Dari Abu Dhabi, Pelajaran untuk Jakarta

kumparan.com
12 jam lalu
Cover Berita

Peluncuran layanan kereta penumpang nasional pertama di Uni Emirat Arab (UEA) melalui Etihad Rail bukan sekadar berita tentang transportasi. Peristiwa ini mencerminkan arah baru pembangunan global: semakin banyak negara menyadari bahwa masa depan mobilitas tidak dapat terus bergantung pada kendaraan pribadi dan jalan raya.

UEA adalah contoh yang menarik. Selama ini negara tersebut dikenal dengan jalan tol modern, kendaraan mewah, dan infrastruktur otomotif yang sangat maju. Namun, ketika negara yang identik dengan mobil justru berinvestasi besar pada jaringan kereta penumpang nasional, ada pesan penting yang sedang disampaikan kepada dunia.

Pesan itu sederhana: mobilitas masa depan membutuhkan sistem yang lebih efisien, terintegrasi, dan berkelanjutan.

Selama beberapa dekade, banyak kota di dunia berupaya mengatasi kemacetan dengan memperlebar jalan atau membangun ruas baru. Namun berbagai penelitian dan pengalaman kota-kota besar menunjukkan bahwa penambahan kapasitas jalan sering kali hanya menjadi solusi sementara. Ketika jumlah kendaraan terus bertambah, kemacetan kembali muncul dalam bentuk yang sama.

Karena itu, perhatian dunia mulai bergeser ke transportasi massal berbasis rel. Kereta api mampu mengangkut lebih banyak penumpang, menggunakan ruang yang lebih efisien, serta mendukung pertumbuhan ekonomi di sepanjang jalurnya. Tidak mengherankan jika banyak negara kembali menjadikan rel sebagai tulang punggung mobilitas modern.

Indonesia sebenarnya memiliki modal yang tidak dimiliki banyak negara lain. Jaringan kereta api telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat selama puluhan tahun. Tantangannya bukan lagi sekadar membangun rel baru, melainkan menciptakan keterhubungan yang lebih baik antara transportasi antarkota dan transportasi perkotaan.

Di sinilah Jakarta menjadi contoh yang menarik.

Dalam beberapa tahun terakhir, Jakarta berupaya mengubah wajah transportasinya melalui integrasi MRT, LRT, KRL, TransJakarta, serta pengembangan kawasan berorientasi transit. Perubahan tersebut menunjukkan pergeseran paradigma dari pembangunan yang berorientasi kendaraan menuju pembangunan yang berorientasi pada mobilitas manusia.

Keberhasilan sebuah sistem transportasi tidak hanya ditentukan oleh panjang jalur yang dibangun, tetapi juga oleh kemudahan masyarakat menggunakannya. Rel, stasiun, halte, trotoar, dan moda transportasi lainnya harus saling terhubung menjadi satu ekosistem yang utuh.

Nama Anies Baswedan sering muncul dalam diskusi mengenai transformasi transportasi Jakarta karena integrasi transportasi publik menjadi salah satu agenda penting pada masa kepemimpinannya. Namun mengaitkan peluncuran Etihad Rail sebagai hasil pengaruh langsung Anies tentu tidak memiliki dasar yang kuat. Proyek kereta nasional UEA telah direncanakan dan dibangun jauh sebelum Anies memperoleh peran sebagai penasihat pembangunan di Riyadh, Arab Saudi.

Yang lebih penting untuk dicermati adalah kesamaan visi yang muncul di berbagai belahan dunia. Baik Jakarta maupun UEA menunjukkan bahwa pembangunan modern semakin mengarah pada penguatan transportasi publik sebagai instrumen peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Pandangan ini sejalan dengan pemikiran urbanis dunia Enrique Peñalosa yang pernah mengatakan,

Kutipan tersebut menegaskan bahwa ukuran kemajuan tidak terletak pada banyaknya kendaraan yang dimiliki warga, melainkan pada kualitas layanan publik yang membuat semua orang bersedia menggunakannya.

Peluncuran Etihad Rail menjadi pengingat bahwa infrastruktur transportasi membutuhkan visi yang melampaui satu periode pemerintahan. Infrastruktur rel tidak dibangun dalam hitungan bulan, melainkan melalui perencanaan panjang, investasi besar, dan konsistensi kebijakan yang dijaga selama bertahun-tahun.

Bagi Indonesia, pelajaran terpenting dari UEA bukanlah tentang kemegahan proyek atau kecepatan pembangunan. Pelajarannya adalah pentingnya keberanian untuk berpikir jauh ke depan. Negara yang ingin kompetitif di masa depan harus membangun sistem mobilitas sebelum kebutuhan itu berubah menjadi persoalan yang lebih besar.

Pada akhirnya, kota dan negara yang maju bukanlah yang menyediakan ruang seluas-luasnya bagi kendaraan, melainkan yang mampu memberikan kemudahan sebesar-besarnya bagi manusia untuk bergerak, bekerja, belajar, dan berinteraksi. Jika abad ke-20 dikenal sebagai era pembangunan jalan raya, maka abad ke-21 mungkin akan dikenang sebagai era kebangkitan transportasi publik. Dari Jakarta hingga Abu Dhabi, rel kereta kembali menjadi simbol bagaimana sebuah bangsa merancang masa depannya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Serangan AS di 5 Provinsi Iran Tewaskan 14 Orang dan Lukai 78 Lainnya
• 1 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Calon Haji Reguler Nunggu 17 Tahun Minta MK Hapus Kuota Haji Khusus
• 6 jam laludetik.com
thumb
Waka Komisi III DPR Dukung Kortas Tipikor Usut Korupsi Batu Bara
• 6 jam laludetik.com
thumb
Manchester United Resmi Boyong Andrey Santos dari Chelsea dengan Harga 1,2 Triliun
• 1 jam lalumedcom.id
thumb
KPK Sita SGD12.000 dari Ketua DPRD Kuansing, Diduga Terkait Alih Fungsi Hutan
• 8 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.