JAKARTA, KOMPAS.com - Kondisi gedung bekas Bandara Internasional Kemayoran di Jalan Angkasa, Kemayoran, Jakarta Pusat, yang terbengkalai turut disoroti oleh warga dan pedagang di sekitar.
Mereka menyayangkan gedung bersejarah yang merupakan bandar udara pertama di Indonesia itu kini tak terurus.
Toro (43), salah seorang pedagang di sekitar kawasan Kemayoran, menilai bangunan yang dulunya berfungsi sebagai terminal penumpang itu memiliki nilai sejarah tinggi bagi warga Jakarta.
Baca juga: Gedung Eks Bandara Kemayoran Jakpus Terbengkalai, Wamensesneg: Tersandera Kontrak Mangkrak
"Ya menurut saya sayang ya, harusnya dibenerin lah, apa misalnya jadi museum atau gimana gitu. Kan orang tuh enggak banyak yang tahu gitu (sejarahnya) bandara ini dulu," kata Toro saat ditemui Kompas.com di lokasi, Selasa (7/7/2026).
Menurut Toro, banyak masyarakat yang melintas di kawasan tersebut tidak menyadari bahwa bangunan berkelir merah putih yang kini hanya tersisa pilar betonnya itu adalah bangunan Bandara Kemayoran.
"Banyak yang lewat sini, tapi enggak tahu kalau gedung yang ini bekas bandara. Orang pada tahunya tuh pokoknya Kemayoran tuh bekas bandara, tapi enggak tahu gitu bandaranya tuh yang mana, kayak gimana gitu enggak ada yang tahu," ujar Toro.
Baca juga: Dulu Bandara Internasional Pertama di Indonesia, Kini Eks Bandara Kemayoran Terbengkalai
Padahal, baginya, bangunan tersebut adalah saksi bisu sejarah penerbangan Tanah Air sebagai bandar udara pertama di Indonesia yang menjadi kebanggan warga Jakarta.
Ia pun mendorong agar pemerintah bisa memperbaiki bangunan bandara dan menjadikannya sebagai tempat wisata museum penerbangan Jakarta.
"Padahal kan sayang ini sejarahnya banyak lagi. Apalagi kita sebagai orang Jakarta, kan orang Betawi ya, kalau bisa tahulah tentang sejarah gitu. Harusnya ini bisa dijadikan tempat-tempat yang lebih bermanfaat lah," ucapnya.
Baca juga: Penampakan Gedung Eks Bandara Kemayoran, Terbengkalai Bak Bangunan di Film Horor
Selain itu, terbengkalainya gedung besar itu juga disebut berpotensi mengundang maraknya aksi kriminalitas.
Terlebih, kondisi bangunan yang gelap juga membuat suasana di dalam area gedung memberikan kesan angker.
"Daripada terbengkalai angker doang kayak gini kan enggak baik juga gitu, ngundang maksiat, ngundang niat-niat orang jahat lah. Katanya suka ada yang gimana-gimana di dalam situ, kan banyak yang maling juga nyolongin barang-barang di dalam situ lah gitu," tuturnya.
Baca juga: Lahan Negara di Kemayoran Banyak Terbengkalai, Bakal Ada Evaluasi Besar-besaran
Barang-barang yang kerap menjadi sasaran pencurian, kata Toro, berupa sisa-sisa material bangunan yang masih memiliki nilai ekonomis untuk dijual, seperti pelat besi hingga kabel.
"Sebenarnya kan ada satpamnya di dalam, cuma ya mungkin kan enggak patroli terus-terusan 24 jam gitu ya. Jadinya enggak terkontrol juga gitu, daripada jadi tempat orang buat berbuat jahat kan gitu, mendingan lebih baik diperbaiki lah bangunannya," kata dia.
Senada, Dini (37), pedagang lain di dekat Mal Mega Kemayoran, juga sangat menyayangkan aset negara di tengah kota itu dibiarkan tak terawat.
Baca juga: Pemerintah Siapkan Langkah Hukum bagi Mitra Pengelola Kemayoran yang Tak Penuhi Kewajiban





