Pemerintah optimistis pendapatan negara sepanjang 2026 akan melampaui target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Optimisme tersebut didorong oleh pertumbuhan penerimaan perpajakan serta meningkatnya penerimaan negara bukan pajak (PNBP) di tengah membaiknya aktivitas ekonomi nasional.
Purbaya Yudhi Sadewa Menteri Keuangan (Menkeu) menyampaikan, outlook pendapatan negara tahun 2026 diperkirakan mencapai Rp3.208,1 triliun atau setara 101,7 persen dari target APBN.
Nilai tersebut juga diproyeksikan tumbuh 16 persen dibandingkan realisasi tahun sebelumnya.
“Penerimaan sebesar Rp2.631,4 triliun, tumbuh 18,6 persen. Pajak Rp2.310,8 triliun tumbuh 20,5 persen year on year, serta kepabeanan dan cukai Rp320,6 triliun tumbuh 6,8 persen year on year,” kata Purbaya dalam rapat bersama Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Selasa (7/7/2026).
Adapun PNBP dilaporkan mencapai Rp575,1 triliun atau tumbuh 6,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Purbaya mengatakan, optimisme tersebut ditopang oleh perbaikan administrasi perpajakan, penguatan pengawasan, serta meningkatnya aktivitas ekonomi domestik tanpa harus menaikkan tarif pajak.
“Kita akan jaga terus. Mudah-mudahan penerimaan pajaknya bisa tahan di 23 persen terus untuk penerimaan pajaknya sehingga income kita juga akan lebih baik,” ujarnya.
Meski demikian, pemerintah tetap mencermati berbagai risiko global, termasuk ketidakpastian geopolitik dan volatilitas harga komoditas, yang berpotensi memengaruhi penerimaan negara pada paruh kedua tahun ini.
“Ke depan, pemerintah akan terus memperkuat pengawasan kepatuhan berbasis risiko. Optimalisasi pemanfaatan data serta penyempurnaan administrasi perpajakan untuk menjaga momentum penerimaan pajak hingga akhir tahun,” jelasnya.
Purbaya menjelaskan dari sisi sektoral, pertumbuhan penerimaan dari pajak berasal dari sektor perdagangan 25,6 persen dan industri pengelolaan sebesar 22,8 persen.
“Adapun dari sisi pertumbuhan, sektor yang meningkat signifikan adalah perdagangan dengan tumbuh 45,9 persen, pertambangan 22,8 persen dan industri pengolahan tumbuh sebesar 19,9 persen. Sektor perdagangan masih menjadi kontribusi terbesar dalam pertumbuhan yang tinggi, terutama didorong oleh meningkatnya harga BBM seiring kenaikan harga komoditas dunia, serta berkembangnya aktivitas perdagangan digital,” pungkasnya. (lea/saf/ipg)




