belanja tahan lama, ekspor komoditas, atau permintaan global lebih rentan ketika harga komoditas melemah dan permintaan luar negeri turun. 

“Data terbaru BPS menunjukkan ekspor Mei 2026 turun 5,73% secara tahunan, sementara impor naik 22,16%, sehingga neraca perdagangan mengalami defisit pertama dalam lebih dari enam tahun. Ini memberi sinyal bahwa tekanan eksternal dan biaya input semakin penting bagi korporasi,” ungkapnya.

Lebih jauh, Josua mengatakan tata kelola perusahaan juga sangat penting dijaga. Hal ini karena dalam situasi ekonomi yang tidak mudah, pasar dan kreditur akan lebih memilih perusahaan yang transparan, disiplin, dan dapat dipercaya, sehingga tata kelola yang baik bukan sekadar kewajiban administratif, tetapi alat untuk menurunkan biaya modal.

Inovasi dan transformasi digital juga sudah menjadi syarat daya saing, bukan lagi pelengkap. Pasalnya, digitalisasi membantu perusahaan menekan biaya, mempercepat layanan, membaca perilaku konsumen, memperbaiki rantai pasok, memperkuat pembayaran, dan meningkatkan pengalaman pelanggan. 

“Namun, digitalisasi tidak boleh hanya berupa aplikasi atau kanal penjualan baru. Yang lebih penting adalah perubahan proses bisnis, kualitas data, keamanan siber, dan kemampuan perusahaan mengambil keputusan lebih cepat berbasis informasi yang lebih akurat,” tegasnya.

Josua menekankan bagi perusahaan yang ingin mencatat pertumbuhan berkualitas perlu menghindari strategi mengejar volume semata. Prioritasnya harus diarahkan pada produk dengan margin sehat, pelanggan yang mampu membayar, efisiensi rantai pasok, pengelolaan utang yang konservatif, perlindungan terhadap risiko nilai tukar, dan diversifikasi pasar.

Untuk perusahaan konsumsi, katanya, kuncinya adalah menyesuaikan ukuran produk dan harga agar tetap terjangkau. Untuk manufaktur, kuncinya adalah efisiensi bahan baku, peningkatan kandungan lokal, dan penguatan pasar ekspor nontradisional.

“Sementara itu, untuk sektor keuangan, kuncinya adalah menjaga kualitas kredit dan tidak terjebak pada pertumbuhan pembiayaan berisiko tinggi,” pungkasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Usulan Kenaikan Tarif Transjakarta Jadi Rp5.000 dan Transjabodetabek Rp10 Ribu Segera Dikaji
• 7 jam laluidxchannel.com
thumb
Harga Emas dan Perak Mendadak Berbalik Arah dan Jatuh, Kehabisan Tenaga?
• 12 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Studi: Teh hijau dan oolong hasilkan kombucha paling kaya antioksidan
• 7 jam laluantaranews.com
thumb
Guru Besar UGM Singgung Bonus Demografi Anak Muda Tapi Pemimpin Banyak dari Kalangan Tua
• 2 jam lalukompas.com
thumb
Dugaan Manipulasi Fakta hingga Tidur, Ini Alasan 4 Hakim Kasus Nadiem Dilaporkan ke KY
• 13 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.