Banyuwangi, tvOnenews.com – Kekayaan alam yang dimiliki Kabupaten Banyuwangi memang tidak ada habisnya. Selain destinasi wisata alamnya yang indah, di kabupaten ujung timur Pulau Jawa ini juga terdapat satu-satunya rumah pusat penetasan telur penyu buatan di Indonesia, bahkan di dunia. Pasalnya, rumah penetasan ini memiliki kapasitas menampung hingga 20 ribu butir telur penyu.
Banyuwangi Sea Turtle Foundation (BSTF) adalah inisiator sekaligus pengelola fasilitas konservasi mutakhir ini. Sejak didirikan pada tahun 2011 hingga saat ini, BSTF atau Yayasan Penyu Banyuwangi dimotori oleh Wiyanto Haditanodjo yang tetap konsisten mengelola yayasan non-profit tersebut.
Tak heran, BSTF selalu menjadi garda terdepan dalam menyelamatkan reptil laut purba tersebut dari ancaman kepunahan.
“Setiap musim penyu bertelur tiba, BSTF berhasil menyelamatkan puluhan ribu butir telur untuk kemudian ditetaskan dan dilepasliarkan kembali ke samudra luas,” ungkap pria yang akrab dipanggil Wiwit ini, Kamis (9/7/2026).
Keberadaan pusat penetasan ini menjadi sangat vital mengingat posisi geografis Banyuwangi yang unik. Antara bulan Februari hingga Agustus, pesisir Banyuwangi kerap menjadi tujuan kawanan penyu untuk bertelur.
“Banyuwangi menjadi satu-satunya kabupaten di Indonesia yang menjadi habitat pendaratan 4 jenis penyu sekaligus dari total 7 spesies yang ada di dunia. Ada Penyu Hijau (Chelonia mydas), Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea), Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) dan Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea),” beber Wiwit.
Membiarkan telur penyu menetas secara alami di pantai, tambah Wiwit, kini menghadapi risiko kegagalan yang sangat tinggi. Di alam liar, potensi kematian embrio maupun tukik (anak penyu) dipicu oleh banyak predator alami serta aktivitas manusia.
Saat ini, ancaman baru yang jauh lebih mengerikan bagi reptil laut purba ini adalah pemanasan global (global warming). Suhu pasir yang semakin panas akibat perubahan iklim memicu fenomena ketidakseimbangan jumlah penyu jantan dan betina. Suhu tinggi menyebabkan mayoritas telur menetas menjadi penyu berjenis kelamin betina.
"Secara biologis, rantai reproduksi penyu sangat unik. Untuk bisa memproduksi telur yang subur, satu penyu betina membutuhkan pembuahan dari 4 sampai 6 penyu jantan," ungkapnya.
Jika tren kelahiran didominasi betina akibat suhu bumi yang memanas, maka penyu akan kesulitan melakukan regenerasi di masa depan dan dapat mempercepat kepunahan. Untuk mengatasi masalah kritis tersebut, BSTF memindahkan telur-telur dari pantai ke sebuah ruang khusus yang dinamakan Ruang Intan (Incubation Tank/Ruang Penetasan). Selain terhindar dari predator, di dalam ruangan terkontrol ini suhu dan kelembapan diatur sedemikian rupa agar rasio kelahiran antara penyu jantan dan betina tetap seimbang.
“Kami sudah berkali kali menjalani penelitian ilmiah dari Universitas Airlangga (UNAIR), ruang Intan ini sudah menetaskan ratusan ribu telur dan dari hasil riset menunjukkan probabilitas atau tingkat keberhasilan hidup telur penyu yang ditetaskan mencapai 85%-87%,” tambah Wiwit.
Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan tingkat keberhasilan penetasan alami di alam liar yang rentan mengalami kegagalan. Hal ini menjadi harapan baru bagi kelestarian penyu di dunia. (hoa/gol)




