KPK Bertemu Pimpinan BGN Bahas Pencegahan Korupsi

idxchannel.com
8 jam lalu
Cover Berita

KPK kedatangan pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN) hari ini untuk audiensi yang salah satunya membahas pencegahan korupsi. 

KPK Bertemu Pimpinan BGN Bahas Pencegahan Korupsi. (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Budi Prasetyo menyatakan, kedatangan pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN) hari ini untuk audiensi yang salah satunya membahas pencegahan korupsi. 

"Siang ini, KPK menerima audiensi dari jajaran BGN, untuk membahas berbagai hal khususnya pada aspek pencegahan korupsi," kata Budi dalam keterangannya, Selasa (7/7/2026). 

Baca Juga:
Kejaksaan Agung Akan Dalami Dugaan Pengadaan CCTV Fiktif Rp300 Miliar di BGN

"Terlebih sebelumnya KPK melalui Direktorat Monitoring juga telah menyampaikan hasil kajian dan rekomenasi perbaikan terkait tata kelola pada program Makan Bergizi Gratis (MBG)," sambungnya. 

Dalam kajiannya, KPK menemukan delapan temuan yang berpotensi membuka ruang korupsi dalam program MBG. Pertama, regulasi pelaksanaan MBG belum memadai, khususnya dalam mengatur tata kelola program dari perencanaan, pelaksanaan, hingga pengawasan lintas kementerian/lembaga dan pemerintah daerah. 

Baca Juga:
Ini Respons Mabes soal Keterlibatan TNI yang Diduga Terlibat Korupsi BGN

Kedua, pelaksanaan MBG melalui mekanisme Bantuan Pemerintah (Banper) menimbulkan risiko perpanjangan rantai birokrasi, potensi rente, serta berkurangnya porsi anggaran bahan pangan akibat potongan biaya operasional dan sewa.

Ketiga, pendekatan sentralistik dengan BGN sebagai aktor tunggal meminggirkan peran pemerintah daerah dan melemahkan mekanisme check and balances dalam penentuan mitra, lokasi dapur, dan pengawasan.

Baca Juga:
Purbaya Sebut Bakal Ada Penghematan Anggaran yang Signifikan di BGN

Keempat, tingginya potensi konflik kepentingan dalam penentuan mitra SPPG/dapur karena kewenangan terpusat dan SOP yang belum jelas.

Kelima, lemahnya transparansi dan akuntabilitas, terutama dalam proses verifikasi dan validasi yayasan mitra, penentuan lokasi dapur, serta pelaporan dan pertanggungjawaban keuangan.

Keenam, banyak dapur tidak memenuhi standar teknis SPPG, yang berdampak pada kasus keracunan makanan di berbagai daerah. 

Ketujuh, pengawasan keamanan pangan belum optimal, dengan minimnya keterlibatan Dinas Kesehatan dan BPOM sesuai kewenangannya. 

Terakhir, belum adanya indikator keberhasilan program MBG, baik jangka pendek maupun jangka panjang, serta belum dilakukan pengukuran baseline status gizi dan capaian akademik penerima manfaat. 

(Febrina Ratna Iskana)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Minyak Melandai ke US$70, Harga Pertamax Berpeluang Turun pada Agustus
• 13 jam lalubisnis.com
thumb
Truk Trailer di Pasuruan Tabrak Pemotor saat Lampu Merah: 3 Orang Tewas
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Lautan Pelayat Antar Ayatollah Ali Khamenei ke Peristirahatan Terakhir
• 22 jam lalurepublika.co.id
thumb
Komisi VI usulkan PTPN kembangkan bioetanol dari sorgum
• 23 jam laluantaranews.com
thumb
Pramono Resmikan Gedung PW Muslimat NU DKI di Utan Kayu
• 6 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.