Seekor kepiting terjebak di dalam sebuah botol plastik yang memiliki mulut lebih kecil daripada ukuran tubuhnya. Meski terdengar mustahil, hewan tersebut ternyata mampu bertahan hidup selama berbulan-bulan di dalam 'penjara plastik' itu.
Temuan unik ini menjadi gambaran nyata bagaimana sampah plastik dapat memengaruhi kehidupan satwa laut dengan cara yang tak terduga. Studinya telah dipublikasikan di jurnal Ecosphare.
Peristiwa tersebut didokumentasikan oleh tim peneliti dari Hiroshima University, Jepang, ketika melakukan survei ikan-ikan muda di perairan lepas pantai Okinawa pada Juli 2022.
Saat itu, para ilmuwan menemukan sebuah botol plastik yang mengapung sekitar 500 meter dari Pulau Sesoko, Okinawa, Jepang. Botol tersebut dikelilingi banyak ikan muda yang menjadikannya sebagai tempat berlindung.
"Kami menemukan sebuah botol plastik mengapung sekitar 500 meter dari Pulau Sesoko, Okinawa, Jepang, dengan banyak ikan muda yang berkumpul di sekitarnya," ujar Hajime Sato dan Yoichi Sakai, penulis studi, dikutip IFLScience.
Namun, ada satu pemandangan yang benar-benar mengejutkan mereka.
"Yang paling mengejutkan, seekor kepiting renang (Portunus sanguinolentus) yang masih hidup ternyata terperangkap di dalam botol tersebut. Padahal ukuran tubuhnya jelas lebih besar daripada mulut botol," kata mereka.
Mulut botol yang ditemukan hanya memiliki diameter sekitar 24 milimeter. Sementara itu, tubuh kepiting memiliki panjang 40,31 milimeter dan lebar mencapai 88,23 milimeter. Dengan ukuran tersebut, mustahil bagi kepiting untuk keluar melalui lubang botol. Kendati demikian, kepiting itu tampaknya tidak kekurangan makanan selama berada di dalam botol.
Setelah berhasil dikeluarkan oleh para peneliti, analisis DNA terhadap isi lambungnya menunjukkan bahwa ia baru saja memangsa beberapa ikan muda, di antaranya rough triggerfish (Canthidermis maculata) dan sergeant major (Abudefduf vaigiensis). Selain itu, kepiting juga memakan alga yang tumbuh di bagian dalam botol.
Menurut peneliti, satu-satunya penjelasan yang masuk akal adalah kepiting tersebut masuk ke dalam botol ketika masih berukuran kecil dan belum dewasa. Seiring waktu, tubuhnya terus tumbuh hingga akhirnya tidak lagi bisa keluar dari tempat yang semula menjadi "rumahnya".
Untuk memperkirakan berapa lama kepiting itu berada di dalam botol, tim peneliti memeriksa pertumbuhan goose barnacle (Lepas anserifera), sejenis teritip yang menempel di permukaan botol.
Berdasarkan ukuran teritip serta laju pertumbuhan kepiting, mereka menyimpulkan bahwa hewan tersebut kemungkinan telah terjebak di dalam botol selama sekitar dua bulan.
Kisah kepiting ini mengingatkan para peneliti pada cerita pendek klasik Jepang berjudul Salamander, karya novelis Masuji Ibuse, yang pertama kali diterbitkan pada 1929.
Cerita tersebut mengisahkan seekor salamander yang tidak lagi mampu keluar dari sarangnya setelah menghabiskan dua tahun terus makan hingga tubuhnya membesar. Salah satu bagian cerita itu berbunyi:
Bukti Dampak Sampah Plastik terhadap LautDi balik kisah yang terdengar seperti dongeng tersebut, para peneliti menilai kejadian ini merupakan contoh nyata bagaimana sampah plastik dapat mengancam kehidupan satwa laut.
"Botol plastik yang dibuang manusia dapat menjebak kepiting dan membuatnya tidak bisa melarikan diri. Kasus serupa juga pernah dilaporkan di perairan Jepang, sehingga kejadian ini bukanlah insiden yang berdiri sendiri," tulis para peneliti.
Mereka berharap kisah ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa benda-benda yang memudahkan kehidupan manusia ternyata dapat menimbulkan dampak yang tidak terduga bagi hewan-hewan kecil di laut.
Di sisi lain, peneliti juga mengaku kagum dengan kemampuan bertahan hidup kepiting tersebut, yang berhasil hidup selama berbulan-bulan di ruang sempit hanya dengan memanfaatkan makanan yang tersedia di dalam penjara plastiknya.





