Tersingkirnya Brasil dan Meksiko dari Piala Dunia 2026 diperkirakan bakal berdampak pada penjualan bir di Amerika Latin.
Analis Morgan Stanley memperkirakan penjualan bir pada kuartal III 2026 berpotensi lebih rendah dari ekspektasi setelah dua negara dengan basis penggemar sepak bola terbesar di kawasan itu gagal melaju ke babak selanjutnya.
Analis Morgan Stanley yang dipimpin Sarah Simon menilai peningkatan konsumsi bir selama piala dunia, umumnya terjadi ketika tim nasional mampu melaju jauh hingga fase-fase akhir turnamen.
"Kami meyakini peningkatan volume penjualan bir paling besar terjadi ketika sebuah tim mampu melaju jauh di turnamen (deep run)," tulis Morgan Stanley dalam risetnya, dikutip dari Bloomberg pada Kamis (9/7).
Menurut Morgan Stanley, perusahaan yang paling berisiko terdampak adalah Anheuser-Busch InBev (AB InBev), produsen Corona dan Skol, karena memiliki eksposur penjualan yang besar di Brasil dan Meksiko. Sementara Heineken juga dinilai memiliki paparan yang cukup signifikan terhadap pasar Amerika Latin.
Sentimen tersebut langsung menekan saham emiten minuman beralkohol global. Saham AB InBev ditutup melemah lebih dari 4 persen di Bursa Brussel, sedangkan Heineken turun 1,4 persen di Amsterdam.
Di AS, saham Constellation Brands Inc., distributor Corona dan Modelo, anjlok 4,9 persen dan ditutup pada level terendah sejak 20 November. Saham Boston Beer Co. dan Molson Coors Beverage Co. juga berakhir di zona merah.
Di sisi lain, Ambev SA, anak usaha AB InBev di Brasil, ditutup turun 2,5 persen di São Paulo.
Brasil harus mengakhiri langkahnya di Piala Dunia setelah kalah dari Norwegia yang mencetak dua gol melalui Erling Haaland. Kekalahan itu menjadi kali pertama Brasil gagal mencapai babak perempat final Piala Dunia sejak edisi 1990, ketika disingkirkan Argentina yang dipimpin Diego Maradona.
Meksiko juga tersingkir setelah kalah dari Inggris dalam pertandingan yang menghasilkan lima gol di Stadion Azteca, Mexico City.
Morgan Stanley menilai kegagalan Brasil akan memberikan dampak yang lebih besar terhadap industri bir dibandingkan Meksiko. Alasannya, pasar bir Brasil lebih besar dan ekspektasi masyarakat terhadap performa tim nasionalnya juga lebih tinggi.
"Kami melihat dampak negatif ini terutama berasal dari hilangnya potensi pertumbuhan tambahan yang seharusnya terjadi apabila salah satu dari kedua tim mampu melaju lebih jauh di turnamen," lanjut Morgan Stanley.
Harapan penurunan penjualan di Amerika Latin dapat diimbangi oleh keberhasilan tim nasional AS juga pupus. Tim AS harus tersingkir setelah kalah telak 1-4 dari Belgia di Seattle.
Sekitar 20 persen pendapatan AB InBev berasal dari pasar AS. Meski tim AS berhasil mencapai babak 16 besar, langkah mereka terhenti setelah kalah dari Belgia.





